Rabu, 13 November 2013

Kepemimpinan Bukan Kesewenang-wenangan untuk Bertindak, Tetapi Kewenangan Melayani untuk Mengayomi dan Berbuat Seadil-adilnya

“Leaderhip, from the Islamic perspective, is not just about managing changes; but more importantly, to manage as a whole with full realization of what is permanent and unchangeable. Leadership  is a “trust” (amanah) and with that comes “responsibility” (taklif) and “accountability” (mas’uliyyah).”


Konsep dasar tentang kepemimpinan dalam perspektif Islam itu dirumuskan oleh Prof. Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Prof. Dr. Wan Mohammad Nor Wan Daud dalam buku mereka:  The ICLIF Leadership Competency Model (LCM) an Islamic Alternatif (Kuala Lumpur: The Intrernational Centre for Leadership in Finance (ICLIF), 2007). Menurut dua pakar pemikiran Islam itu, kepemimpinan bukanlah semata-mata soal bagaimana memenej perubahan, tapi kepemimpinan adalah amanah (trust). Dari konsep amanah inilah, lahir konsep kewajiban dan tanggung jawab. Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan terkait kepemimpinan dalam hadistnya yang artinya "Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya" (H. R. Bukhori).

Kepemimpinan dalam Islam pertama kali dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kepemimpinan Rasulullah tidak bisa dipisahkan dengan fungsi kehadirannya sebagai pemimpin spiritual dan masyarakat. Prinsip dasar kepemimpinan beliau adalah keteladanan. Dalam kepemimpinannya mengutamakan uswatun hasanah pemberian contoh kepada para sahabatnya yang dipimpin. Rasulullah memang mempunyai kepribadian yang sangat agung, hal ini seperti yang digambarkan dalam al-Qur'an:
Artinya: “Dan Sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar berada dalam akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam: 4).
Dari ayat di atas menunjukkan bahwa Rasullullah memang mempunyai kelebihan yaitu berupa akhlak yang mulia, sehingga dalam hal memimpin dan memberikan teladan memang tidak lagi diragukan. Kepemimpinan Rasullullah memang tidak dapat ditiru sepenuhnya, namun setidaknya sebagai umat Islam harus berusaha meneladani kepemimpinan-Nya.
Definisi pemimpin menurut para ahli sangat beragam, namun beberapa aktivitas yang tak lepas dari seorang pemimpin adalah:
  1. Sebagai pengatur, agar apa yang menjadi visi dan misinya tercapai
  2. Penanggung jawab dan pembuatan kebijakan-kebijakan
  3. Pemersatu dan memotivasi bawahannya dalam melaksanakan aktivitas
  4. Pelopor dalam menjalankan aktivitas manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan serta pengelolaan sumberdaya yang ada
  5. Sebagai pelopor dalam memajukan organisasi yang dipimpinnya
Kriteria kepemimpinan yang dapat diteladani dari Rasulullah SAW:
  1. Tunduk kepada Allah SWT
  2. Senantiasa berpegang teguh kapada kitabullah dan menjadikannya landasan dalam mengambil setiap keputusan
  3. Ikhlas karena Allah semata
  4. Kejujuran dan keterusterangan untuk hanya mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan,  dan mengakui ad-Dinul Islam sebagai jalan kebenaran, meski harus berbeda dan berselisih dengan orang lain yang berbeda keyakinan dan agama (QS al-Mumtahanah : 4)
  5. Mengakui nikmat dan memperlihatkannya. Mengakui nikmat adalah dengan hati, sementara memperlihatkannya dengan lisan dan amal perbuatan
  6. Peka terhadap pengawasan dan penjagaan Allah swt
  7.  Pemimpin lahir dari proses ujian yang berat. Allah SWT menegaskan dalam QS al-Baqarah : 124, Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”. 
  8. Kuat dan dipercaya. Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Musa as. Dalam QS Al-Qashash: 26, Allah SWT berfirman: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Wahai bapakku, ambillah ia (Musa) sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat (al-qawiyy) lagi dapat dipercaya (al-amin)". Al quwwah bermakna kapabilitas, kemampuan, kecakapan, dan al amanah bermakna integritas, kredibilitas, moralitas.
  9. Memiliki rasa tangung jawab, hafizh (mampu menjaga) dan ‘alim (pintar, pandai) yang tidak lain merupakan sebentuk kapabilitas, kemampuan, dan kecakapan.
  10. Sederhana dan teratur dalam setiap urusan
  11. Berperangai penyantun, kasih sayang, lemah lembut, ramah, dan adil kepada setiap orang
  12. Bersungguh-sungguh dalam merencanakan program yang tepat, menentukan tujuan, tahapan, cara, sarana, persiapan-persiapan yang sesuai dengan kemampuan. Disinilah seorang pemimpin harus mempunyai jiwa seorang planner. Karena seorang perencana sudah pasti memiliki jiwa kepemimpinan, namun belum tentu seorang pemimpin memiliki sifat perencana yang baik. “Apabila kita gagal merencanakan, maka sesungguhnya kita sedang merencanakan kegagalan”.
Ketidakpedulian terhadap perpolitikan dewasa ini, tak lain dikarenakan oleh krisis kepemimpinan itu sendiri. Banyak teman, saudara, atau orang-orang terdekat kita lainnya yang mulai kehilangan kepercayaan dan kepedulian terkait siapa yang akan memimpin mereka. Karena keberadaan seorang pemimpin belum dapat dirasakan, baik dari sisi kebijaksanaan, keadilan, atau bahkan kesejahteraan pasukan yang dibawanya. Ironisnya, banyak orang yang berlomba-lomba menjadi pemimpin, dengan 'enteng' nya membawa tagline dan janji-janji manis untuk ke arah sana. Astaghfirullah.. semoga para pemimpin atau calon pemimpin kita dapat segera meluruskan kembali niatnya, sehingga tidak ada lagi rakyat, pasukan, atau bawahan yang terdzolimi.

Kepemimpinan bukan kesewenang-wenangan untuk bertindak, tetapi kewenangan melayani untuk mengayomi dan berbuat seadil-adilnya. Kepemimpinan adalah keteladanan dan kepeloporan dalam bertindak yang seadil-adilnya. Kepemimpinan semacam ini hanya akan muncul jika dilandasi dengan semangat amanah, keikhlasan dan nilai-nilai keadilan.