Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

PERAN MUSLIMAH DALAM MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH, WA RAHMAH

Oleh : Ibu Liawati
Dalam Kajian Keputrian 17 Juni 2016 DKM Masjid Al Insan

Foto by: INM

"Pernikahan bahagia bukanlah bab menemukan pasangan yang ideal dan sempurna.
Juga bukan tentang bagaimana bisa selalu rukun tanpa konflik di sepanjang kehidupan berumah tangga. Pada kenyataannya, tidak ada manusia sempurna di zaman kita hidup sekarang ini. Semua orang memiliki kekurangan, kelemahan dan sisi negatif lainnya". (Ust. Cahyadi Takariawan)

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

1.       Definisi Sakinah, Mawaddah, Rahmah
Sakinah : tenang, merasa aman, dilindungi, terhormat, penuh kasih saying, mantap, dan memperoleh pembelaan. Dalam QS Ar-Rum: 21 terdapat kata “litaskunu ilaihaa”, ini berarti Allah menjodohkan manusia (berpasang-pasangan) dalam rangka meraih rasa tentram, nyaman, penuh kasih sayang satu sama lain. Bertemunya dua orang dari keluarga dan latar belakang yang berbeda, tentu membutuhkan waktu untuk saling beradaptasi. Gejolak terasa sangat keras dalam rentang waktu 3-6 bulan pertama, dibutuhkan kerja keras untuk memahami satu sama lain.
Sakinah merupakan pondasi yang harus dikuatkan dalam membangun rumah tangga, karena berasal dari sakinah inilah muncuk mawaddah dan rahmah.
Mawaddah : jenis cinta yang membara, menggebu-gebu kepada lawan jenis (pasangannya) karena adanya hawa nafsu yang menyertai dalam mencintai pasangannya. Setiap makhluk Allah diberikan rasa mawaddah (termasuk binatang). Mawaddah ini cenderung kepada yang bersifat material/fisik: kecantikan, tinggi badan, dsb.
Rahmah : Ampunan, anugrah, karunia, belas kasih, kasih sayang, rezeki.
Rahmah disini memiliki pengertian: jenis kasih sayang yang lembut, siap berkorban untuk menafkahi dan melayani, serta melindungi satu sama lain. Rahmah bersifat qalbiyah, yang kemudian berubah wujud menjadi nyata dalam perilaku dan interaksi keseharian antara pasangan suami istri.

2.       Ciri-ciri Keluarga Sakinah, Mawaddah, Rahmah
  • Suasana dalam keluarga penuh dengan nilai-nilai islami; tegaknya syariat Allah swt di dalamnya
  • Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda
  • Santun dalam bergaul, sederhana dalam berbelanja, membudayakan saling menasihati, dan saling belajar
  • Hubungan antara suami istri harus atas dasar “mencintai dan menyayangi karena Allah. Saling percaya dan saling melindungi (TQS Al Baqarah: 187). Jangan sering curhat apalagi membuka aib pasangan kepada orang lain sekalipun itu teman dekat. Kalaupun terpaksa harus bercerita, carilah orang yang dapat membantu penyelesaian masalah yang dihadapi.
  • Suami istri harus memperhatikan kondisi sosial. Dalam hal mahar, nafkah, dan cara bergaul harus mengutamakan kema’rufan.
  • Memperhatikan culture yang berbeda. Apabila suami istri berasal dari suku yang berbeda, maka harus saling belajar dan memahami kebiasaan masing-masing.
  • Suami istri secara tulus menunaikan hak dan kewajibannya
  • Semua keluarga beriman dan taqwa, menjadikan hukum-hukum islam sebagai pedoman hidupnya
  • Rezeki yang dihasilkan untuk menafkahi anak (dan istri) berasal dari harta yang halal
  • Anggota keluarga selalu ridho atas ketentuan Allah dan ikhlas atas takdir yang digariskan

Membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah bukan hanya tanggung jawab suami atau istri saja. Namun perlu adanya suatu kolaborasi, saling belajar, memahami, dan menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Pasangan suami istri harus mampu mengoptimalkan nilai-nilai baik yang mereka bawa dari keluarganya masing-masing demi mewujudkan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya, meminimalisir atau bahkan mengikis habis kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang ada pada keluarga sebelumnya.
Maka setiap orang (laki-laki maupun perempuan) berkewajiban untuk mencari calon pasangan dan calon orang tua bagi anak-anaknya dari golongan yang baik. Adapun kriteria memilih pasangan yang baik antara lain:
  • Shalih/shalihah
  • Mengutamakan keimanan dan ketaqwaan
  • Memilih pasangan dari keturunan keluarga yang terjaga kehormatan dan nasabnya
  • Niatkan menikah untuk beribadah kepada Allah swt
  • Harus memilih pasangan berdasarkan pemahamannya kepada ilmu-ilmu dasar tentang keluarga (paham tanggung jawab, hak dan kewajiban suami istri)
  • Suami istri mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya
  • Komitmen penuh menjalani kehidupan rumah tangga


3.       Peran Muslimah dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Rahmah
Muslimah harus mampu berperan sebagai kekasih, ibu, dan sahabat dalam keluarga
a.       Sebagai seorang kekasih, maka muslimah harus memiliki kriteria:
·      Taat kepada Allah swt (TQS At Tahrim : 5), salah satu bentuk upaya yang dilakukan oleh muslimah yang taat kepada Allah swt adalah menjaga sholat dan ibadah wajib lainnya, taat kepada suami, menjaga pandangan dan kehormatan diri dan keluarganya.
·         Taat kepada suami (TQS An Nisaa : 34)
·         Lembut dan pemalu (TQS Al Qashas : 25)
·         Pecinta : tidak berharap menerima tapi senantiasa memberi
…………………………………………………to be continue………………………………………………

Notulensi : WA

Senin, 23 Maret 2015

PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB WANITA MUSLIMAH

A.    Tanggung Jawab Wanita Muslimah


“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS An- Nisa: 36)

Secara umum, tanggung jawab wanita dan laki-laki sama di hadapan Allah SWT, yaitu beribadah kepada-Nya dan melaksanakan fungsi kekhalifahan di atas muka bumi. Kelak akan dimintai pertanggungjawaban dan mendapat balasan di akhirat atas semua yang telah mereka lakukan selama di dunia. Untuk memudahkan peng-kategori-an tanggung jawab muslimah, maka dibedakan menjadi dua periode kehidupan wanita muslimah


1.      Sebelum Menikah
a)      Birrul Walidain (Berbuat Baik kepada Orang Tua)
Demikian halnya dengan muslim dan muslimah lainnya, hendaklah mendahulukan berbuat baik kepada ibu, lalu kepada Bapak. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW berikut.
d)     Menunaikan Janji Kedua Orang Tua
a)      Kepada Suami
Untuk itu, hendaknya ia mempunyai pengetahuan bahasa Arab baik nahwu, sharaf, dan balaghah. Demikian pula menguasai bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang didakwahinya.
Tulisan ini merupakan bahan siar pada program PUSPA INDONESIA RRI PRO 1 BOGOR (06 Maret 2015)



Diantara keutamaan muslimah sebelum menikah adalah menunaikan hak kedua orang tuanya. Demikian itu merupakan sunnah Nabi SAW. Berikut beberapa tanggung jawab muslimah terhadap orang tuanya

“Sembahlah Allah dan jangan kamu persekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”. (QS An-Nisa:36)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaqun ‘Alaih yang mengisahkan tentang kedatangan seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW yang mem-bai’at-nya untuk berhijrah dan berjihad dengan tujuan mencari pahala Allah SWT. Rasulullah SAW tidak langsung menerimanya, tetapi bertanya terlebih dahulu tentang keberadaan orang tuanya. Ketika ia menjawab kedua orang tuanya masih hidup, Rasullah meminta laki-laki tersebut untuk kembali kepada orang tuanya dan mempergauli keduanya dengan baik.

Terhadap orang tua yang musyrik sekalipun kita perlu tetap menjaga hubungan baik dengannya. Berbuat baik kepada orang tua berarti tidak durhaka kepadanya dalam bentuk perkataan kasar, suara yang melampaui suara orang tua, berakat “uf” atau “ah”, menyakiti hati keduanya, menganiaya keduanya, tidak menghormati keduanya, tidak memuliakan keduanya, termasuk membiarkannya bekerja keras padahal mampu membantunya. 


