Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

Qadarullah, Semua Karena Cinta-Nya

Setiap manusia terlahir dengan kisahnya masing-masing. Kisah tersebut kadang seperti di negeri dongeng, terlalu sempurna, terlalu tragis, terlalu penuh ratapan, atau lainnya. Yang pasti, semua tak luput dari ketentuan-Nya (Rezeki, Ajal, Amal, serta Kebahagiaan dan Kesedihannya -HR. Bukhari dan Muslim).
Ada satu kisah tentang 2 anak manusia yang ditakdirkan saling mengenal. Mungkin sebenarnya mereka sudah kenal pribadi masing-masing sebelum masa itu, tapi Allah ingin mereka mengenal satu sama lain dalam momentum yang berbeda. Panggilan kebaikan di hati masing-masing cenderung tak terbedung. Kegelisahan melihat dan merasa prihatin atas kondisi interaksi 2 jenis manusia saat ini menggerakkan diri masing-masing untuk berproses dan bertekad memperbaiki kondisi dengan cara menggenapkan separuh agamanya. Mereka bukan tak kenal sebelumnya, mungkin sudah pernah berinteraksi, atau sekadar mendengar sikap dan sifatnya dari orang terdekat, atau bisa jadi sebenarnya mereka sudah bertegur sapa saling melempar senyum di lauhul mahfudz sana. Yang pasti keduanya hanya menjalankan apa yang sudah Allah skenariokan di kehidupannya masing-masing. Sebut saja usaha mereka itu dengan ta'aruf.
Dari forum ta'aruf ini, bukan sesi final dimana akhirnya mereka akan bersatu. Justru ini baru awalan, jika memang kedua pihak setuju (begitu juga keluarga besar) insya Allah berakhir sesuai harapan. Namun, apabila ada hal-hal yang dirasa berat dan sulit dikondisikan ini berarti harus sama-sama ikhlas dan dewasa untuk melepaskan. Pada prinsipnya, Allah akan memudahkan segalanya jika memang dia takdir bagi diri kita. Dan Allah juga yang akan mendesain sedemikian rupa kondisinya jika memang bukan yang terbaik untuk diri kita. Bukan hal yang sulit bagi Allah untuk mendekatkan orang-orang yang berjodoh, dan bukan hal yang sulit pula menentang atau menjauhi orang-orang yang tidak ditakdirkan bersatu.
Setelah menempuh beberapa tahapan dalam proses tersebut, keduanya menemukan kondisi dimana tak ada lagi yang dapat diupayakan kedua pihak untuk merealisasikan keinginan tersebut. Tuntutan dan harapan dari keluarga masing-masing menjadi pengganjal waktu itu. Sedangkan 2 insan ini, adalah sosok yang menyayangi keluarga. Hingga pada satu titik mereka menyadari bahwa jodoh itu berada di tangan Allah. Sebagai manusia kita hanya diperintahkan untuk berupaya menjemputnya lewat jalan yang baik, karena pernikahan merupakan ikatan yang suci (kekuatan ikatannya setara dengan perjanjian antara Allah dengan para Nabi), maka harus ditempuh dengan cara yang suci pula.
"Ketika sepasang manusia ditakdirkan untuk berjodoh, maka Allah akan melakukan berbagai cara untuk mempersatukan mereka. Namun apabila belum berjodoh, mau dibantu (meyakinkan) oleh orang se-RT bahkan se-Desa sekalipun Allah tak akan membukakan jalannya", demikian yang coba disampaikan oleh pria tersebut.
Keduanya diberi waktu untuk mengambil keputusan terbaik dibawah arahan dari guru ngajinya masing-masing. Dan sejujurnya di antara mereka pastilah tak ingin proses ini berakhir dengan ketidaksesuaian. Hingga akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk mengakhiri proses ini dengan baik. Keduanya mencoba untuk berlapang dada, mungkin inilah cara Allah menakdirkan mereka untuk saling mengenal lebih jauh pribadi dan keluarga masing-masing. Apapun yang diketahui dari proses kemarin, itu adalah amanah bagi diri masing-masing. Haruskah memendam rasa kecewa atau trauma? Tentu tidak jawabannya.
"Jika Allah berkehendak, Allah akan mempertemukan kita kembali sesuai dengan keinginan kita. Kita sama-sama diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Apabila suatu saat nanti kau temukan sosok yang sholih, mohon untuk tidak menolaknya. Siapa tahu dialah takdir jodohmu", demikianlah pesan terakhir yang pria tersebut sampaikan. Mereka bersepakat maksimal 2 tahun kemudian jika memang ada rezeki untuk bersama, salah satunya akan kembali.
Waktu berganti seiring bergantinya siang dan malam. Terhitung 4 kali sudah pergantian musim. Kehidupan mereka kembali seperti semula, tak ada tegur sapa apalagi ikhtiar untuk berbagi kabar. Karena kini di antara mereka sudah tak ada lagi ikatan apa-apa. Mereka hanya bagian masa lalu bagi yang lain. Dan ada amanah yang masih harus dijaga sampai kapanpun. Ah, mungkin bagi kaum pria hal ini mudah untuk dilupakan. Apakah hal itu juga yang dapat diatasi oleh kaum perempuan?
Ketika hati mulai tergerak kembali untuk mewujudkan cita-cita mulia itu, perempuan tadi mencoba meminta fasilitator kembali untuk bertanya bagaimana kondisi pria tersebut. Saat itu, yang didapat adalah penjelasan ke-belum-siap-an dari pihak prianya.
Baiklah, itu tak menjadi masalah artinya bagi perempuan ketika ada laki-laki sholih lain yang datang memintanya. Meskipun tak dipungkiri, sisi subjektif yang mengagumi kesempurnaan sosok yang pernah dikenalnya itu masih ada. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa mungkin di luar sana ada kekuatan yang Maha Dahsyat, yang menggetarkan arsy-Nya, yang didengar dan dijaga oleh Allah, yakni doa sosok lain yang ingin bersatu dengan kita. "Ketika kita tidak bersatu dengan orang yang sering kita sebut-sebut dalam doa kita, yakinlah bahwa akan menyatukan kita dengan orang di luar sana yang memohon-mohon pada Allah untuk dipersatukan dengan kita".
Semua berproses seiring perjalanan waktu. Begitu pula keduanya, mereka berupaya menjemput jodohnya dengan caranya masing-masing. Dalam ikhtiar tersebut, pastilah mereka berharap takdir terbaik kini berpihak padanya. Qadarullah!  Karena kuasa Allah tibalah pada satu waktu yang terbaik bagi keduanya. Mereka berjodoh, di waktu yang sama namun dengan takdirnya masing-masing. Semua itu karena bentuk Cinta dan Kasih sayang Allah pada hamba-Nya.
Jodoh adalah tentang seseorang yang tepat, di waktu yang tepat.

