Minggu, 29 September 2013

"All About Parenting", Perlu Tahu atau Cukup Tahu???

Bismillahirrahmanirrahim..

"Hai orang-orang yang beriman, perihalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (QS Al Tahrim: 6)

Sebagian besar dari kita mungkin beranggapan parenting itu bukan sesuatu hal yang harus dipelajari, karena toh suatu saat nanti kita akan mengalaminya sendiri (pada waktu yang tepat). Tapi, tahukah bahwa itu semua ternyata anggapan yang kurang tepat?...

WHY...
Ketika orang-orang beranggapan parenting bukanlah suatu pelajaran atau keterampilan yang harus dipelajari, mungkin mereka beranggapan bahwa mendidik anak itu seperti memainkan boneka-bonekaan di waktu kecil, dimana peran atau karakter yang dimainkan bagaimana keinginan si pemainnya, sadarkah, bahwa di saat-saat remaja lah tersedia waktu bagi kita untuk mempelajari segala hal yang positif, termasuk parenting salah satunya. Kita dapat mempelajarinya dengan datang ke seminar, mengambil mata kuliah yang membahas tentang hal ini (misal: psikologi; spesifik nya psikologi anak), baca-baca buku yang berkaitan dengan parenting, atau 'ubek-ubek' Mbah Google buat nyari artikel. Ya, masih banyak waktu.. Bukankah segala sesuatu itu perlu dipersiapkan dengan matang agar hasilnya maksimal??
Jika mengandalkan pasca menikah nanti, tentunya waktu kita agak sedikit terbatas. Mengingat pada diri kita terdapat tambahan kewajiban, yakni melayani suami. Mending kalau setelah menikah, pihak perempuan tidak segera hamil, kalau langsung ngisi tambah berabe kan karena waktunya akan tersita untuk merasakan mual-mual, aktivitas juga semakin terbatas karena tidak semua wanita dapat beraktivitas normal karena kondisi kandungan tertentu, dan... pas anaknya lahir, mau diapain??

Berikut adalah beberapa hal yang harus dimiliki oleh calon orang tua:
  • Ilmu: tentulah calon orang tua harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai peran mereka sebagai orang tua, ilmu tentang mendidik anak secara tepat,  termasuk manajemen dalam rumah tangga.
  • Skill: Kemampuan mencintai dan menyukai anak kecil tidak serta merta ada di setiap diri manusia, keterampilan mengelola dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga (kapan harus mengerjakan pekerjaan A dan kapan yang lain, kapan waktunya bermain bersama anak, dll). Dalam hal ini tentu dibutuhkan keterampilan khusus yang tidak mungkin bisa dipelajari secara instan.
  • Iman: Tentunya karena kekuatan iman lah yang membuat kita semakin menyadari bahwa anak hanyalah titipan dari Sang Khaliq. Sehingga timbul kesadaran bagi orang tua untuk senantiasa memberikan hal terbaik bagi anak-anaknya. Penanaman nilai-nilai agama sejak dini, mampu menjadikan anak tumbuh sebagai generasi yang shalih atau shalihah. Dengan iman juga, akhirnya semakin jelas membedakan didikan islami dengan yang tidak islami.
  • Karakter: Jangan sampai mendidik anak dengan cara kekerasan atau mudah bad mood, sehingga akhirnya anak diterlantarkan.
Ada 5 hal yang diperlukan dalam mendidik anak:
  1. Pendidikan adalah taufik dari Allah SWT
  2. Zaman merupakan bagian dari 'ilaj (terapi), sehingga pola pengasuhan atau pendidikan bagi anak perlu disesuaikan dengan zamannya
  3. Hubungan takamul (saling melengkapi) antara ayah dan ibu
  4. Membangun kepercayaan (tsiqoh) yang tinggi atas dasar cinta dan penghormatan
  5. urgensi situasi psikologi yang kuat di dalam rumah tangga
Beberapa Metode dalam Mendidik Anak:
  1. Qudwah atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kata teladan merupakan cara terdekat dan ideal. Ketika orang tua gagal memberi contoh, maka orang tua tersebut telah gagal dalam mendidik anak
  2. Kebiasaan, metode yang diterapkan pada anak dalam setiap tingkatan tentunya berbeda-beda. Ketika masih anak-anak dengan cara men-dikte dan praktik, ketika dewasa dengan muraqabatullah, membeberkan kerusakan, mengubah lingkungan sosial yang tidak sehat, dll
  3. Kisah, dengan memberikan kisah-kisah teladan, akan memberi kesan mendalam dan sulit terlupakan bagi anak-anak. Akan tetapi orang tua harus selektif dalam memberikan kisah-kisah agar tidak disalahtafsirkan oleh anak, misalnya dapat mengambil teladan dari kisah orang-orang shalih dan para sahabat rasul
  4. Sikap/Kejadian, melalui hal ini orang tua diharapkan mampu menjelaskan hikmah dibalik suatu peristiwa
  5. Dukungan dan Hukuman. Anak-anak tentunya sangat membutuhkan dukungan orang tua dalam masa pertumbuhannya. Jika anak-anak terlalu dibatasi, kelak akan membuat dirinya minder, mandul kreativitas, atau mungkin mengalami keterbelakangan. Dukungan yang diberikan dapat berupa sebutan nama baik, berkata baik, memberikan maaf bagi sebagian kesalahan, mengajak bermain, mencium, memberi hadiah, dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan hukuman, merupakan langkah terakhir jika memang metode-metode mendidik anak yang telah dipaparkan sebelumnya kurang dapat diterapkan. Hukuman yang diberikan merupakan hukuman yang mengandung nilai edukasi. Langkah yang sebaiknya ditempuh bagi umat muslim adalah Nasihat >> Taujih >> Malahazoh >> Teladan. Bentuk-bentuk hukuman yang diberikan antara lain tatapan tajam, mengabaikan, melarang, mengurangi pembicaraan, menjewer perlahan, atau pukulan penuh kasih sayang.
Selain memahami hal-hal di atas , tentunya orang tua harus memahami kebutuhan dasar anak. Seperti kebutuhan fisiologi dan biologis, rasa aman (terutama peran seorang ibu), cinta dan loyalitas, ingin dihargai, serta aktualisasi diri dari seorang anak.

Orang tua yang belum memahami metode mendidik anak dengan baik, tentunya akan merasa kesal, putus asa, hingga akhirnya acuh terhadap aktivitas dan masa-masa tumbuh kembang anaknya. