Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2016

POTRET AYAH DALAM AL QUR’AN DAN PERANANNYA DALAM MEMBANGUN PERADABAN KELUARGA

Oleh: Ust. Syafi'ie El Bantanie
Dalam Kajian Dhuha DKM Al-Insan DD Pendidikan

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)" (Ali Imran: 33)

Allah swt. telah memberikan beberapa profil keluarga Nabi untuk dijadikan teladan. Berdasarkan ayat di atas disebutkan ada sosok-sosok teladan ayah yang luar biasa sepanjang masa, ia adalah Nabi Adam as., Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., dan Imran. Nabi Adam as. dan Nabi Nuh as. tidak disebut beserta keluarganya, karena keluarganya enggan beriman kepada Allah swt dan mempercayai risalah yang dibawanya. Berikut sedikit kisah inspiratif yang dapat dijadikan teladan untuk para ayah dan calon ayah masa kini;
1. Nabi Adam as. sosok lelaki luar biasa yang dimuliakan Allah swt. selain sebagai manusia pertama di muka bumi, Allah juga memuliakannya dengan cara memerintah malaikat untuk bersujud kepadanya. Allah swt tidak meminta kita untuk mencontoh keluarganya, karena anak-anak Nabi Adam as. (Habil dan Qabil) memiliki dua sifat yang berbeda. Pada saat mereka berqurban, Habil berkurban karena Allah, lalu kurbannya diterima. Tetapi Qabil berkurban bukan karena Allah, dan kurbannya tidak diterima. Qabil dengki kepada Habil. Lalu, Habil dibunuh olehnya.
2. Nabi Nuh as. anak-anak dan istrinya tidak mau mengikuti perintah Nuh as. untuk naik ke dalam perahu manakala Allah swt. akan menurunkan azab atas kedzaliman kaum Nabi Nuh as. Mereka menolak, lalu menaiki bukit. Ketika air bah datang dan hamppir menenggelamkan keluarganya, Nabi Nuh as muncul sisi ke-ayah-annya (TQS Hud 44-48).

Adapun profil Keluarga Nabi yang dijadikan contoh:
1. Nabi Ibrahim as. ayah dari Ismail as. dan Ishaq as. yang sudah jelas keshalihan dan kepemimpinannya. Hampir seluruh keturunan Ibrahim as. menjadi pemimpin (tak lain berkat doa yang dipajatkan oleh Beliau juga). Nabi Ibrahim as. sosok ayah yang sangat tunduk dan patuh kepada Allah swt. Hal yang sangat menyedihkan bagi dirinya adalah manakala penantian panjangnya atas kehadiran anak di tengah-tengah keluarga telah terwujud, Beliau mendapat perintah dari Allah swt. untuk menyembelih anak kesayangannya.
2. Keluarga Imron , satu-satunya profil keluarga yang bukan berasal dari kalangan Nabi namun dimuat dalam Al-Qur'an. Istri Imron, Hannah merupakan sosok seorang yang shalihah, sehinga berhasil melahirkan anak-anak yang luar biasa seperti Maryam dan Harun. Profil Istri Imron, termaktub dalam surat Ali Imron 34-37.

Untuk dapat menjadi sosok suami dan ayah yang baik, maka kaum laki-laki perlu mempersiapkan:
1. Sholeh sebagai individu, sehingga mampu menshalihkan istri dan anak-anak. Sebagaimanan nasihat Imam Syafi'i, “Perbaikan diri sendiri merupakan awalan untuk memperbaiki keturunanmu, bagaimana cara pandangmu menentukan cara pandang untuk anak-anakmu”.
2. Mampu mendidik istrinya dengan baik. Kisah durhakanya anak Nabi Nuh as, sedikit banyak ada kontribusi seorang istri. Istri yang tidak sholihah dan dibiarkan oleh suaminya akan berdampak pada anak-anaknya. Ketidakseragaman dalam menjalankan visi keluarga menimbulkan dualisme pembinaan dalam keluarga.
Nabi Muhammad saw. memang mempunyai istri yang banyak, namun Ia berhasil menshalihkan dan mendidik seluruh istri-istrinya. Sampai-sampai Aisyah ra. merasa sangat cemburu kepada Khadijah Al Qubro karena Rasulullah saw selalu menyebut-nyebut namanya meskipun Khadijah sudah tiada. Ketika Aisyah protes, Rasulullah menjawab bahwa Khodijah adalah orang yang pertama beriman kepadaku disaat yang lain mengingkari, ia yang mensupport dakwahku disaat yang lain mengacuhkanku.