Senin, 18 Juli 2016

Jodoh dari Allah (part 1)

Siapa yang tahu?
Kita hanya diperintahkan oleh-Nya untuk berikhtiar sebaik mungkin, agar mendapatkan seperti yang dituliskan pada QS An-Nur ayat 26:
“… wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”
***************************************************************************************
Dalam suatu perjalanan yang ditempuh kurang lebih selama 3 jam, aku tak menemui seorang kawan yang duduk bersama. Dalam hatiku saat memasuki stasiun kereta, kemungkinan akan ramai karena sudah mendekati waktu ‘mudik’. Maklumlah, mereka bernasib sama seperti diriku yang mencoba menggantungkan kehidupan lahiriah-ku di perantauan. Sehingga momentum Hari Raya menjadi suatu yang dinantikan untuk dapat berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara.
Setelah melakukan proses check-in, saya mampir ke mushala untuk mengambil air wudhu. Maklumlah karena keberangkatan pada waktu sholat, jadi agar tak khawatir dan ribet harus mengambil wudhu di toilet kereta, pikirku. Tak berlama-lama, aku bergegas menuju peron kereta karena saat kulihat jam tangan sudah mendekati waktu keberangkatan.
Begitu memasuki kereta, amazing! Barang bawaan mereka sangat banyak, sedangkan aku hanya membawa ransel dan plastik titipan barang-barang lebaran untuk orang tua di rumah dari kakakku yang sempat dititipkan tadi sebelum keberangkatan. Karena belum terlihat tanda-tanda ada yang menduduki bangku di sebelahku, dengan santai ku tata barang bawaanku agar tak mendzolimi orang lain. Tak terasa, kereta pun perlahan meninggalkan peron pemberhentian. “Hmm.. nampaknya tak ada yang duduk di sebelahku”, gumamku dalam hati.
Sebelum akhirnya kereta menaikkan penumpang dari stasiun selanjutnya, aku bergegas melaksanakan shalat dzuhur. Sampai di stasiun selanjutnya, ternyata tak juga ada yang menduduki bangku sebelahku, akhirnya aku bergeser ke dekat jendela lalu membaca beberapa lembar ayat Al- Qur’an.
Perjalanan mengantarkanku melintasi beberapa kota dari Jakarta menuju Cirebon. Sungguh luar biasa dengan adanya transportasi memudahkan orang untuk berpindah dari suatu daerah ke daerah lain hanya dalam hitungan jam. Ketika sampai di Stasiun Haurgeulis (Indramayu), barulah aku terkaget karena ada seorang petugas pengamanan kereta api yang mengantarkan seorang Bapak-Bapak tua dan duduk di sampingku. Karena aku mulai lelah dan mengantuk (karena 2 malam terakhir istirahat yang kurang baik), akhirnya aku memilih untuk tidur.
Ketika terbangun, aku masih canggung untuk memulai pembicaraan. “Apa juga yang harus kubicarakan dengan Bapak Tua yang berpakaian ala ulama di sampingku ini. Salah-salah bisa-bisa aku diberi ceramah panjang lebar :-D”
Nampaknya, Bapak Tua di sampingku membaca gelagat ku dan Beliau memulai pembicaraan dengan menanyakan identitasku dan melontarkan ayat Al-Qur’an tentang perintah untuk saling mengenal sesama umat muslim (QS. Al-Hujurat: 13).
Percakapan antara kami berdua mulai meluas, hingga di satu titik menanyakan tentang tujuan perjalananku siang hari ini. Lalu aku katakan, “dalam rangka mudik lebaran”. Kemudian Pak MA (inisial aja yak), mengingatkan saya akan aturan bepergian bagi seorang muslimah yang di antaranya harus disertai dengan mahromnya. Sungguh, aku tak bisa bicara apa-apa. Dalam hatiku langsung “duk”, berasa ada yang nyangkut gitu. Apalagi dengan diberondong pertanyaan berikutnya seputar ‘jodoh’.
Bagiku, perkara jodoh bukanlah dia yang hanya sesuai dengan ekspektasi ku. Itu sudah aku kubur dalam-dalam begitu aku sadar bahwa jodoh juga berkenaan dengan ridho orang tua (karena di dalamnya pasti ada ridho-Nya). Maka ketika ditanya, “kenapa belum menikah sampai usia saat ini?”, ya dengan kesadaran hati aku jawab, “Aku bukan hanya mencari pasangan buat diriku, tapi juga seorang imam yang bertanggung jawab sepenuh hati atas diriku, anak bagi orang tuaku, ayah bagi anak-anakku kelak, adik bagi kakakku, dan kakak bagi adik-adikku. Dan aku masih berharap, dengan kehadirannya mampu membawa perubahan keluargaku yang lebih baik. Aamiin..”.
Seketika, Bapak tersebut mengucap hamdalah, karena saat ini masih menemukan sosok sepertiku. Di tengah maraknya beragam kenakalan remaja dan ke-egois-an anak-anak yang minta berjodoh dengan seorang yang dicintainya tanpa mengingat restu orang tua. Kemudian, diluar dugaan aku Beliau mendoakan agar kelak aku mendapatkan jodoh yang memang benar-benar Allah swt gariskan untukku (AAMIIN….)

to be continued

#train #mudik #IdulFitri1437H

Jumat, 22 April 2016

24 Bersemi (BERharap SEgala iMpian Indah *pada waktunya*)

Membuka mata pertama kalinya di hari ini, ternyata sudah ada yang menyisipkan doa nya tepat di pukul 00:00 WIB. Terima kasih atas nikmat ukhuwah yang telah Engkau berikan kepada saya hingga detik ini. Inikah berkah robithoh yang selalu terpanjatkan antara saya dan adik-adik binaan saya? Selepas membaca dan membalas ucapan tersebut, saya kembali melanjutkan tidur saya karena jam masih menunjukkan sekitar pukul 02:30 WIB.
Menjelang Subuh, saya kembali terjaga. Bersyukur saya masih diberi kesempatan menikmati indahnya alunan adzan Subuh. Sayang, hari ini saya tak bisa bermunajat padamu dalam sujud panjangku. Bagiku, hari ini bukanlah hari yang istimewa apabila syukurku terhenti dan tanpa adanya do'a-do'a dari orang terkasih (keluarga). Bapak dan Ibu tak pernah lupa akan hari ini, ucapan itu selayaknya lebih layak disandingkan untuk perjuangan kalian. Perjuangan penuh makna dan keikhlasan, tak pernah memperhitungkan tenaga, waktu, dan pikiran. Yang telah sabar menjaga dan mendidik saya sampai usia 24 tahun. Tak banyak yang saya dedikasikan kepada mereka, bahkan di detik-detik seperti ini pun saya masih merepotkan mereka. Dibilangnya saja saya sudah berpenghasilan, namun nyatanya sejauh ini semua itu (mungkin) hanya saya nikmati seorang diri. Tapi, sedikitpun tak pernah saya lihat mereka mengeluhkan itu di hadapan saya. Semoga keberkahan dan rahmat Allah mengiringi langkah Ibu dan Bapak.
Selanjutnya, satu per satu rekan-rekan terdekat mengirimkan ucapan selamat, doa, dan nasihat. Saya bahagia dan haru, menemukan kalian semua di dunia perantauan. Kalian bukan cuma sekadar teman, tapi juga keluarga bagi saya di kota perjuangan ini. Memasuki usia saya saat ini, banyak sekali kejutan kehangatan yang Engkau hadirkan di tengah-tengah saya. Mereka, mungkin belum terlalu mengenal jauh pribadi saya yang seperti apa tapi mau menerima kehadiran saya dalam hidupnya. Terima kasih, terima kasih atas kehangatan dan kelembutan yang kalian berikan.
Tak ada yang patut saya keluhkan, karena Tuhan telah menjamin segalanya sampai detik ini. Tinggal bagaimana saya mampu menghadirkan rasa qana'ah, mengelola setiap jengkal langkah yang saya lewati agar menjadi sebuah nilai pengetahuan, pengalaman, dan hikmah yang kemudian harus saya teruskan kepada orang-orang di sekitar saya, agar mereka pun merasakan keberkahan dari keberadaan saya.