Hal ini seperti terdapat pada kisah Ibrahim a.s yang mencoba menyadarkan ayahnya terlebih dahulu sebelum berdakwah kepada orang lain. Ia menyampaikan dengan bahasa yang sopan dan halus, sebagaimana anak terhadap orang tuanya. Namun niat baik yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. justru dibalas dengan hujatan dan murka sang ayah. Karena ayahnya berfikir, Nabi Ibrahim a.s telah menghina budaya leluhurnya hingga berujung pada pengusiran Nabi Ibrahim a.s dari rumahnya.
Nabi ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya sikap tenang, sebagai anak terhadap ayahnya seraya berkata : “Oh ayahku, semoga engkau selamat, aku akan tetap memohon ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu.” Lalu keluarlah Nabi ibrahim as meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihatin karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.



"Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya, “Siapa Lagi?”, Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu”. “Siapa lagi?” “Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Rasullah SAW menjawab “Bapakmu”. (HR Muttafaqun ‘Alaih)

b)      Menghormati dan Menyambung Persaudaraan dengan Kerabat Kedua Orang Tua
c)      Mendoakan dan Memhonkan Ampun untuk Kedua Orang Tua


“Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan doakanlah, ‘Wahai Tuhanku! Kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.” (QS Al-Isra: 24)


2.      Sesudah Menikah
Periode ini merupakan periode memasuki kehidupan berkeluarga untuk membentuk rumah tangga islami. Pada tahap ini ada tiga tanggung jawab besar.

Ketaatan seorang muslimah kepada suaminya adalah perintah Allah Azza wa Jalla. Di balik perintah itu, terkandung keutamaan-keutamaan:
*)       Masuk pintu surga dari pintu manapun yang dikehendaki. “Jika seorang wanita shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, dan taat kepada suaminya, ia berhak memasuki surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Imam Ahmad dan Imam Ath-Thabrani)
*)       Mendapat Ampunan
Selain itu, “Burung-burung di udara, hewan di lautan, dan para malaikat memohon ampunan kepada Allah bagi wanita yang taat kepada suaminya dan suaminya ridha kepadanya.” (HR Muttafaqun ‘Alaih)

b)      Kepada Anak
Peran seorang muslimah sangat strategis di dalam rumah tangga. Seorang muslimah di samping sebagai isteri dari suami, juga sebagai pemimpin di dalam urusan kerumahtanggan, terutama pendidikan anak. Peran ini lebih pas dimainkan oleh seorang ibu, dikarenakan ibulah yang paling banyak berinteraksi dengan anak, mengerti dunia mereka dan memiliki kasih sayang terhadap mereka.

c)      Kepada Keluarga Suami
Sejak awal menikah, seorang wanita muslimah telah menjadi bagian dari keluarga suaminya. Maka kewajiban-kewajiban terhadap kedua orang tuanya, berlaku juga bagi Ibu dan Bapak mertuanya.

B.     Peranan Muslimah dalam Perbaikan Masyarakat
Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan ketika seorang muslimah mengambil peran di masyarakat:
1.      Keshalehan Wanita
Wanita yang berperan dalam memperbaiki masyarakat adalah wanita yang shalihah agar dapat menjadi teladan dan contoh bagi wanita lain. Agar wanita mencapai derajat shalihah, maka harus memiliki ilmu, yaitu ilmu syar’i yang dpaat ia pelajari melalui kitab-kitab (buku) atau melalui apa yang ia dengar dari lisan para ulama.

2.      Fasih Dalam Berbicara
Hendaknya wanita tersebut adalah yang dianugrahi kefasihan oleh Allah dalam berbicara. Dengan kata lain ia mampu berbicara dengan lancar dan mampu mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya dengan baik dan benar.


3.      Hikmah
Hikmah dan bijaksana merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 299:

"Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Al Baqarah: 269)

Dan sebagaimana juga Allah berfirman memerintahkan para du'at (laki-laki dan wanita) untuk memilki al-hikmah dalam melakukan dakwahnya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik....” (QS An-Nahl: 125)

Dikutip dari berbagai sumber:
1. Materi Tarbiah 1427 H - Mar'ah Muslimah
2. Kisah Ayah Nabi Ibrahim tidak Mau Beriman kepada Allah SWT (http://ceritaislami.net/kisah-ayah-nabi-ibrahim-tidak-mau-beriman-kepada-alloh-swt/)

Jumat, 16 Mei 2014

From Akhwat to Ummahat


Bismillahirrahmanirrahim..
Selama Nafas masih berhembus, maka kewajiban menuntut ilmu harus tertunaikan. Sengaja saya tak merubah judul materi yang saya dapatkan sore hari itu, karena ini bukan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Melainkan suatu kewajiban untuk diketahui, "katanya pada pengen buru-buru ^^ ?"

