Kamis, 03 Maret 2016

Ketika Kamu Asyik Membuat Life Plan

https://www.fidelity.com/bin-public/060_www_fidelity_com/images/Viewpoints/II/portfolio_plan_alt355x209.jpg
Life Plan, mungkin tak asing bagi setiap orang
Life Plan disusun bukan hanya semata-mata meluapkan khayalan daam bentuk tertulis
Life Plan sesungguhnya adalah doa dan motivasi diri untuk mencapainya
Life Plan adalah controller dan target agara kita focus mencapainya

Namun ingat, Allah adalah sebaik-baik sutradara
Ia telah menyiapkan skenario terbaik bagi hamba-Nya
Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia berhasil

Minggu, 27 Desember 2015

Bogor: Kota Sejuta Cerita, Beribu Impian (Bagian 2)

Setelah kurang lebih 1 tahun, saya ingin melanjutkan tulisan puzzle ini ke bagian ke-2. Sekarang mungkin bisa dikatakan sudah banyak episode terlewati. Dari segi usia pun bisa jadi aku sudah lebih dewasa, sehingga dituntut bijak menghadapi berbagai fenomena kehidupan.

Bogor, benar-benar menjadi kota penuh misteri yang aku singgahi. Selepas lulus kuliah, aku merencanakan segala hal dengan begitu ideal. Aku lupa, karena pasti ada faktor alfa yang mungkin akan mengubah rumus kehidupan yang telah aku susun. Ada juga tingkat kepercayaan Allah sebesar 1% diluar 99% usaha kita.

Kalian tahu, 3 September 2014 lalu merupakan momen berharga sepanjang hidupku. Karena aku berhasil mendatangkan orang tuaku untuk menjadi saksi perjuanganku selama kurang lebih 49 bulan di Kampus Pertanian yang pro rakyat ini. Pagi itu, air mata sengaja aku bendung. Aku tak ingin rasa lelah yang orang tuaku dapati setelah menempuh perjalanan seharian pada 2 September 2014 untuk membelah Cirebon-Bogor semakin terasa. Aku sangat memahaminya, karena gurat-gurat lelah itu masih nampak di wajah mereka. Dalam hati terjadi 'pertarungan bathin' luar biasa.. Karena tak semuanya mengalami apa yang terjadi pada saya dan keluarga saya. (Semoga semua dapat mengikhlaskan yang terjadi).
Begitu nama saya disebut diiringi nama besar keluarga, sambil disebutkan predikat kelulusan sungguh saya tak bisa bayangkan apa yang terjadi pada orang tua saya yang menyaksikan prosesi wisuda S1 saya di podium belakang sana. Yang saya rasakan saat itu, gemetar tubuh dan beban semakin berat dengan adanya pemberkatan dua huruf di belakang nama saya "SP" (Sarjana Pertanian). Karena disana ada banyak tumpuan rakyat Indonesia terutama dari kalangan menengah ke bawah yang butuh dimerdekakan suaranya oleh seorang Sarjana (Pertanian).
Setelah semua prosesi selesai, keluargaku memeluk erat tubuh ini sambil menitikkan air mata. Mungkin itu puncak kebahagiaan dan kebanggaan atas gelar Sarjana pertama yang tercetak dalam keluarga saya. Tapi, jauh di dalam hati saya ingin menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa memberikan prestasi yang terbaik. Bahkan, ini belum apa-apa. Saat di dalam gedung GWW (Grha Widya Wisuda) tadi saya menerima SMS untuk mengikuti microteaching di salah satu SMP IT yang ada di Bogor. Saya tak tahu lokasi sekolahnya dimana, namun saya yakin jika Allah menyimpan rezeki saya disana, Allah pula lah yang akan membimbing saya kesana.
Untuk itu, meskipun barang-barang telah saya kemasi, saya memilih untuk tidak ikut pulang ke rumah meskipun saya telah berhasil menuntaskan studi Strata 1. Keesokan harinya saya mengikuti interview dan langsung dinyatakan lolos untuk membersamai siswa SMP IT tersebut dalam belajar IPA.

HAMDALAH, mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa saya harus mengorbankan keilmuan saya dan memutuskan menjadi seorang guru? Bagi saya, cita-cita menjadi seorang guru tak pernah bisa terhapus dari memori kehidupanku. Guru segala-galanya dalam kehidupan. Dan ketika mengajar, disanalah saya bisa berintrospeksi karena (sering) berbuat tak wajar pada guru-guru saya. Saya merasakan betapa sulit dan beratnya mengubah paradigma, moral, dan kebiasaan siswa. Padahal orang tua sudah menyerahkan sepenuhnya ke pihak sekolah.
Disini, kuantitas ibadah saya tetap bisa terjaga. Bahkan bisa dikatakan meningkat secara kualitas. Waktu shalat dhuha terjadwalkan dengan baik, shalat dzuhur dan ashar (diwajibkan) berjamaah, bahkan saya sempat malu karena kuantitas dan kualitas hafalan saya tak seberapa dibanding siswa-siswa disini. Sayangnya hari-hari seperti ini tak berlangsung lama. Karena saya memutuskan untuk belajar di tempat lain dan memperdalam hal lain pula.

Keputusan ini saya ambil setelah mendengar pertimbangan dari beberapa pihak terutama orang tua. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar pemberdayaan zakat di bidang pendidikan. Salah satu keinginan untuk memperdalam bidan pendidikan dan sosial saya rasa dapat saya raih disini, di tempat dimana saya sekarang beramal sambil belajar.. Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa.

Masuk ke lingkungan yang asing bagiku, cukup sulit. Tapi itu semua sedikit terbantu karena sebagian besar orang-orang disini adalah senior saya di kampus. Semoga ini bukan Nepotisme, tapi saya meyakini telah mengikuti serangkaian tes semuanya dengan fair. Hingga saya berhasil menduduki posisi staf HR dan admin Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa. Posisi ini menurut orang-orang sudah lama kosong dan berkali-kali merekrut orang namun belum ada yang berhasil.
Saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya berusaha belajar cepat dan tanggap. Karena saya disini menjalankan amanah dari para muzakki. Inilah yang membuat saya senang, karena selalu otomatis diingatkan menjadi orang yang amanah dengan bekerja disini.
Tiga bulan pertama, berjalan mulus. Ujian mulai terasa ketika saya harus dipindah tugaskan karena perubahan yang terjadi di lembaga. Saya diminta untuk menguatkan tupoksi rekan-rekan di bagian Marketing Komunikasi. Satu bidang yang selalu ku hindari selama ini. Tapi disinilah saya harus menjawab tantangan skenario terbaik dari-Nya. Setelah saya bersikeras mempertahankan agar saya tetap di HRD dan menolak ditempatkan di QMS (Quality Management System).

Pelajaran demi pelajaran saya cerna. Namanya bekerja dengan jemaah manusia, tak pernah luput dari kesalahan dan kekurangan. Mendapat komplain sana-sini, mendengar kabar dan isu yang tak mengenakkan hati,bahkan bekerja di bawah tekanan sekalipun harus saya lewati sebagai bentuk pendewasaan. Melihat rekan-rekan 1 tim yang stress, bahkan tak jarang kita bersinggungan karena sama-sama stress nya, menitikkan air mata sampai ketawa bareng-bareng itulah suasana dalam tim. Karena di posisi ini pula, saya bisa merasakan tingginya aktivitas di akhir pekan meskipun itu seharusnya libur, bolak-balik luar kota, keluar masuk tempat penting, hingga bertemu orang-orang penting. Allah tentu lebih tahu atas segala sesuatunya, sehingga mengirim saya ke posisi ini. Disini pula, saya bisa lebih jauh mengenal program dan penerima manfaat yang luar biasa potensinya. Saya turut menjadi bagian dari mereka dalam mewujudkan impiannya. Mengenal lebih dekat satu per satu dari mereka, terutama anak-anak marjinal yang di sekolahkan di sekolah luar biasa yang kami sebut SMART Ekselensia Indonesia. Benar-benar mencetak generasi SMART dan tangguh. Banyak prestasi-prestasi luar biasa dari mereka, meskipun kata mereka itu adalah bakat alami. Saya tergugah untuk dapat membantu bakat-bakat alami itu menjadi sebuah karya luar biasa dengan mengarahkan atau mungkin mewadahinya kalau bisa. Ada yang jago secara akademik, ada yang jago desain, nulis, berpuisi, hafidz, futsal, hingga bermusik dan seni tari. Unik, ini sekolah seperti bukan sekolah. Melainkan tempat untuk mereka mengembangkan potensi-potensi tersebut.

Kini, Allah rasa cukup bagi saya mengemban amanah dan belajar di posisi itu. Sekarang Allah sedang mengarahkan saya untuk menapaki jenjang karir yang lain. Tentunya dengan tantangan yang tak biasa. Sehingga, setahun yang lalu saya pernah menolaknya, tapi lain menurut Allah. Allah mengantarkan saya untuk menapaki posisi ini. Semoga saya semakin amanah..

Masih banyak misteri, cerita, dan impian kehidupan lainnya yang mungkin akan terjadi pada saya di kota ini. Bagi sebagian orang mungkin beranggapan saya ini beruntung, tapi sejujurnya banyak hal yang kadang saya rasakan tak seberuntung orang lain. Tinggal bagaimana kita coba untuk mensyukurinya.

Terima kasih atas tarbiyah 1 tahun terakhir ini yaa Rabb. Dengan membersamai saya bersama orang-orang tangguh dan terkasih, yang sama-sama mempunyai semangat juang yang tinggi. Semoga Engkau menjaga mereka untuk ku.

Selasa, 15 September 2015

Kelana Hati yang Gersang

Menjadi seorang pengelana bagi beberapa orang mungkin hal yang menyenangkan. Apalagi bagi seorang yang dirinya enggan terikat atau mengikatkan diri kepada sesuatu. Ia mendeklasrasikan dirinya sebagai seorang yang merdeka, melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak diri untuk mencapai puncak kepuasan.

Namun, sebagai makhluk sosial tentu saja manusia tak dapat 100% menjadi orang yang 'merdeka'. Tetap saja kita membutuhkan orang lain sebagai teman, partner, bahkan sebagai lawan sekalipun. Atau untuk saling melengkapi atas kekurangan yang ada pada diri masing-masing.

Akan datang masanya, kita merasakan kekosongan hati karena kesendirian. Saat melihat orang-orang di sekitar kita aktif bercengkerama, tertawa, dan bertukar cerita satu sama lain. Itu fitrah. Belum lagi, saat kita akhirnya tak mampu menyelesaikan suatu perkara atau tantangan dengan seorang diri. Apakah kita akan menikmati "kemerdekaan" yang kita maksud? Jawabannya, belum tentu. Karena kita membutuhkan mereka semua, orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Tapi, jangan khawatir kualitas "me time" akan berkurang. Hal tersebut masih bisa kita jaga asalkan dikomunikasikan dengan baik dengan mereka. Ada kalanya kita butuh waktu sendiri untuk bermuhasabah dan menyusun strategi-strategi kebaikan berikutnya. Di waktu-waktu itu juga, kita dapat merasakan keindahan berdialog dengan Sang Khaliq, mengutarakan apa yang dimaksud dalam hati dan mencari kunci jalan menggapainya.

Jadi, sejauh dan sekuat apapun kita mengelana seorang diri suatu saat akan menemukan lembah keterasingan dalam kesendirian dan titik dimana kita benar-benar merasakan keindahan kehadiran orang-orang di sekitar. Janganlah menutup diri, karena kita tak tahu jalan Allah memberikan kebaikan dari mana..

Selasa, 09 Juni 2015

About Wedding

Pernikahan merupakan ikatan suci yang kuat (Mitsaqan ghalizhaa). Yang mampu menggetarkan arsy-Nya, menurunkan malaikat ke bumi, menjadikan dua kubu keluarga besar yang tadinya bukan siapa-siapa, menjadi satu keluarga besar pasca terjadinya ijab qabul.
Pernikahan bukanlah sebatas ceremonial belaka guna mengubah suatu “status”. Menghalalkan yang sebelumnya haram. Bukan hanya untuk menikmati yang indah atau nikmatnya saja. Tapi jauh dibalik perjanjian kuat itu ada tanggung jawab besar yang harus dipikul satu sama lain, tanggung jawab membangun sebuah peradaban islami.
Pernikahan itu bukan ajang untuk melepas beban, tapi untuk saling menanggung beban dan menguatkan satu sama lain. Bukan untuk mencari orang yang mampu menerima atau memahami kita, tapi juga sarana untuk belajar menerima dan memahami pendamping kita.

Pernikahan itu menghapus jurang perbedaan. Tapi jika kita belum siap menerima perbedaan, masih sering mengeluhkan hal-hal yang tidak sesuai (yang menimpa diri kita), jangan bermimpi kamu dapat bijaksana menjalani hari-hari yang sebelumnya terbayang indah. Sehingga tak jarang hari-hari yang dilalui justru terasa mencekam.


Picture taken from: http://www.whenwedding.com/9-macam-logam-mulia-untuk-cincin-kawin/

Senin, 23 Maret 2015

PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB WANITA MUSLIMAH

A.    Tanggung Jawab Wanita Muslimah


“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS An- Nisa: 36)

Secara umum, tanggung jawab wanita dan laki-laki sama di hadapan Allah SWT, yaitu beribadah kepada-Nya dan melaksanakan fungsi kekhalifahan di atas muka bumi. Kelak akan dimintai pertanggungjawaban dan mendapat balasan di akhirat atas semua yang telah mereka lakukan selama di dunia. Untuk memudahkan peng-kategori-an tanggung jawab muslimah, maka dibedakan menjadi dua periode kehidupan wanita muslimah


1.      Sebelum Menikah
a)      Birrul Walidain (Berbuat Baik kepada Orang Tua)
Demikian halnya dengan muslim dan muslimah lainnya, hendaklah mendahulukan berbuat baik kepada ibu, lalu kepada Bapak. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW berikut.
d)     Menunaikan Janji Kedua Orang Tua
a)      Kepada Suami
Untuk itu, hendaknya ia mempunyai pengetahuan bahasa Arab baik nahwu, sharaf, dan balaghah. Demikian pula menguasai bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang didakwahinya.
Tulisan ini merupakan bahan siar pada program PUSPA INDONESIA RRI PRO 1 BOGOR (06 Maret 2015)



Diantara keutamaan muslimah sebelum menikah adalah menunaikan hak kedua orang tuanya. Demikian itu merupakan sunnah Nabi SAW. Berikut beberapa tanggung jawab muslimah terhadap orang tuanya

“Sembahlah Allah dan jangan kamu persekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”. (QS An-Nisa:36)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaqun ‘Alaih yang mengisahkan tentang kedatangan seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW yang mem-bai’at-nya untuk berhijrah dan berjihad dengan tujuan mencari pahala Allah SWT. Rasulullah SAW tidak langsung menerimanya, tetapi bertanya terlebih dahulu tentang keberadaan orang tuanya. Ketika ia menjawab kedua orang tuanya masih hidup, Rasullah meminta laki-laki tersebut untuk kembali kepada orang tuanya dan mempergauli keduanya dengan baik.

Terhadap orang tua yang musyrik sekalipun kita perlu tetap menjaga hubungan baik dengannya. Berbuat baik kepada orang tua berarti tidak durhaka kepadanya dalam bentuk perkataan kasar, suara yang melampaui suara orang tua, berakat “uf” atau “ah”, menyakiti hati keduanya, menganiaya keduanya, tidak menghormati keduanya, tidak memuliakan keduanya, termasuk membiarkannya bekerja keras padahal mampu membantunya. 


Hal ini seperti terdapat pada kisah Ibrahim a.s yang mencoba menyadarkan ayahnya terlebih dahulu sebelum berdakwah kepada orang lain. Ia menyampaikan dengan bahasa yang sopan dan halus, sebagaimana anak terhadap orang tuanya. Namun niat baik yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. justru dibalas dengan hujatan dan murka sang ayah. Karena ayahnya berfikir, Nabi Ibrahim a.s telah menghina budaya leluhurnya hingga berujung pada pengusiran Nabi Ibrahim a.s dari rumahnya.
Nabi ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya sikap tenang, sebagai anak terhadap ayahnya seraya berkata : “Oh ayahku, semoga engkau selamat, aku akan tetap memohon ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu.” Lalu keluarlah Nabi ibrahim as meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihatin karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.



"Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya, “Siapa Lagi?”, Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu”. “Siapa lagi?” “Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Rasullah SAW menjawab “Bapakmu”. (HR Muttafaqun ‘Alaih)

b)      Menghormati dan Menyambung Persaudaraan dengan Kerabat Kedua Orang Tua
c)      Mendoakan dan Memhonkan Ampun untuk Kedua Orang Tua


“Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan doakanlah, ‘Wahai Tuhanku! Kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.” (QS Al-Isra: 24)


2.      Sesudah Menikah
Periode ini merupakan periode memasuki kehidupan berkeluarga untuk membentuk rumah tangga islami. Pada tahap ini ada tiga tanggung jawab besar.

Ketaatan seorang muslimah kepada suaminya adalah perintah Allah Azza wa Jalla. Di balik perintah itu, terkandung keutamaan-keutamaan:
*)       Masuk pintu surga dari pintu manapun yang dikehendaki. “Jika seorang wanita shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, dan taat kepada suaminya, ia berhak memasuki surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Ath-Thabrani)
*)       Mendapat Ampunan
Selain itu, “Burung-burung di udara, hewan di lautan, dan para malaikat memohon ampunan kepada Allah bagi wanita yang taat kepada suaminya dan suaminya ridha kepadanya.” (HR Muttafaqun ‘Alaih)

b)      Kepada Anak
Peran seorang muslimah sangat strategis di dalam rumah tangga. Seorang muslimah di samping sebagai isteri dari suami, juga sebagai pemimpin di dalam urusan kerumahtanggan, terutama pendidikan anak. Peran ini lebih pas dimainkan oleh seorang ibu, dikarenakan ibulah yang paling banyak berinteraksi dengan anak, mengerti dunia mereka dan memiliki kasih sayang terhadap mereka.

c)      Kepada Keluarga Suami
Sejak awal menikah, seorang wanita muslimah telah menjadi bagian dari keluarga suaminya. Maka kewajiban-kewajiban terhadap kedua orang tuanya, berlaku juga bagi Ibu dan Bapak mertuanya.

B.     Peranan Muslimah dalam Perbaikan Masyarakat
Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan ketika seorang muslimah mengambil peran di masyarakat:
1.      Keshalehan Wanita
Wanita yang berperan dalam memperbaiki masyarakat adalah wanita yang shalihah agar dapat menjadi teladan dan contoh bagi wanita lain. Agar wanita mencapai derajat shalihah, maka harus memiliki ilmu, yaitu ilmu syar’i yang dpaat ia pelajari melalui kitab-kitab (buku) atau melalui apa yang ia dengar dari lisan para ulama.

2.      Fasih Dalam Berbicara
Hendaknya wanita tersebut adalah yang dianugrahi kefasihan oleh Allah dalam berbicara. Dengan kata lain ia mampu berbicara dengan lancar dan mampu mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya dengan baik dan benar.


3.      Hikmah
Hikmah dan bijaksana merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 299:

"Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Al Baqarah: 269)

Dan sebagaimana juga Allah berfirman memerintahkan para du'at (laki-laki dan wanita) untuk memilki al-hikmah dalam melakukan dakwahnya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik....” (QS An-Nahl: 125)

Dikutip dari berbagai sumber:
1. Materi Tarbiah 1427 H - Mar'ah Muslimah
2. Kisah Ayah Nabi Ibrahim tidak Mau Beriman kepada Allah SWT (http://ceritaislami.net/kisah-ayah-nabi-ibrahim-tidak-mau-beriman-kepada-alloh-swt/)

Sabtu, 21 Maret 2015

Tentang Dia

Tentang dia, yang mungkin bisa dibilang seseorang yang belum kita kenal sebelumnya. Atau mungkin bisa jadi seseorang yang sudah kita kenal, bahkan sangat dekat dalam keseharian kita.

Tentang dia, yang dipertemukan dengan kita pada suatu titik. Titik pertemuan yang kemudian menjadi jembatan penghubung untuk mengenal satu sama lain. Mungkin, titik pertemuan itu disadari ataupun tak disadari. Ada kalanya kita hanya bertemu dan berkomunikasi sekilas dalam suatu moment (entah kepanitian, tugas kampus, atau mungkin agenda seminar) yang kemudian tak berjumpa lagi, ada juga yang memang sudah membersamai kita sejak masa kanak-kanak, sehingga ikatan emosional yang terbangun dapat dikatakan kuat.

Tentang dia, yang mengagumi dan dikagumi kita melalui berbagai jalan. Bisa jadi karena kebaikan hatinya, perhatiannya, tulisan-tulisannya, karyanya, kinerjanya, ibadahnya, senyumannya, dan lain-lain. Atau bahkan semuanya tanpa ada alasan yang pasti.

Tentang dia, yang namanya tak pernah tersebut langsung dalam doa-doa kita. Namun sosoknya telah dipersiapkan oleh Sang Pemilik Cinta. Sosok yang hanya bisa ditemui lantaran doa-doa yang terpanjatkan satu sama lain yang kemudian menggetarkan arsy-Nya.

Ya, semua masih tentang dia...
Dia kelak akan datang melalui jalan dan waktu yang tepat. Dia adalah seorang yang menjadi cerminan amal kita selama ini. Sebagaimana Allah swt telah berfirman dalam QS. An-Nuur ayat 26:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”

Maka, ketika belum dipertemukan jangan membuat kita menjadi terpuruk atau merasa iri ketika melihat rekan-rekan kita sudah berbahagia. Justru disanalah terbuka kesempatan untuk kita meningkatkan kapasitas diri dan memperbanyak amal ibadah.

Jangan khawatir, karena Allah swt telah mempersiapkannya untuk kita dan insya Allah tidak akan tertukar :). Dan, kita akan menemui moment dimana hal tersebut sulit diterima oleh logika. Karena bisa saja, dia jawaban atas doa yang kita panjatkan selama ini. Atau sebaliknya...


Mari menjemput kebaikan melalui jalan dan bekal terbaik...

Selasa, 27 Januari 2015

Karena Engkau Turut Berpartisipasi Mewujudkannya

Ibu, mungkin tulisan ini tak akan sebanding dengan segala pengorbanan yang engkau telah berikan untuk diriku, tapi semoga menjadi salah satu bukti bahwa kita pernah bersama mengarungi berbagai aral kehidupan. Seberat apapun ujian tersebut, engkau telah membuktikan dan mengajarkanku bahwa kita mampu.
Ibu, semangat dan dukungan yang terus mengalir darimu bagai katalisator yang mempercepat reaksi pendewasaan, juga seperti bahan organik yang mampu merekatkan agregat tanah sehingga tak mudah hancur meski berbagai gangguan diberikan. Satu momen yang masih terekam jelas dalam memori ingatanku adalah saat-saat terakhir dimana akhirnya kita harus berpisah, demi masa depanku dan perbaikan keluarga kita. Saat engkau mengantarkanku hingga ke kamar asrama mahasiswa (tempat tinggal baruku selama satu tahun ke depan), engkau yang berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tegar di hadapanku berbisik, "Empat tahun lagi ibu ingin kembali lagi kesini untuk melihat kamu menjadi SARJANA dari perguruan tinggi ternama ini. Ibu yakin kalau Wulan pasti bisa, doa Ibu menyertai".
Sungguh, waktu itu perasaanku tak karuan. SEDIH! Karena ini adalah kali pertama saya tinggal jauh dari keluarga dan langsung di perantauan untuk memperjuangkan masa depan saya dan keluarga. Hari-hari pertamaku di asrama begitu kelabu. Susah tidur, gak enak makan, dan macam-macam rasanya. Hal serupa juga dialami teman-temanku, namun ketika mengingat kembali tujuan awal kita datang kemari adalah untuk mengukir senyum kebahagiaan dan kebanggaan bagi keluarga.Sejak saat itulah aku mulai belajar menjadi dewasa seperti yang Ibuku inginkan.
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa saat ini aku akan memasuki semester kelima. Kembali, Allah SWT memberikan jalan bagi Ibu dan keluargaku untuk menginjakkan kakinya di Bogor dalam momentum yang sama, yakni mengantarkan anaknya (adikku) ke gerbang perguruan tinggi untuk mencari kumpulan rahasia Allah yang tersembunyi di balik buku, dosen, atau bahkan alam raya ini.
Ya, adikku diterima di kampus yang sama denganku. Tak ku sangka dari seorang ibu dan bapak yang hanya orang biasa dan lulusan SMA mereka mampu mendidik dan membekali kami hingga ke gerbang perguruan tinggi. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Tak nampak sama sekali guratan lelah di wajahmu, justru semangat yang menggebu-gebu yang engkau tunjukkan. Kembali engkau menyulut semangat dalam hati ini, dengan mengingatkanku akan batas waktu studiku yang normalnya tinggal 2 tahun lagi dan Ibu sangat ingin melihat aku diwisuda. Saat itu, jujur rasa pesimisku sedang menguasai sehingga aku menceritakan kondisi akademik di jurusanku yang luar biasa butuh kesabaran dan proses panjang untuk menjadi lulusan berkompeten dari sini. Tapi, engkau tak sedikitpun khawatir atas hal itu. Engkau tebarkan kembali benih-benih optimis dalam jiwaku dan disitulah aku diminta berjanji untuk bersungguh-sungguh dalam merealisasikannya.
Waktu mengantarkanku pada puncak perjuangan guna meraih gelar Sarjana. Allah SWT Yang Maha Baik atas segala karunia-Nya, Ia menunjukkan beberapa kemudahan bagiku dalam proses ini. Namun jalan hidup memang tak senikmat yang kita inginkan. Kerikil-kerikil kecil mulai mewarnai jalan juangku, dari mulai sulitnya menemui dosen, netbook kesayanganku yang mendadak mati total, minimnya input perbaikan dari dosen atas apa yang sudah aku lakukan berkenaan dengan peneitian ini, hingga tak bisanya aku melangkah ke tahapan seminar hasil dikarenakan saat itu aku masih mengambil 1 mata kuliah penunjang (minor), dan puncak ujian tersebut adalah terpaksa aku harus menjalani rawat inap dikarenakan aku terkena typus.
Disinilah aku begitu merasa bersalah terhadap ibuku. Aku mencoba untuk tetap bertahan dan berusaha untuk sehat di perantauan ini. Teman-teman ku juga begitu sabar merawat selama 3 hari pertama, tapi ternyata tubuhku justru membutuhkan hal yang lain. Selama 3 hari itu pula aku kesulitan untuk mengkonsumsi makanan, minum pun susah. Apapun yang masuk ke dalam tubuh, beberapa menit setelah itu langsung akan keluar kembali. Kini aku benar-benar menyerah, aku terima tawaran ibuku untuk penjemputan dari Bogor dan menjalani rawat inap di Cirebon.
Aku sedih, karena aku yakin pasti Ibu tak henti-hentinya menangis mendengar kondisiku di perantauan seperti saat ini. "Di setiap akhir shalatnya ia selalu menangis dan berujung pada kegelisahan yang teramat sangat terhadap diriku. Maka Bapak meminta Ibu untuk segera menjemputku. Ketika aku mengabari bahwa aku setuju untuk menjalani rawat inap disana, ibu segera meluncur, menempuh jauhnya jarak Cirebon-Bogor (padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 22:00 WIB)", begitu cerita adikku yang kecil yang saat itu turut menjemput. Ya Rabb, semoga Engkau menjaga ia untukku..
Keesokan paginya begitu mendengar suara Ibuku mengucapkan salam di depan pintu rumah kost, air mata ini tak lagi terbendung. Aku merasa sangat bersalah atas kejadian ini, tapi Ibu lagi-lagi tak mempermasalahkan hal itu. Karena hanya satu yang ia inginkan, ia ingin aku segera sembuh agar bisa melanjutkan perjuanganku disini.
Setelah beristirahat kurang lebih 1 jam, kami bergegas untuk kembali ke Cirebon agar aku bisa segera ditangani oleh dokter. Sepanjang perjalanan tak banyak yang aku lakukan, hanya bisa mengeluhkan pusing dan panas. Tak banyak makanan yang dapat aku konsumsi, tapi Ibu menyemangatiku untuk terus mencoba agar tenagaku bisa segera pulih, menasihatiku agar bersabar dalam menghadapi ini semua karena ini bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa begitu panjang sehingga menghabiskan banyak waktu. Aku meminta untuk berhenti sejenak karena ingin ke toilet. Begitu terbangun, celakanya tak ada yang aku lihat selain cahaya putih. Seketika aku merasa cemas dan dengan cekatan Ibu memapah langkahku. Terima kasih ya Allah.. Engkau telah mengirimkan malaikat terbaik untuk hidupku. Sosok perempuan yang luar biasa sabar, penyayang, kuat dan best mom everywhere, everytime for me. Jagalah ia untukku, sebagaimana ia telah menjagaku selama ini bahkan hingga detik dimana malam-malam di rumah sakit. Aku melihat guratan lelah di wajahnya karena saat menjemputku di Bogor, bertepatan setelah acara pernikahan kakakku. Ia tak peduli kondisi fisiknya yang mungkin lelah hanya demi kesembuhan diriku.

Engkau menjadi penawar di setiap risau yang ku rasakan..

Satu per satu tahapan ku lalui, seminar hasil yang selama ini menjadi hal yang sangat aku tunggu-tunggu telah berlalu, sidang skripsi yang luar biasa karena dilaksanakan saat ramadhan dan ini merupakan sidang skripsi pertama di jurusan yang diadakan pada waktu sepagi itu (semoga berkah ke depannya), revisi, mengejar kesempatan wisuda bulan September 2014. Aku tentu punya alasan sendiri mengapa aku begitu menggebu-gebu untuk mendapatkan quota wisuda di bulan tersebut. Air mataku menetes saat itu, kala senja sudah muncul dan siap menutup hari. Waktu itu tepat satu hari sebelum waktu kepulangan ku ke rumah guna merayakan Idul Fitri dengan tenang di tengah keluarga, begitulah rencanaku. Tapi Allah punya rencana lain, saat itu SKL ku telat dalam pemrosesan, sehingga begitu seesai loket pendaftaran wisuda sudah tutup. Petugas loket pun tak mau berkompromi, hanya ada dua pilihan: menunggu sampai hari Senin pagi atau wisuda bulan November 2014. Karena perkara itu aku menangis, aku sedih karena ternyata di penghujung perjuanganku pun Allah masih ingin melihat kesungguhan ku. Demi baktiku kepada orang tua, aku tak ingin menjadi beban tersendiri bagi mereka, aku ingin pulang dengan membawa kabar gembira sekaligus undangan resmi yang mengajak orang tuaku ke Gedung perhelatan prosesi Wisuda Lulusan Institut Pertanian Bogor. Rintik hujan menemani soreku, di depan perpustakaan kampus yang tengah sunyi karena penghuninya telah berada di kampungnya masing-masing. Aku menangis seorang diri, sambil mendengar sayup-sayup suara nun jauh disana yang coba menenangkan kerisauan ini dan mengajakku untuk berfikir secara jernih. Pengorbananku beberapa hari untuk menahan tidak pulang ke kampung hingga menyelesaikan semuanya itu akan terbayar lunas saat sudah ada kepastian bahwa aku mendapat 1 kursi untuk menjadi wisudawati IPB di bulan September sekaligus wisuda luar biasa karena bertepatan dengan Dies Natalis IPB.

Dan... tiba di hari bahagia itu (3 September 2014)
Momentum wisuda bagi lulusan Institut Pertanian Bogor, begitu selesai acara ibuku langsung memeluk erat tubuh ini dan menangis tiada henti. Ibu, maafkan aku yang belum bisa mempersembahkan yang terbaik untuk dirimu. Terima kasih telah banyak berpartisipasi dalam mewujudkan mimpi-mimpiku. Semoga Allah yang akan membahagiakanmu dan menjagamu serta mengumpulkan kembali kita di jannah-Nya.. Aamiin..

== Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”  ==