Mengenai resolusi?
Saya tak mau menyebutnya ini sebuah resolusi, saya lebih memilih menyebutkan sebagai proyeksi kebaikan yang akan saya ukir di usia saat ini.
Secara sadar, perlahan namun pasti saya harus dewasa dan bijak dalam meninggalkan zona kenyamanan. Ya, kampus bagi saya merupakan zona nyaman untuk berakselerasi. Tapi, sudah saatnya kita untuk tumbuh dan mewarnai dunia luar sana. Dalam hitungan hari ke depan, saya harus siap dengan suasana dan kawan-kawan baru. Menemui dan membentuk lingkaran-lingkaran baru di luar sana. Karena dakwah merupakan sebuah keniscayaan yang mengubah dari sesuatu yang belum baik menjadi kebaikan.
Untuk mencapai tahapan selanjutnya, saya pun harus memberanikan diri mengambil resiko dari keputusan yang telah saya ambil dan jalani sejauh ini. Saya harus siap memasuki gerbang kehidupan yang selanjutnya. Semoga Allah ridho dan membukakan kemudahan-kemudahan jalan menuju kesana. Semoga itu tercapai di tahun ini.
Melanjutkan dakwah dengan diperkuat oleh organ-organ lainnya, memperdalam ilmu agama lebih serius lagi, agar kelak mampu mencetak generasi-generasi cerdas yang berakhlaq islami berwawasan luar negeri. (Aamiin)

Jumat, 04 Maret 2016

Sudut Penantian

“Kita tak kuasa memilih, akan dengan siapa kelak mengakhiri penantian ini. Tapi kita bisa mengupayakan untuk mengakhiri penantian ini dengan cara yang baik”
Aku masih setia menantimu di sudut ruangan khayalku. Membayangkanmu lewat celah jendela imajiku. Melempar senyum padamu, saat engkau menari di tengah derasnya hujan di luar sana. Aahh.. sayangnya itu hanya ada dalam imajiku. Tapi aku yakin, bukan hanya aku yang mulai resah dengan kondisi seperti saat ini. Aku bukan tak mampu untuk mengambil keputusan, atau bahkan tak yakin dengan apa yang kumiliki saat ini.
Kadang memang keinginan tak selalu harus terwujud sesuai dengan harapan. Adakalanya kita harus bersabar, untuk menyempurnakan beberapa keping puzzle yang terserak di bumi Allah ini. Kadang kita harus berpikir untuk menelisik misteri teka-teki Sang Illahi. Tapi satu hal yang aku yakini sampai detik ini, bahwa skenario-Nya selalu lebih indah dari apa yang kita rencanakan.
Aku sepakat dengan sebagian orang, bahwa menunggu adalah hal yang paling tidak mengenakkan. Tak ada yang suka, apalagi dalam sebuah ketidakpastian. Tapi aku memilih untuk mengurai ketidakpastian itu menjadi sebuah keniscayaan, dengan cara menikmati setiap detik yang Allah berikan padaku untuk terus memperbaiki diri.
Berpetualang ke belahan bumi Allah yang belum sempat dikunjungi, mendalami ilmu Allah yang maha luas, memprioritaskan keluarga di atas segalanya, serta menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, itulah jalan yang aku pilih untuk mengisi masa-masa penantian itu. Karena aku yakin, ketika aku berusaha untuk memperbaiki diri dalam penantian ini, kamu pun di sana sedang melakukan hal yang sama.

Seketika, aku tersadar dari lamunan. Masih ditemani rintik hujan, suara adzan maghrib, dan kesendirian..

Selasa, 03 Juni 2014

Bogor: Kota Sejuta Cerita, Beribu Impian (Bagian 1)

Tak terasa, hampir 4 tahun sudah diri ini menitipkan dan mengarungi kehidupan dalam euphoria dan hiruk-pikuk kota Bogor. Ya, mungkin ini adalah skenario terbaik yang Allah berikan. Berkat do'a dan dukungan dari orang-orang tersayang, akhirnya melalui jalan beasiswa ini saya mulai menapaki jalan panjang kehidupan di kota Bogor, tepatnya di Institut Pertanian Bogor dan sekitarnya.

Mimpi,
Semua orang boleh bermimpi. Dan ini salah satu mimpi liar yang waktu itu terus menggelayuti kelopak mata saya di akhir-akhir masa SMA. Rasanya begitu dekat, tepat di depan mata saya. Maka, sekuat tenaga pun saya coba untuk mewujudkannya. Sikap keras kepala dan melankolisku saat itu datang silih berganti. Ditentang orang tua, hanya bisa menitikkan air mata, kembali mencari dukungan kesan-kemari dan... ya, tak ada yang dapat menandingi kuasa-Mu ya Rabb.. Engkau mengirimku ke negeri dimana tak ada sanak saudara disini, tempat dimana semua nampak asing dan menyedihkan di awal-awal waktu. Tapi saya harus kuat, karena kini mimpi itu harus saya uraikan satu per satu menjadi sebuah kenyataan.

Bogor: Kota Sejuta Cerita
Bermula dari kehidupan asrama TPB IPB, disana saya dapat merasakan atmosfer nusantara dan persaingan sesungguhnya. Mereka adalah kawan senasib dengan saya, yang sedang mencoba keberuntungan di tengah kerasnya kehidupan IPB. Ada gurat rindu, nampak jelas pada wajah-wajah kami. Tapi, semua itu berubah kala akhir pekan tiba, ada gurat-gurat senyum bahkan canda terdengar dari sisi dinding atau bilah jendela. Ah.. begitu penuh perjuangan.
Di antara kami pun ada yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi organisatoris, ada juga yang murni jadi students, tak jarang pula yang hanya jadi cheersleader #lho?
Begitu masuk ke jurusan, ini berasa jungle yang sesungguhnya. Persaingan hebat terjadi disini. Menyaksikan berbagai rupa-rupa usaha yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk dapat bertahan di kampus pertanian ini mulai bermunculan. Mata lebam (efek kurang tidur), pergaulan yang berkotak-kotak, konflik antar geng, walk out of the class karena mengantuk atau bosan mendengarkan dosen *tapi jangan dicontoh yaa! Itu rupa-rupa kelakuan teman-teman dan saya (mungkin). Namanya bergulat dengan laporan, sudah menjadi hal yang lumrah, berebutan waktu tidur dengan deadline laporan, wajar begitu adanya. Tak jarang akhirnya hanya tidur dua jam karena harus googling dan menuliskan lembar demi lembar laporan praktikum, namun besok paginya harus sudah duduk manis di kelas dari pukul 7 pagi sampai pukul 5 sore (paling cepat).
Masa-masa jadi mahasiswa sesungguhnya adalah saat menjalani fase Kuliah Kerja Profesi (KKP). Disanalah kami belajar yang sesungguhnya, hidup bersama masyarakat, berinteraksi langsung dengan petani, koordinasi dan advokasi, mentransformasi materi-materi yang selama ini diperoleh di kelas dengan kondisi sebenarnya yang terjadi di masyarakat. Dan itu ternyata sulit! Posisi sebagai MAHAsiswa itu berasa berat banget pertanggungjawabannya. Seolah kami ada solusi dari semua permasalahan pertanian disana, ada juga yang memilih untuk tidak percaya pada kami karena kami hanya anak kemarin sore
yang gak paham kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Kurun waktu 2 bulan itu bagi saya merupakan masa yang panjang, namun tidak produktif  >.<
Memasuki masa-masa tugas akhir, mulai tampak geliat bingung, pusing, dan rupa-rupa ekspresi wajah lainnya lantaran gak berani ketemu dosen, semangat ketemu dosen cuma suka malas kalau ujung-ujungnya masih terus disuruh baca dan cari referensi tambahan, bingung menentukan topik penelitian dan metode yang dipakai, ada juga yang biasa-biasa aja menikmati masa-masa semester akhir bahkan ada juga yang melenggang kangkung karena semua hal yang berkenaan dengan penelitiannya sudah jelas terarah.
Kalau masa penelitian sudah selesai, tantangan terberat adalah menuliskan apa yang kita dapatkan dan mengaitkan dengan teori-teori 'canggih' hasil temuan atau studi sebelumnya. Kalau kata dosen, "S1 itu gak masalah kalau bukan merupakan temuan baru penelitiannya, yang penting ada nilai tambah dari skripsi yang ditulis dibanding skripsi sebelumnya". Tapi yang harus kita sadari disini adalah terdapat berbagai tipe dosen, dari yang perfectionist sampai yang cuek abis ^^v
#NgejarDeadline #NgejarTarget #NgejarDosen adalah kegiatan hari-hari..
Ke komdik departemen lagi, ngurus administrasi lagi, daaann.. itu semua hanyalah awalan sebelum kamu memasuki dunia yang sesungguhnya. Ada beban moral tersendiri rasanya, ketika kelak menyandang gelar Sarjana Pertanian (karena kalau kata dosen kan "Kamu lulus sebagai sarjana pertanian, dan orang gak mau tahu meski kamu sebenarnya cuma mendalami salah satu atau salah dua dari komponen pertanian tersebut)". Saat menulis ini, saya jadi teringat kata-kata mujarab berikut.
"Bicara pertanian, berarti bicara hidup matinya seseorang" (Beuh.. berat bro..)