Ok let's start our topic..
Menikah, bukan merupakan ajang pelarian dari masalah apalagi jalan akhir dari penyelesaian seabrek masalah. Bisa jadi menikah merupakan pangkal masalah, awal bermulanya masalah baru.
But don't be scare ladies, because we will prepare it well.. Check this out :)
Pada hakikatnya, seorang muslimah memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam menyeru kebaikan. Hal inilah yang disebut peran da'i dalam diri muslimah. Peran ini tak akan pudar hanya dengan perubahan status seorang muslimah. Jika sebelum 'bersenyawa' ia merupakan sosok yang aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan atau organisasi kemahasiswaan dsb, maka setelah bersenyawa pun seorang muslimah harus dapat mengalokasikan waktunya untuk dapat berkontribusi dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan, dan bidang keahlian lainnya. Membangun rumah tangga pun merupakan salah satu bentuk dakwah muslimah. Supaya tidak melalaikan kewajiban dakwah tersebut, maka konsep masa depan rumah tangga harus sudah dipersiapkan sejak saat ini.

Rasulullah SAW bersabda:
"Wanita adalah tiang negara"
"Dunia dan seisinya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah"
"Salah seorang sahabat bertanya, siapakah yang harus saya hormati ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab"IBUMU", lalu siapa lagi? Rasulullah menjawab "IBUMU", lalu siapa lagi? Rasulullah menjawab "IBUMU", lalu siapa lagi "AYAHMU"

Subhanallah!
Betapa mulianya menjadi perempuan. Mempunyai tugas membangun peradaban, kalau ia termasuk wanita shalihah merupakan sebaik-baik perhiasan dunia, dan merupakan sosok yang dimuliakan sebelum memuliakan ayah Untuk dapat memperoleh predikat ini, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu adanya persiapan-persiapan, meliputi persiapan ilmu, persiapan mental, persiapan finansial, dan persiapan fisik.

1. PERSIAPAN ILMU
Kafa'ah (pemahaman) minimal yang harus dikuasai seorang muslimah sebelum akhirnya ia menggenapkan dien-nya adalah
a) Lancar membaca Al Qur'an dengan tajwidnya
b) Hafal minimal 2 juz Al Qur'an
c) Menguasai aqidah, fiqh, hadist, dan tafsir dasar
d) Menguasai bahasa Arab dasar
e) Memiliki Tsaqafah Islamiyah
Selain itu juga perlu didukung oleh kafa'ah keprofesian:
a) Guru
b) Dokter
c) Psikolog
d) Akuntan
e) Pengusaha, dll

Hal tersebut merupakan bekal bagi para muslimah agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar, minimalnya bagi keluarga kecilnya nanti. INGAT... Jodoh kita adalah cerminan diri kita (iman kita), so... kalau mau dapat yang ok, maka kita harus menjadi pribadi yang ok punya :)
Penting juga kiranya seorang muslimah untuk menguasai ilmu manajemen keluarga
a) kemampuan konsepsional: membuat visi dan misis keluarga
b) kemampuan ke-rumah tangga-an: memasak, menjahit, manata rumah
c) kemampuan komunikasi suami-isteri, ibu-anak
d) parenting skills: mengetahui tahapan perkembangan anak, dll

Softskill yang perlu dikuasai muslimah untuk dapat survive dalam kondisi terjepit atau kesulitan antara alain:
a) membuat kue
b) membuat pakaian
c) public speaking yang excellent
d) kemampuan bahasa asing yang baik
Semua itu merupakan softskill yang dapat mendatangkan income tambahan dalam berumah tangga.

2. PERSIAPAN MENTAL
Fase penentuan "kapan kita menikah" merupakan fase yang sangat crowded. Akan muncul berbagai pertanyaan seperti "sudah seberapa siap diri kita menjadi sosok yang dipimpin, bagaimana jika orang tua tidak menyukai calon pasangan kita, bagaiaman jika akhirnya ia datang lebih dulu sebelum saya mempersiapkan segala sesuatunya, bagaimana jika kita masih kuliah, bagaimana jika calon pasangan berusia lebih muda?" dan banyak pertanyaan lainnya yang akan muncul. Maka yang perlu dilakuan muslimah adalah
a) Luruskan niat, menikah merupakan sunnah Rasul bukan merupakan bentuk pelarian dari masalah atau sekadar mencari zona nyaman.
b) Memiliki mental siap untuk memimpin dan dipimpin
c) Memiliki mental untuk mengelola hati, toleransi terhadap berbagai perbedaan, dan saling menghormati
d) Siap menanggung beban dan memiliki mental BERJUANG
e) Mengelola konflik: suami, anak, mertua, dan tetangga