Kriteria keluarga yang baik menurut Al-Qur'an juga termaktub dalam QS Ibrahim ayat 35-41:
1. Menjadikan rumah tempat tumbuh kembang anak yang aman dan nyaman. Hal ini merupakan konsekuensi dari visi dan misi bersama antara suami dan istri.
2. Tanamkan tauhid dan iman sedini mungkin
3. Ajarkan ibadah sedini mungkin; mentoleransi sampai batas memasuki masa baligh
4. Memastikan memberikan rizki yang halal pada anak-anak kita

Notulen: WA

Jumat, 17 Juni 2016

PERAN MUSLIMAH DALAM MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH, WA RAHMAH

Oleh : Ibu Liawati
Dalam Kajian Keputrian 17 Juni 2016 DKM Masjid Al Insan

Foto by: INM

"Pernikahan bahagia bukanlah bab menemukan pasangan yang ideal dan sempurna.
Juga bukan tentang bagaimana bisa selalu rukun tanpa konflik di sepanjang kehidupan berumah tangga. Pada kenyataannya, tidak ada manusia sempurna di zaman kita hidup sekarang ini. Semua orang memiliki kekurangan, kelemahan dan sisi negatif lainnya". (Ust. Cahyadi Takariawan)

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

1.       Definisi Sakinah, Mawaddah, Rahmah
Sakinah : tenang, merasa aman, dilindungi, terhormat, penuh kasih saying, mantap, dan memperoleh pembelaan. Dalam QS Ar-Rum: 21 terdapat kata “litaskunu ilaihaa”, ini berarti Allah menjodohkan manusia (berpasang-pasangan) dalam rangka meraih rasa tentram, nyaman, penuh kasih sayang satu sama lain. Bertemunya dua orang dari keluarga dan latar belakang yang berbeda, tentu membutuhkan waktu untuk saling beradaptasi. Gejolak terasa sangat keras dalam rentang waktu 3-6 bulan pertama, dibutuhkan kerja keras untuk memahami satu sama lain.
Sakinah merupakan pondasi yang harus dikuatkan dalam membangun rumah tangga, karena berasal dari sakinah inilah muncuk mawaddah dan rahmah.
Mawaddah : jenis cinta yang membara, menggebu-gebu kepada lawan jenis (pasangannya) karena adanya hawa nafsu yang menyertai dalam mencintai pasangannya. Setiap makhluk Allah diberikan rasa mawaddah (termasuk binatang). Mawaddah ini cenderung kepada yang bersifat material/fisik: kecantikan, tinggi badan, dsb.
Rahmah : Ampunan, anugrah, karunia, belas kasih, kasih sayang, rezeki.
Rahmah disini memiliki pengertian: jenis kasih sayang yang lembut, siap berkorban untuk menafkahi dan melayani, serta melindungi satu sama lain. Rahmah bersifat qalbiyah, yang kemudian berubah wujud menjadi nyata dalam perilaku dan interaksi keseharian antara pasangan suami istri.

2.       Ciri-ciri Keluarga Sakinah, Mawaddah, Rahmah
  • Suasana dalam keluarga penuh dengan nilai-nilai islami; tegaknya syariat Allah swt di dalamnya
  • Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda
  • Santun dalam bergaul, sederhana dalam berbelanja, membudayakan saling menasihati, dan saling belajar
  • Hubungan antara suami istri harus atas dasar “mencintai dan menyayangi karena Allah. Saling percaya dan saling melindungi (TQS Al Baqarah: 187). Jangan sering curhat apalagi membuka aib pasangan kepada orang lain sekalipun itu teman dekat. Kalaupun terpaksa harus bercerita, carilah orang yang dapat membantu penyelesaian masalah yang dihadapi.
  • Suami istri harus memperhatikan kondisi sosial. Dalam hal mahar, nafkah, dan cara bergaul harus mengutamakan kema’rufan.
  • Memperhatikan culture yang berbeda. Apabila suami istri berasal dari suku yang berbeda, maka harus saling belajar dan memahami kebiasaan masing-masing.
  • Suami istri secara tulus menunaikan hak dan kewajibannya
  • Semua keluarga beriman dan taqwa, menjadikan hukum-hukum islam sebagai pedoman hidupnya
  • Rezeki yang dihasilkan untuk menafkahi anak (dan istri) berasal dari harta yang halal
  • Anggota keluarga selalu ridho atas ketentuan Allah dan ikhlas atas takdir yang digariskan

Membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah bukan hanya tanggung jawab suami atau istri saja. Namun perlu adanya suatu kolaborasi, saling belajar, memahami, dan menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Pasangan suami istri harus mampu mengoptimalkan nilai-nilai baik yang mereka bawa dari keluarganya masing-masing demi mewujudkan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya, meminimalisir atau bahkan mengikis habis kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang ada pada keluarga sebelumnya.
Maka setiap orang (laki-laki maupun perempuan) berkewajiban untuk mencari calon pasangan dan calon orang tua bagi anak-anaknya dari golongan yang baik. Adapun kriteria memilih pasangan yang baik antara lain:
  • Shalih/shalihah
  • Mengutamakan keimanan dan ketaqwaan
  • Memilih pasangan dari keturunan keluarga yang terjaga kehormatan dan nasabnya
  • Niatkan menikah untuk beribadah kepada Allah swt
  • Harus memilih pasangan berdasarkan pemahamannya kepada ilmu-ilmu dasar tentang keluarga (paham tanggung jawab, hak dan kewajiban suami istri)
  • Suami istri mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya
  • Komitmen penuh menjalani kehidupan rumah tangga


3.       Peran Muslimah dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Rahmah
Muslimah harus mampu berperan sebagai kekasih, ibu, dan sahabat dalam keluarga
a.       Sebagai seorang kekasih, maka muslimah harus memiliki kriteria:
·      Taat kepada Allah swt (TQS At Tahrim : 5), salah satu bentuk upaya yang dilakukan oleh muslimah yang taat kepada Allah swt adalah menjaga sholat dan ibadah wajib lainnya, taat kepada suami, menjaga pandangan dan kehormatan diri dan keluarganya.
·         Taat kepada suami (TQS An Nisaa : 34)
·         Lembut dan pemalu (TQS Al Qashas : 25)
·         Pecinta : tidak berharap menerima tapi senantiasa memberi
…………………………………………………to be continue………………………………………………

Notulensi : WA

Minggu, 27 April 2014

#IBUBAIK MELAHIRKAN GENERASI BAIK

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Ibu adalah madrasah pertama seorang anak, dan AYAH adalah kepala sekolahnya 

2| Hak anak terhadap AYAHnya adalah mendapatkan #ibubaik. Sehingga awal menikah, AYAH bukan sekedar mencari istri namun juga ibu bagi anaknya nanti

3| Rasulullah mengatakan : nikahilah wanita yg subur (walud) dan punya jiwa pengasuhan (wadud). Ini standar dasar mencari #ibubaik untuk anak

4| Keluarga nabi nuh jadi ibrah. Betapapun beliau seorang nabi, tak mampu ajak anaknya kepada jalan Allah. Bermula dari istri yg bukan #ibubaik

5| Sementara keluarga Ibrahim dijadikan Allah sebagai teladan. Ibrahim yg super sibuk melahirkan generasi berkualitas. Bermula dari #ibubaik

6| Seorang Imran yg bukan Nabi pun digelari sbg keluarga terbaik. Tersebab pilihan ia memilih seorang wanita utk jadi #ibubaik bagi anaknya

7| Adalah Hana binti Fakhudz profil #ibubaik yg melahirkan anak wanita baik bernama maryam. Ditinggal mati oleh Imran saat mengandung anaknya

8| Saat hamil, ia jaga lisan dan pikiran dari hal yg dibenci Tuhan. Hingga ia hanya berharap satu hal : anaknya kelak jadi hamba yg taat 

9| Tak sedikitpun keluar kalimat buruk dari lisannya saat hamil. Sebab keburukan lisan saat hamil mmpengaruhi kejiwaan anak saat lahir 

10| Tak ada pikiran nakal saat anak dalam kandungan. Sebab pikiran jahat saat hamil memberi peluang setan tuk jadi teman anak saat lahir 

11| Hana adalah contoh bagaimana seorang #ibubaik hendaklah jaga pikiran, tindakan dan lisannya dari hal buruk saat hamil agar tak pengaruhi jiwa anak

12| Dan usaha hana terbukti. Lahirlah sosok maryam yg Allah pilih sebagai wanita suci. Wanita yg terbaik dan pilihan di masanya 

13| Kalaulah saat hamil, hana hanya pikirkan uang, popularitas dan kecantikan untuk bayinya. Bisa jadi, akan lahir anak yg gila dunia

14| Maka sekali lagi, penting bagi ibu yg sedang hamil untuj jaga lisan, pikiran dan tindakannya dari hal-hal yang tidak disukai Allah 

15| Tugas AYAH saat ibu hamil adalah menjaga agar apa-apa yg diucap dan dipikirkan oleh istrinya adalah hal yang baik-baik

16| Jika ibu hamil ngidam, maka pastikan bahwa ngidamnya adalah sesuatu yg baik. Misalnya ngidam umroh dan haji. Itu ngidam yg baik :D 