Selain itu juga pasti ada tuntutan lebih dari keluarga, khususnya orang tua saat kita sudah menyandang gelar sarjana. Itu mutlak kayaknya.
Kini, fase yang ada di zona nyaman itu akan segera berakhir (Aamiin). Menyandang status sebagai mahasiswa memang status paling mujarab, paling menyenangkan, dimana kami dapat melewati hari-hari dengan penuh diskon buku-buku khusus, dapat bereksperimen, berargumen, atau ngamen sekalipun *LOL, bisa kumpul-kumpul sama temen, nonton dan hangout, berorganisasi, dapat beasiswa plus uang saku dari orang tua (meski udah 20 tahun usianya rata-rata), dan banyak deh kenikmatan jadi mahasiswa.

Tapi.. semua itu harus diakhiri karena ada tantangan zaman yang harus segera dijawab.

Minggu, 29 September 2013

Merajut Sebuah Ukhuwah Lewat Jauhnya Perjalanan Bogor-Banten



Bismillahirrahmanirrahim..
Siang itu, setelah mengalami lelahnya pencarian kawan yang dapat menemani perjalanan aku memutuskan untuk mengarungi perjalanan silaturahim ini seorang diri. Dengan sangat menyesal karena tak banyak yang dapat turut dalam agenda luar biasa ini dan suasana hati yang penuh was-was karena harus menempuh perjalanan jauh seorang diri (padahal seorang akhwat), akhirnya perjalanan itu dimulai dari pukul 14.15-17.20 WIB.

Perjalanan yang semula lancar-lancar saja, begitu memasuki kawasan Jakarta rupanya agak sulit untuk menghindari yang namanya KEMACETAN. Yup.. hampir 1 jam sepertinya mobil bis yang saya naiki hanya berjalan maju sedikit demi sedikit. Nampak sekali bahwa Jakarta telah overload capacity untuk di bidang kependudukan. Bahkan seketika saya jadi teringat mata kuliah yang baru saja disampaikan sesaat sebelum keberangkatan ini. Yakni tentang luas tanah terbangun di Jakarta yang dulu hanya sekitar 30% dari luasan, kini sudah hampir seluas Jakarta itu yaaa lahan terbangun. Maka tak heran jika Jakarta semakin padat, semakin panas, semakin tak karuan. Karena mungkin ada ketimpangan sosial dengan daerah-daerah lainnya.

Dalam perjalanan ini, aku hanya ditemani oleh sebuah buku yang bisa dibilang KUNCI JITU tiap mau ngasih materi di acara-acara Keakhwatan, juga sebuah mushaf yang selalu aku bawa kemana-mana karena ukurannya yang kecil dan ringan.

Aku memang belum tahu lokasi pasti tujuan ku siang hari itu, aku hanya berbekal petunjuk arah yang diberikan oleh saudara-saudara seiman dan perjuanganku di seberang sana (yang kelak akan kutemui). Ya,, katanya aku diminta bilang ke kondektur bis nya untuk diturunkan di sebuah Kampus, yang bernama UNTIRTA.

Subhanallah.. Setelah menempuh perjalanan jauh, sekitar pukul 17.20 WIB aku mendarat di depan kampus peradaban ini. Masih terlihat banyak mahasiswa dengan aktivitasnya masing-masing. Aku pun segera mengabari saudara-saudara disini terkait kedatanganku. Seketika seorang akhwat mengendari sepeda motornya dari kejauhan memberikan sebuah senyuman hangat dalam menyambut kedatanganku. Dialah yang bernama Resti. Lalu membawaku langsung ke mesjid kampus untuk beristirahat sejenak, yakni Mesjid Baabussalam. Di sanalah terbangun sebuah percakapan hangat, sambutan, dan momen ta'aruf yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dari sini aku mengenal saudara-saudara yang lain yakni Kifah, Siti, Churir, dll (lupa satu-satunya, efek usia).

Adzan maghrib pun berkumandang, kami segera bergegas memenuhi panggilan Allah SWT. Dengan penuh ketawadhuan, kami rukuk dan sujud bersama. Tak pandang kaya miskin, tua muda, kalau namanya sudah shalat berjamaah semuanya sama. Jadi teringat suatu kalimat bahwa "kedudukan manusia di hadapan Tuhan sama, yang membedakan adalah keimanannya".

Ba'da isya barulah aku diantar ke rumah salah seorang akhwat untuk beristirahat ditemani oleh Kifah dan teman 1 kamarnya tuan rumah, yakni Titik. Malam itu, aku hanya berharap agar apa yang disampaikan oleh aku di acara tersebut adalah kebenaran yang datang dari-Nya.
Dinginnya pagi membangunkan aku dari lelapnya tidur malam ini. Seperti biasa, setelah berdoa, ku lihat jam. Ternyata sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Meski dingin, ku paksakan diri menuju kamar mandi untuk mengambil wudlu lalu tahajud. Aktivitas pagi ku lalui seperti biasanya hingga waktu menunjukkan pukul 8.15 barulah aku dinatar ke tempat acara berlangsung.

Subhanallah aku disandingkan dengan pemateri yang luar biasa.. Seorang juara World Muslimah (Teh Dika Restiani) dan seorang ibu kreatif; desainer baju muslimah "Qirani" yaitu ibu Devi. Mereka tentunya jauh lebih segalanya dari aku. Dari segi penampilan dan pengalaman, juga tentunya usia. Sempet minder sih, tapi bismillah... aku akan sampaikan apa yang menjadi kewajibanku dan sesuai dengan kapasitasku. Selama kurang lebih 1,5 jam disandingkan bersama mereka. Membahas tentang berjilbab syar'i namun tetap diterima di masyarakat, kami mendapat pertanyaan-pertanyaan luar biasa. Sayang, yang dapat menikmati itu semua hanya diriku dan orang-orang yang ada di situ. Padahal banyak pengalaman yang dapat diambil ketika teman-teman yang lain mengikutinya.

Betapa terkejut ketika di peghujung acara, mendapat banyak bingkisan dan buah tangan dari paniti. Sesungguhnya aku masih ingin berlama-lama disini. Karena ukhuwah seyogianya tidak dapat ditukar dengan materi atau bahkan dikalkulasi dengan angka-angka. Namun sayang, aku harus segera kembali ke kampus untu menunaikan amanah yang lain.

"Terima kasih atas ukhuwah yang terajut meski hanya dalam waktu 1 hari. Semoga Allah mencatatnya sebagai bekal perjuampaan di jannah-Nya kelak..."

Kamis, 26 September 2013

Nikmati Prosesnya, Maka Kau Akan Menuai Hasilnya

Dalam ruangan yang terasa begitu sunyi, senyap.. Sesuai dengan kondisi hati ku kala itu, yang mungkin entah sedang merasakan satu kejenuhan atau butuh charger semangat yang jauh lebih dari biasanya. Pekan ini, aku memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuat diri ini cepat merasa jenuh dan lelah. Tapi ternyata itu semua tak dapat terbantahkan. Setelah mengikuti seminar proposal salah seorang kakak tingkatku di departemen, aku merasa sangat tertegur. Belum lagi dibantai satu pertanyaan yang cukup menyesakkan hati oleh dosen pembimbing. Alhasil aku memutuskan untuk menemui beliau setelah jam kuliah hari ini selesai.