3. PERSIAPAN FINANSIAL
Kalau sebelumnya kita hanya berupaya untuk mencukupi kebutuhan pribadi, kelak setelah menikah kita harus bisa meringankan beban suami dalam mencari nafkah, memperhatikan dua kubu keluarga, dan saudara-saudara bahkan tetangga kita. Untuk itu, penting kiranya seorang muslimah mengembangkan softskill nya terutama yang dapat mendatangakan income. Jangan terlalu bergantung pada pemberian suami dan muslimah juga harus benar-benar bisa dan memiliki strategi khusus dalam mengelola keuangan rumah tangga.

4. PERSIAPAN FISIK
Pasca menikah, tentunya aktivitas seorang muslimah akan bertambah. Ia harus bisa membagi tenaganya untuk memasak, mengurus suami, menata rumah, beraktivitas sesuai profesinya dan bergaul dengan tetangga. Hal ini tentu menguras banyak tenaga, apalagi jika sudah hadir sosok buah hati di tengah keluarga. Mengawasi, mendidik, dan mendampingi anak merupakan aktivitas yang memerlukan tenaga ekstra.

Misalnya, saat pagi hari harus menyiapkan sarapan pagi untuk suami. Saat itu juga kita dikejar waktu agar bisa sampai di tempat kerja tepat waktu, tiba-tiba anak nangis...

Nah lho, harus bagaimana?
Jangan panik, kalau dari muda kita membiasakan diri untuk berolah raga ringan (tapi rutin) seperti lari pagi, push up, sit up, back up, dan kawan-kawannya maka kita tak akan mudah ellah dalam beraktivitas sehari-hari. Selain itu, olah raga sudah jelas melancarkan peredaran darah ke otak.
Sebelum menikah juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, melakukan perawatan seperlunya, dan menjaga asupan makanan.

Demikian beberapa persiapan yang harus muslimah lakukan sebelum akhirnya menentukan untuk 'bersenyawa'. Kalau kata salah seorang dosen, "Ketika masih berupa atom/unsur, ia akan lebih aktif dan menciptakan momentum besar ketika ada sebuah gaya yang diberikan. Namun apabila sudah bersenyawa, geraknya lebih terbatas"

Wallahu a'lam bishowab


Minggu, 27 April 2014

#IBUBAIK MELAHIRKAN GENERASI BAIK

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Ibu adalah madrasah pertama seorang anak, dan AYAH adalah kepala sekolahnya 

2| Hak anak terhadap AYAHnya adalah mendapatkan #ibubaik. Sehingga awal menikah, AYAH bukan sekedar mencari istri namun juga ibu bagi anaknya nanti

3| Rasulullah mengatakan : nikahilah wanita yg subur (walud) dan punya jiwa pengasuhan (wadud). Ini standar dasar mencari #ibubaik untuk anak

4| Keluarga nabi nuh jadi ibrah. Betapapun beliau seorang nabi, tak mampu ajak anaknya kepada jalan Allah. Bermula dari istri yg bukan #ibubaik

5| Sementara keluarga Ibrahim dijadikan Allah sebagai teladan. Ibrahim yg super sibuk melahirkan generasi berkualitas. Bermula dari #ibubaik

6| Seorang Imran yg bukan Nabi pun digelari sbg keluarga terbaik. Tersebab pilihan ia memilih seorang wanita utk jadi #ibubaik bagi anaknya

7| Adalah Hana binti Fakhudz profil #ibubaik yg melahirkan anak wanita baik bernama maryam. Ditinggal mati oleh Imran saat mengandung anaknya

8| Saat hamil, ia jaga lisan dan pikiran dari hal yg dibenci Tuhan. Hingga ia hanya berharap satu hal : anaknya kelak jadi hamba yg taat 

9| Tak sedikitpun keluar kalimat buruk dari lisannya saat hamil. Sebab keburukan lisan saat hamil mmpengaruhi kejiwaan anak saat lahir 

10| Tak ada pikiran nakal saat anak dalam kandungan. Sebab pikiran jahat saat hamil memberi peluang setan tuk jadi teman anak saat lahir 