17| Ibu hamil jangan ngidam yg aneh-aneh. Semisal ngidam jadi personil JKT48 :D. Agar si bayi kelak tidak berbuat yg aneh-aneh saat lahir

18| Termasuk hindari kebiasaan atau tradisi yg bertentangan dengan syariat. Agar anak sejak dalam kandungan benar-benar dididik jadi anak taat 

19| Kembali ke profil hana sebagai #ibubaik yg kisahnya diabadikan dalam quran. Beliau lalui proses kehamilan dgn baik hingga anak terlahir ke dunia

20| Anak yg semula diharap lelaki ternyata adalah wanita. Tak muncul protes atau keluh kesah kepada Allah. Yang ada hanyalah rasa syukur

21| Bersyukur kepada Allah terhadap apapun kondisi bayi saat kelahiran adlh adab dan ciri dari #ibubaik. Jangan kotori dengan keluh kesah apalagi umpatan

22| #ibubaik meyakini bahwa setiap bayi yg lahir punya rencana hidup masing-masing yg ditetapkan Allah. Maka tak ada alasan utk berkeluh kesah

23| Pun saat anak telah lahir, hana sbg profil #ibubaik dalam quran juga memikirkan hak anak utk dapat pengasuhan AYAH selepas imran tiada

24| Hana paham bahwa di usia dini seorang anak tidak hanya butuh figur ibu tapi juga AYAH. Agar memiliki karakter tangguh di masa depan

25| Dipilihlah Nabi Zakaria yg masih kerabat sebagai AYAH asuh bagi anaknya maryam. Hana sebagai single parent telah membuat keputusan tepat

26| Sehingga sosok maryam sebagai wanita terbaik di masanya, tak lepas dari peran AYAH mengasuh di masa kecil. Ini jadi perhatian bagi kita

27| #ibubaik tetap memikirkan agar anaknya tetap dapat figur AYAH di masa kecil yg ajarkan kemandirian, keberanian dan ketegasan

28| Status single parent tak jadi alasan utk mengabaikan hak anak terhadap kebutuhannya akan figur AYAH

29| #ibubaik bisa meminta kerabat terdekat untuk menggantikan peran AYAH yg hilang bagi anak di usia dini. Hal ini pula yg dialami oleh Rasulullah

30| Selepas kepergian Abdullah saat Rasulullah dalam kandungan, nilai keayahan tidak terhenti. Beliau segera diasuh oleh kakek dan pamannya 

31| Ini jadi pelajaran juga bagi para AYAH yg masih hidup, agar jangan kehilangan momen untuk mengasuh anaknya sedari dini

32| Agar tak muncul generasi ALAY alias Anak kehiLangan AYah. Ada ayah tapi serasa yatim. Ayah tak pernah bermain dengannya di masa kecil 

33| Maryam contoh anak yatim yg sukses. Sebab saat lahir ia tak kehilangan figur AYAH. Ada nabi zakaria yg jadi ayah asuhnya

34| Kisah lengkap tentang profil #ibubaik yakni istri imran ini ada di dalam Quran surah ali imran ayat 33 - 41. Sila ditadabburi


35| Semoga makin banyak #ibubaik di negeri ini. Begitu juga ayah baik. Agar muncul generasi berkarakter tangguh di masa depan. Sekian (bendri jaisyurrahman)

Selasa, 01 April 2014

PARENTING ALA ALI BIN ABI THALIB

"Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu" itulah quote tekenal dari Ali Bin Abi Thalib RA, khalifah ke-4 umat islam yang terkenal dengan kepintaran, kejujuran dan juga kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW.
Seperti sudah kita pahami bahwasannya mendidik dan membesarkan anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menentukan pola pendidikan yang terbaik bagi masing-masing anak, apalagi mereka tidak hidup di jaman dahulu.
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita - bahkan ketka kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita - maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.

ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
Rasulullah SAW mulai memerintahkan seoang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika ia telah berusia 10 tahun namun meninggalkan sholat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:
>> Melakukan sholat wajib 5 waktu
>> Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
>> Menjaga pergaulan dengan lawan jenis
>> Membiasakan membaca Al-Qur'an
>> Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak susianya
>> Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari
Reward dan punishment (hadiah/penghargaan/pujian dan hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi. Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setap anak itu unik)

ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati
Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadap[truncated by WhatsApp]
Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baligh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan ditayangkan dan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi Ruang Lebih
Setelah measuki usia akil baligh, anak perlu memiliki ruang agar tidakmerasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita. Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo'a untuk kebaikan dan keselamatannya.Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat.
Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah" (Riwayat sahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan. 
Di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaa diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Live, mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
> Memanah = Thingking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.


Semoga saja kita para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab orang dewasa di sekitarnya.