Suasana ruangan itu begitu hening, dengan penuh keberanian aku paksakan tubuh ini untuk duduk di hadapannya. Meski sebenarnya di dalam fikiranku tak ada yang disiapkan sebelumnya. Alangkah terkejutnya diri ini, ketika ternyata dalam ruangan itu terdapat momen yang sangat luar biasa..

"Nikamati prosesnya, maka kau akan menuai hasilnya.."
Kalimat tersebut merupakan inti dari percakapan kami di ruangan tersebut. Seketika hati ini menjadi tenang, ketika beliau dengan penuh sifat ke-ibu-annya mengingatkanku akan satu kekuatan yang tak dapat tertangkap oleh akal fikiran manusia karena tak lain itu adalah kekuasaan-Nya. Kekuatan itulah yang disebut DOA..

"Mungkin banyak orang yang melupakan satu kekuatan besar yang dapat menolongnya dalam kondisi yang tak lagi dapat diterima oleh akal manusia. Termasuk masa-masa akhir studi di kampus. Ada yang merasa sangat sulit untuk menentukan topik penelitian, ada yang sulit untuk memulainya, ada juga yang sulit menemui dosen, atau ada yang dosennya lambat dalam memberikan perbaikan. Itu semua dapat diatasi dengan satu hal yang sangat sederhana, yaitu DOA. Jangan lupa untuk mendoakan agar dosen pembimbing kita senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat, dimudahkan segala urusannya, dan digerakkan hatinya untu dapat cepat memberikan respon atas tugas-tugas akhir kita.."

Mendengar kata-kata tersebut hati dan fikiranku langsung menyalakan samangat luar biasa. Bak disengat listrik di siang bolong, kalimat tersebut menjadi cambuk penyemangat buat diri ini yang sudah berada di ujung semangat sebelumnya. Aku jadi merenung, mungkin benar bahwa aku selama ini lupa mendoakan mereka yang telah berjasa dalam mendidikku selama menempuh ilmu di bangku perkualiahan ini.

Selain mendapat wejangan kata-kata tersebut, aku juga mencoba menarik banyak kesimpulan untuk keberhasilan mahasiswa tingkat akhir..
1. Bismillah, niatkan mengerjakan tugas akhir ini adalah sebagai salah satu wujud ibadah kepada-Nya
2. Buat target, serius, dan sungguh-sungguh mengerjakannya
3. Perbanyak referensi
4. Sering-sering diskusi dengan teman kelas/sebaya, kakak tingkat, atau laboran (mungkin)
5. Jangan menghindar dari aktivitas bimbingan dengan dosen
6. Jangan juga terlalu mengandalkan dosen dalam penelitian atau revisi, karena kerjaan dosen bukan hanya mengurusi kita (mahasiswanya)
7. Dewasa, Jujur, dan Disiplin
8. SEMANGAT dalam menjalani tugas akhir, sertakan hati yang ikhlas di dalamnya agar hasil yang diperoleh juga berkah dan bermanfaat untuk orang lain.

Mungkin itulah yang bisa aku bagi.. Sekali lagi, kekuatan DOA terkadang tak dapat terjangkau secara akal namun hasilnya jauh diluar kehendak manusia. Karena Allah mengetahui kebutuhan hamba-Nya, bukan keinginan hamba-Nya.

(Dalam penantian melaksanakan penelitian)

Senin, 15 Juli 2013

KKP "The Real Contribution"

Sejak awal Juli hingga akhir Agustus nanti, mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang mayoritas angkatan 2010 sedang menjalankan Kuliah Kerja Profesi atau yang akrab disebut dengan KKP. KKP IPB ini jelas beda dari yang lain, karena berdasarkan tempat yang dipilih tentunya adalah yang memiliki basic pertanian yang masih kental dengan pertanian dan pedesaan. Sangat jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang biasa kami jalani di tempat kami menimba ilmu yakni Bogor, bahkan lebih jauh lagi jika dibandingkan dengan tempat asal kami.

KKP seperti bentukan kata asalnya, ini adalah kontribusi mahasiswa pertanian yang sesuai dengan ke-Profesi-annya. Tahun ini kegiatan KKP IPB berbeda dari sebelumnya, dimana biasanya hanya diikuti oleh 2 fakultas -Faperta dan Fema- kini diikuti oleh 4 fakultas karena ditambah FEM dan Fapet.

Kami tersebar dari mulai Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Brebes, Tegal, bahkan ada yang sampai ke Kalimantan dan ujung Aceh (Subhanallah..)
 Mengabdi sesuai dengan profesi kami masing-masing ternyata tugas yang berat. Kondisi masyarakat desa yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, kadang hanya memahami bahasa lokal, shorterm view, sulit menerima kehadiran orang-orang baru, itulah yang menjadi tantangan kami sehari-hari. Hingga kami pun harus menikmati daerah yang terisolir dari hiburan, sulitnya transportasi, dikucilkan masyarakat, masih banyak lagi.

Baru terlihat urgensi ilmu yang kami dapatkan selama di bangku kuliah itu adalah ketika masyarakat menaruh banyak harapan pada kami mahasiswa KKP di desa masing-masing agar dapat mengubah kondisi yang terjadi pada mereka saat ini. Ya, mereka berekspektasi tinggi pada kami. Begitu pun dosen kami, Beliau tak ingin dikecewakan karena telah membimbing kami hingga semester 6 kemarin. Kami sudah matang untuk dilepas ke masyarakat, pun dengan bekal KKP yang sempat diberikan kemarin (kurang lebih 1 bulan).

Ketika Lokakarya 1, sungguh aku begitu terkejut ketika dosen memberikan tugas yang begitu dahsyat berkaitan dengan KKP ini. Ternyata program yang kami buat bellum sejalan dengan tujuan KKP (Astaghfirullah..). Buat yang jurusan Ilmu Tanah, ternyata diminta membuat peta rekomendasi pemupukan, sebaran jenis tanah, dan status kesuburan tanah di daerah yang ditempati. Anak-anak Proteksi Tanaman diminta untuk menyelidiki kasus serangan Hama dan Penyakit Tanaman yang melanda daerah tersebut dari awal dan mencari upaya pengendaliannya serta mensosialisasikannya kepada para petani dengan harapan dapat mengurangi kerugian yang dialami petani. Dari jurusan Lanskap, bagaimana bisa mengoptimalkan pekarangan warga bisa berkolaborasi dengan jurusan Agronomi yang notabene mempelajari tumbuhannya. Super Dahsyat KKP ini, jadi semakin merasa belum layak untuk menjadi lulusan pertanian T.T

Mungkin sekilas tentang KKP ini dulu yang dapat aku tuliskan, selebihnya akan bersambung di cerita-cerita berikutnya..

Minggu, 05 Agustus 2012

Pagiku,
Rasanya bak disambar petir! Bukan mengada-ada atau sengaja menggunakan majas hiperbola, ini sungguhan. Ya beginilah kondisi seorang manusia yang selalu berada dalam titik ketakberdayaannya.

Padahal sudah jelas, bahwa kita harus senantiasa siap siaga menghadapi berbagai macam kondisi, mampu bertahan meski banyak amanah dan beban yang kita punya, mempunyai daya tahan yang lebih daripada yang lain. Tapi sekali lagi, semua tak selalu berjalan sesuai dengan apa yang tergambar dalam teori.

Ketika membaca sebuah pesan yang masuk pagi itu, tepat ketika aku hendak melaksanakan shalat subuh, semua seakan terhenti. Lidah ini tak dapat berkata-kata, kaki ini lemas tak dapat menopang beratnya tubuh, dan sontak mata ini menutup lantas meneteskan air mata.

"Barakallah dan selamat berjuang, ant diamanahkan menjadi bagian dari tim Puskomnas LDK Nasional. Bla.. bla.. bla....."