11| Hana adalah contoh bagaimana seorang #ibubaik hendaklah jaga pikiran, tindakan dan lisannya dari hal buruk saat hamil agar tak pengaruhi jiwa anak

12| Dan usaha hana terbukti. Lahirlah sosok maryam yg Allah pilih sebagai wanita suci. Wanita yg terbaik dan pilihan di masanya 

13| Kalaulah saat hamil, hana hanya pikirkan uang, popularitas dan kecantikan untuk bayinya. Bisa jadi, akan lahir anak yg gila dunia

14| Maka sekali lagi, penting bagi ibu yg sedang hamil untuj jaga lisan, pikiran dan tindakannya dari hal-hal yang tidak disukai Allah 

15| Tugas AYAH saat ibu hamil adalah menjaga agar apa-apa yg diucap dan dipikirkan oleh istrinya adalah hal yang baik-baik

16| Jika ibu hamil ngidam, maka pastikan bahwa ngidamnya adalah sesuatu yg baik. Misalnya ngidam umroh dan haji. Itu ngidam yg baik :D 

17| Ibu hamil jangan ngidam yg aneh-aneh. Semisal ngidam jadi personil JKT48 :D. Agar si bayi kelak tidak berbuat yg aneh-aneh saat lahir

18| Termasuk hindari kebiasaan atau tradisi yg bertentangan dengan syariat. Agar anak sejak dalam kandungan benar-benar dididik jadi anak taat 

19| Kembali ke profil hana sebagai #ibubaik yg kisahnya diabadikan dalam quran. Beliau lalui proses kehamilan dgn baik hingga anak terlahir ke dunia

20| Anak yg semula diharap lelaki ternyata adalah wanita. Tak muncul protes atau keluh kesah kepada Allah. Yang ada hanyalah rasa syukur

21| Bersyukur kepada Allah terhadap apapun kondisi bayi saat kelahiran adlh adab dan ciri dari #ibubaik. Jangan kotori dengan keluh kesah apalagi umpatan

22| #ibubaik meyakini bahwa setiap bayi yg lahir punya rencana hidup masing-masing yg ditetapkan Allah. Maka tak ada alasan utk berkeluh kesah

23| Pun saat anak telah lahir, hana sbg profil #ibubaik dalam quran juga memikirkan hak anak utk dapat pengasuhan AYAH selepas imran tiada

24| Hana paham bahwa di usia dini seorang anak tidak hanya butuh figur ibu tapi juga AYAH. Agar memiliki karakter tangguh di masa depan

25| Dipilihlah Nabi Zakaria yg masih kerabat sebagai AYAH asuh bagi anaknya maryam. Hana sebagai single parent telah membuat keputusan tepat

26| Sehingga sosok maryam sebagai wanita terbaik di masanya, tak lepas dari peran AYAH mengasuh di masa kecil. Ini jadi perhatian bagi kita

27| #ibubaik tetap memikirkan agar anaknya tetap dapat figur AYAH di masa kecil yg ajarkan kemandirian, keberanian dan ketegasan

28| Status single parent tak jadi alasan utk mengabaikan hak anak terhadap kebutuhannya akan figur AYAH

29| #ibubaik bisa meminta kerabat terdekat untuk menggantikan peran AYAH yg hilang bagi anak di usia dini. Hal ini pula yg dialami oleh Rasulullah

30| Selepas kepergian Abdullah saat Rasulullah dalam kandungan, nilai keayahan tidak terhenti. Beliau segera diasuh oleh kakek dan pamannya 

31| Ini jadi pelajaran juga bagi para AYAH yg masih hidup, agar jangan kehilangan momen untuk mengasuh anaknya sedari dini

32| Agar tak muncul generasi ALAY alias Anak kehiLangan AYah. Ada ayah tapi serasa yatim. Ayah tak pernah bermain dengannya di masa kecil 

33| Maryam contoh anak yatim yg sukses. Sebab saat lahir ia tak kehilangan figur AYAH. Ada nabi zakaria yg jadi ayah asuhnya

34| Kisah lengkap tentang profil #ibubaik yakni istri imran ini ada di dalam Quran surah ali imran ayat 33 - 41. Sila ditadabburi


35| Semoga makin banyak #ibubaik di negeri ini. Begitu juga ayah baik. Agar muncul generasi berkarakter tangguh di masa depan. Sekian (bendri jaisyurrahman)