Aku tak dapat berkata apa-apa. Amanah ini bukan amanah yang biasa-biasa saja. Amanah ini mencakup kesejahteraan umat dan juga tonggak perjuangan Islam. Ya Rabb.. tak kuasa diri ini untuk mengembannya. Sangat jauh jika ku nilai diriku sendiri untuk dikatakan layak mengemban amanah ini. Berbagai spekulasi muncul dalam fikiranku, dan berhasil membuatku seharian merasa tidak nyaman. (maaf jika akhirnya dzolim terhadap yang lain).

Dalam fikiranku yang mendominasi adalah ucapan yang pernah keluar dari mulut ibuku, saat terakhir kali aku pulang. Memang itu semua tak ada yang salah, namun... jika dilihat dari sisi yang lain pun, ternyata lain adanya. Aku bingung ya Allah...
Jika ditulisan sebelumnya aku pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari BP-NAS JABAR dan belum tercapai, Allah telah menjawab lewat cara lain, yang jauh lebih besar dan berat. Amanah itu adalah tim PUSKOMNAS. Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un....

Sabtu, 23 Juni 2012

2 Hari Istimewa Bersama Santri Daurah Mar’atush Shalihah


Daurah Mar’atush Shalihah merupakan kegiatan semacam sekolah pembinaan untuk para muslimah yang dipersiapkan untuk menjawab tantangan dunia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Puskomda Priangan Barat yang bertempat di kampus IT Telkom Bandung. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 15-17 Juni 2012 ini diikuti oleh muslimah-muslimah pilihan dari masing-masing kampus di Jawa Barat.
Setelah beristirahat di penginapan, pagi hari tanggal 16 Juni 2012 para peserta dipandu oleh panitia untuk menuju aula politeknik Telkom untuk mulai mengikuti rangkaian acara. Diawali dengan sarapan bersama dan saling berta’aruf, alunan nada-nada nasyid mulai meramaikan aula. Acara yang mengangkat tema “Menjadi Muslimah Pengukir Sejarah Peradaban”, di hari pertama menghadirkan pembicara-pembicara yang luar biasa. Materi pertama adalah Karakter Muslimah Haraki yang disampaikan oleh Ibu Murni (salah seorang staff pengajar di IT Telkom). Dan materi kedua adalah Menjadi Muslimah Kontemporer yang disampaikan oleh Ibu Hj. Salmiah (penyaji materi kemuslimahan di radio MQ).
Mepertahankan, menegakkan agama Allah adalah kewajiban kita. Maka dibutuhkan kontribusi nyata disini, bukan hanya sekadar perencanaan. Masalah yang dihadapi kampus dari tahun ke tahun tak pernah berubah, JUMLAH KADER dan MILITANSI. Lalu dimana peran muslimah? Mengapa harus muslimah haraki?
Jawaban dari pertanyaan di atas akan diawali dengan menjawab pengertian muslimah haraki, yaitu muslimah yang menjalankan syariat Islam, mengikuti pergerakan-pergerakan Islam untuk menegakkan Islam itu di dalam masyarakat. Mengingat yang menjadi target kita adalah masyarakat, bersifat heterogen, maka cara efektif yang digunakan adalah menyentuh hatinya. Karena disini yang disentuh adalah hati, maka diperlukan KETELADANAN. Muslimah haraki dibutuhkan karena:
·     Berdakwah adalah kewajiban bagi setiap umat Islam. Karena kita adalah seorang da’i sebelum menjadi apapun. Hindari pemakluman terhadap diri sendiri yang berlebihan, kebiasaan tidak menghadiri agenda-agenda dakwah, atau forum-forum ta’lim yang diselenggarakan demi kesuksesan dakwah ini.
·       Kita bertindak sebagai Islahul Ummat (QS Al A’raf: 4-5), jangan sampai kita hanya shaleh untuk diri kita sendiri. Dan jika ingin berbagi dengan orang lain, maka penuhilah dahulu amalan-amalan yaumiyah kita.
Karakter Muslimah Haraki:
·      Al fahmu à Islam “Syamil wa mutakamil” à Internalisasi nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari
·      Memahami sunnah Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW juga mentauhidkan agama Allah
·   Memiliki ketaqwaan yang tinggi dan memegang teguh agama-Nya. Mempertahankan prinsip-prinsip yang ada pada diri kita
·         Menumbuhkan pertahanan diri yang kuat agar terhindar dari tipuan-tipuan dunia (ghazwul fiqr à demam Korea)
·         Memotivasi seluruh wanita untuk melaksanakan ajaran agama Islam
·         Mampu berinteraksi secara aktif, komunikatif, dan berdakwah lewat perilaku
·         Melaksanakan tugas dakwah dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab
·         Berfikir rasional, kritis, dan sistematik
·         Istiqomah
Manfaat muslimah haraki di masyarakat:
·         Menyadarkan para muslimah dan wanita akan perannya di masyarakat
·         Memperoleh wawasan ideal, memadai, dan selektif
·         Menghilangkan kegamangan, kepasifan, dan keengganan
·         Membersihkan pemikiran dari stagnasi pemikiran
·         Mengasah kemampuan intelektual dan kreativitas berfikir, bergerak
·         Menghindarkan diri dari kejenuhan
·         Mendidik untuk bekerja sama dalam kebaikan
·         Menjauhkan diri dari hal yang kurang bermanfaat
·         Berani beramar ma’ruf nahi munkar
·         Teratur dalam segala urusan
Persiapan untuk menjadi muslimah haroki:
1.       Persiapan ruhiyah à loyalitas (just for Allah SWT), akhlaq yang terpuji, rajin shalat malam, tilawah, dzikrullah
2.       Intelektual à wawasan keislaman yang baik, wawasan kekinian, dan memiliki keterampilan
3.       Persiapan fisik à rajin berolah raga, menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri
4.       Persiapan dana, karena setiap kegiatan pasti membutuhkan dana

Dari materi kedua (Muslimah Kontemporer) kami disajikan beberapa teladan muslimah di zaman Rasulullah seperti Khadijah, Aisyah, Asma binti Abu Bakar, As Syafa binti Abdullah, Ummu Salamah, Khansa (ibu para Syuhada) Nusaibah binti Ka’ab (wanita yang menjadi tameng Rasul di perang Uhud).
Karakter yang harus dimiliki muslimah kontemporer adalah selalu belajar, mengupgrade diri, menjaga kebersihan, memiliki inner dan outer beauty, suka berkomunikasi, memperhatikan penampilan, murah senyum, senantiasa memanfaatkan peluang dakwah yang ada, dan menjadi jalan hidayah.
Setelah dua materi didapat, peserta dibagi ke dalam beberapa kelas khusus antara lain trainer dan motivator, orator, feminisme, serta syiar dan jaringan. Di masing-masing kelas, peserta mendapat materi sesuai dengan kompetensinya, dan mendapat tugas untuk langsung mensimulasikan materi yang didapat.

Hari kedua diawali dengan munasharah Palestina di depan kampus IT Telkom selama kurang lebih 45 menit kami berhasil mengumpulkan dana kurang lebih Rp 400.000. Acara ini merupakan kompetensi yang menjadi penilaian bagi peserta kelas orator. Dilanjutkan dengan acara talkshow yang sudah di create oleh tim syiar dan jaringan, yang menghadirkan kajian tentang keputusan menterik kesehatan yang membagikan alat kontrasepsi secara gratis kepada masyarakat dengan dalih untuk mengurangi tingkat aborsi di masyarakat. Bakat-bakat peserta kelas feminisme dalam menyikapi isu satu ini sangat luar biasa. Kemudian dilanjutkan dengan training motivasi yang dibawakan oleh teman-teman kelas motivator yang sangat membangkitkan emosi dan menjadikan suasana aula IT Telkom menjadi haru biru, karena pembawaan materi yang sangat megah. Bukan sekadar simulasi, tapi totalitas.
Acara ditutup dengan makan bersama dan tukar kado cukup memberi kesan yang luar biasa. Tak cukup kata-kata untuk mengungkap semua yang dirasakan selama berada di sana. Bertemu dengan orang-orang luar biasa dan memiliki kemampuan yang memang telah pantas untuk menjawab tantangan zaman saat ini.

SEMOGA MENGINSPIRASI!!
                                                                                      

Senin, 02 April 2012

31 Maret 2012

Pagi ini aku lawan dingin dan rasa malas untuk menyusuri perjalanan yang masih gelap menuju kampus.. Ini adalah pagi yang amat berbeda bagi diriku. Saat akau tiba di kampus, SEPI... dan ku putuskan untuk membuka notebook lalu melanjukan mengerjakan laporan yang tertunda..

Rasanya,, siap tak siap ku hadapi hari yang sangat padat akan aktivitas ini, tapi ingat... Sebentar lagi usiaku menginjak kepala DUA!

Aku semakin larut dalam heningku, ketika suatu waktu ditanya apa yang sudah dan akan diri ini berikan untuk kontribusi dakwah??? Ternyata,, belum ada apa-apanya. Hingga saat ini, pertanyaan tersebut masih menjadi bayang-bayang dan TUGAS besar yang harus dipecahkan. Sekarang sudah bukan lagi remaja yang bisa uring-uringan atau menggalau dengan teman-teman, buka lagi hanya memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan orang lain terutama keluarga, teman-teman, dan orang-orang di sekitar..

Mungkin tak lama lagi aku akan menapaki tahapan selanjutnya yaitu 'membina'. Ini bukan perihal yang mudah.. Namun ini adalah keniscayaan.

Pagi ini, adalah pijakan pertama begiku dan teman-teman SALAM ISC 2012.. Taman indah tepat depan Gedung Rektorat itu menjadi saksi.. Cerahnya sinar mentari turut mewarnai awal perjalanan ini. Rasanya seperti menjadi panitia MPKMB tahap kedua, dan begitu tercengang begitu diingatkan bahwa kepanitiaan ini adalah kepanitiaan seumur hidup.. Semoga aku dapat mengemban amanah ini, karena mereka adalah orang-orang pilihan dan sekarang aku ada diantaranya..

To my Familiy.. afwan jiddan sepertinya akan tidak pulang lagi libur panjang akhir tahun ini..

Jumat, 24 Februari 2012

Merangkai Mimpi

Setiap orang tentulah mempunyai mimpi, bahkan ada yang sampai gila-gilaan dalam merangkai mimpinya. Hmm... saya rasa itu tidak masalah, karena merangkai mimpi itu gratis, hanya bermodalkan angan-angan serta alat tulis untuk menuliskan atau memvisualisasikannya agar tidak lupa kemudian hari. Dengan cara ini kita dapat mengetahui ke arah mana biduk kehidupan ini akan diarungi.

"Bermimpilah karena Allah akan memeluk mimpi-mimpimu.."

Sepenggal kata-kata yang terdapat pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata ini cukup menghipnotis saya, sehingga saya berani untuk bermimpi. Allah pun mendengar apa yang hamba-Nya minta, Allah Maha tau apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Ia selalu menjawab doa-doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Jika tidak dikabulkan saat ini, Allah akan menggantinya di masa depan, atau mengggantinya dengan hal lain yang memang itu adalah yang terbaik untuk kita.

Berbicara tentang mimpi....
Dulu, saya mempunyai impian untuk menjadi bagian dari orang-orang penting yang ada di organisasi dakwah kampus terbesar di Institut Pertanian Bogor. Hal ini dikarenakan saya ingin memecah kotak-kotak departemenisasi yang merupakan masalah klasik dalam setiap organisasi. Hal kecil ini yang tak jarang akhirnya menjadi kendala dalam melaksanakan tugas organisasi. Selain itu, saya pun menginginkan syiar dalam bentuk lain, yaitu syiar media. Meski saya harus belajar banyak hal untuk mengembangkan syiar ini, saya hanya ingin kelak syiar itu tak hanya dirasakan oleh kalangan itu-itu saja. Saya ingin syiar ini membumi dan diminati banyak orang, karena pengemasannya dalam hal yang berbeda.
Kini semua itu sedang saya nikmati. Hari-hari itu kini bukan lagi sebatas khayalan. Saya menjadi bagian dari mereka dan berusaha mengembangkan kemampuan diri saya dalam menyebarluaskan dakwah ini. Berbagai pengorbanan itu saya harus lewati. Sungguh, ketika hati ini ikhlas semua tak terasa menjadi beban. Barulah sekarang saya sadar sulitnya menjadi kader dakwah... Tapi ini adalah nikmat, tidak semua orang dipilih oleh-Nya mengemban amanah ini.
Saya merasa bangga, dengan keluarga saya di LDK Al Hurriyyah IPB. Mereka dapat menjadi inspirasi bagi saya, motivator, guru, keluarga, dan masih banyak lagi.

Tapi...
Masih bolehkah saya bermimpi??
Seiring perjalanan ini, saya mulai mengininkan bergabung dengan organisasi yang lebih besar lagi. Saya ingin menambah banyak saudara, pengalaman hidup serta ladang beramal saya. Saya ingin bergabung menjadi bagian dari keluarga FSLDK Indonesia. Saya ingin menjadi bagian dari BP-NAS. Apakah itu mungkin??

Wallahu a'lam bi showwab..

Jika memang menurut Allah saya layak untuk mengembannya, kesempatan itu akan datang pada waktu yang tepat. Believe it!

Jumat, 10 Februari 2012

My Metamorphose "from a Tomboi be a Jilbaber"

Jilbab.. kapankah saya pertama kali mengenakannya??
Jika ditanya akan hal ini, saya jadi teringat masa lalu yang ketika saya mengingatnya selalu saja membuat saya tersenyum sendiri. Kenapa?? Karena inilah metamorfosis hidup saya, yang hingga akhirnya menghantarkan saya menjadi seperti sekarang ini.
Kita semua tentulah mempunyai masa lalu masing-masing, ada yang memang masa lalu itu terasa sangat indah bahkan ada juga yang menyebutnya masa lalu kelam. Bagaimanapun kondisinya, itu merupakan sebuah perjalanan yang telah kita lalui dan baiknya kita ambil hikmah dari setiap masa-masa yang terlewati.
Saya mengenal jilbab sudah sedari kecil, sebelum masuk SD. Karena saat itu saya masuk TPA lebih dulu sebelum masuk SD. Mulai dari saat itu saya kemana-mana selalu mengenakan jilbab. Namanya juga masih anak-anak, jadi dalam berpakaian dan sebagainya masih ada keikutsertaan orang tua dalam mengaturnya. Tapi, setidaknya hal ini sudah saya biasakan dari kecil. Sayangnya, SD saya bukanlah SD islam, jadi muridnya tidak ada yang mengenakan jilbab. Alhasil saya pun tidak mengenakan jlbab di sekolah. Hal ini berlangsung hingga saya SMP.
Lagi-lagi, karena SMP yang saya masuki adalah SMP Negeri dan siswanya hanya diwajibkan berjilbab pada hari Jumat, saya pun melaksanakan sesuai peraturan. Dengan diizinkannya tidak berjilbab pada hari lain, apalagi di hari Senin karena kebetulan saya pun mengikuti ekstrakulikuler Paskibra, maka saya tidak mengenakan jilbab. Namun, suatu ketika saya dipanggil oleh seorang guru yang notabene paham terhadap agama. Kemudian saya diingatkan untuk segera menutup aurat saya, karena wanita itu adalah aurat dari ujung rambut hingga ujung jari kakinya. Setelah ditegur oleh guru itu, barulah saya mulai berjilbab di sekolah.
Entah, apa yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk terus-menerus mengenakan jilbab. Meskipun memang saat itu jilbab yang saya kenakan belum memenuhi kriteria jilbab syar’i yakni yang menjulur hingga ke bagian dada. Tapi, saya mulai merasa nyaman mengenakan jilbab. Hingga diakhir masa SMP saya memohon izin pada orang tua saya untuk mengenakan jilbab, meskipun itu di lingkungan rumah.
Memasuki masa SMA, rupanya pergaulan pun semakin beragam. Disini mulai aku melihat banyak kakak-kakak yang perempuan berkerudung panjang, yup apalagi kalau bukan pasukan Rohani Islamnya.. Bahkan saya melihat mereka mempunyai banyak teman, ramah, cantik, dan menebar rona kedamaian bagi lingkungan sekitarnya. Awalnya, saya tidak berniat mengikuti ekstrakulikuler apa pun di SMA ini, namun karena tuntutan sekolah bahwa siswanya wajib mengikuti satu ekstrakulikuler, saya pun akhirnya bergabung di dalamnya.
Eits.. tapi tidak langsung masuk gitu aja. Di awal, saya masih merasa tergiur untuk melanjutkan jejak ke-Paskibra-an saya. Apalagi tawaran menjadi Paskibraka Kabupaten bukanlah tawaran yang tidak menggiurkan. Sempat satu kali mengikuti latihan, namun karena saya sudah tidak minat mengikuti ekstrakulikuler saya pun memutuskan untuk ganti ekskul yang lebih ringan –yang penting masuk syarat kalau saya ikut ekstrakulikuler-
Terpilihlah ekstrakulikuler Rohani Islam.  Dari sinilah saya menemukan secercah sinar yang menghantarkan saya pada pemahaman Islam yang sebenarnya. Tergabunglah saya dalam kelompok mentoring yang rutin diadakan setiap hari Jumat. Teman-teman di sekitarnya yang memberikan inspirasi terkuat pada saya untuk memperbaiki cara berjilbab. Mereka ada yang berasal dari Islamic boarding school yang terkenal, ada yang istiqomah mengaji dari kecil bahkan menjadi guru MD setelah sekolahnya, dan banyak yang lain. Ditambah para pengisi mentoringnya adalah bukan orang yang sembarangan. Mereka berprestasi, ramah, sukses, mandiri dan sangat menginspiratif.
Dari sini, saya mulai mempunyai hobi baru yaitu mengoleksi berbagai model jilbab. Bahkan saya memang sengaja menabung untuk membeli jilbab-jilbab yang memang saya inginkan. Lambat laun saya semakin merasa nyaman mengenakannya. Namun, masih saja ada kekurangan dari saya, saya masih saja berpenampilan tomboi, karena masih saja mengenakan celana panjang jika berjilbab. Rasa malu adalah yang pertama kali malandasi hati saya untuk memulai mengenakan rok panjang. Kesan feminisme itu tak dapat saya hapuskan dari fikiran saya. Sangat berbeda dengan karakter saya yang ketika kerja membutuhkan gerak yang cepat, mengerjakan segala sesuatunya sendiri, termasuk mengangkat barang yang berat. Waahh pokoknya enggak banget deh kalau pakai rok. Tapi, rasa malu ketika berkumpul dengan teman-teman Rohis itulah yang menjadi awal bagi saya mengenakan rok. Sangatlah tidak nyaman..
Dan suasana paling amazing, ya ini... Ketika memasuki Institut Pertanian Bogor. Bukan satu atau dua orang yang mengenakan rok panjang ketika kuliah bahkan jilbabnya subhanallah terjuntai sangat panjang. Itu adalah cita-cita saya.. Saya ingin istiqomah dan berjilbab secara syar’i. Mereka cantik meskipun berjilbab, pandai bergaul dan pintar pula..
Akhirnya saya putuskan untuk benar-benar mengubah penampilan saya sekitar akhir semester pertama. Disaat teman saya mengingatkan bahwa seorang wanita yang baik adalah yang menutup auratnya dengan pakaian yang baik, pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Yakni menutupi seluruh bagian tubuhnya, tidak menampakkan lekuk tubuhnya, dan pokoknya seluruh tubuh tertutupi. Hmm.. Bismillah saya mengawali semua ini. Meskipun kekhawatiran akan tidak direstui orang tua tentulah ada. Namun, semangat untuk memperbaiki diri itu sangatlah menggebu-gebu.
Apalagi begitu mendapat motivasi bahwa “wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (QS. An Nur:26). Belum lagi mendengar bahwa wanita yang menutup aurat itu ibarat barang antik dan mahal harganya. Pasti ia akan dijual di tempat tertutup dan hanya dapat disentuh oleh kalangan tertentu yang sudah membelinya. Berbeda dengan wanita yang tidak tertutup auratnya, ia ibarat barang yang sudah terbuka dan dijual di tempat umum hingga setiap orang dapat memegang dan menawarnya semurah mungkin.
Banyak juga figur-figur berprestasi di kampus ini yang notabene mereka mereka adalah jilbabers. Tak ada hambatan sedikit pun dalam melaksanakan aktivitas ketika kita berjilbab. Bahkan menurut saya, orang yang baru akan berjilbab setelah dia mendapat hidayah dari Allah adalah orang-orang yang terlambat. Karena orang-orang tersebut tak akan dapat merasakan hidayah ketika tidak memulainya lebih dulu. Hidayah Allah tidak akan datang dengan sendirinya, hal itu harus dicari salah satunya adalah dengan bergabung bersama orang-orang shaleh.
Sungguh, tak ada sedikitpun penyesalan setelah memutuskan untuk berjilbab. Bahkan jilbab pula yang akhirnya membuka pintu rezeki bagi saya. Rezeki banyak memiliki teman, saudara, dan mengenal banyak orang...
Jilbab is my choice, because with jilbab I can do everything.. This is my Identity
:)

Kamis, 05 Januari 2012

Sejenak Merenung Tentang Perjalanan Ini

Di tengah kesunyian malam, dimana semua orang terlelap dengan tidurnya... Sebuah pesan pengingat dan penyemangat itu masuk ke telepon seluler. Jenuhnya fikiran sepekan ini karena sibuk ujian dan memikirkan suatu solusi terbaik demi perdamaian, membuat tak lagi bisa menahan air mata. Hingga akhinya air mata itu pun menetes dan untuk pertama kalinya mewarnai jalan ini.
Sungguh, kalaupun tak ada orang lain yang selalu menguatkan aku, aku sudah rapuh tiada berdaya. Tapi mereka selalu hadir dan senantiasa mengingatkan dan menyemangati bahwa jalan ini tak selamanya lurus dan tak selamanya berkelok juga. Akan ada dimana masa-masa yang tidak sesuai dengan yang kita harapakan, akan ada satu kondisi yang membuat kita merasa semakin dekat dengan-Nya...

Dan dari isi pesan itu, aku mulai tersadarkan...

Mari,
memastikan kembali niatan atas segala amal-amal kita, bahwa hanya ada satu nama Allah disana.
Mari, memaafkan segala yang membuat kita (tak seberapa) sakit.
Mari, berusaha ikhlas atas takdir apapun yang tergariskan. Karena itu tidak akan membuat kita bertanya kenapa Allah melakukan ini dan itu pada kita. Tapi akan menuntut pada hikmah dan pemaknaan atas semua yang terjadi, menjadi evaluasi agar lebih baik..
Karena ilmu ikhlas itu sulit... Sehingga setan tak mampu menyentuhnya...
Laa haula wa laa quwwatailla billah

Sungguh, kalaulah aku tak ada di antara mereka... Aku tak akan menjadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang dipelajari dan banyak halpula yang menuntut kita bersabar serta berlapang dada lebih. Menuntut kita menerima segala kekurangan serta orang-orang baru di sekitar kita. Beruasaha mengerti dan mengetahui yang baik serta buruk bagi mereka. Semoga aku tetap dan selalu istiqomah di jalan ini.. Semua karena Allah Ta'ala..

Dalam perenungan di tengah penatnya jihad ilmy..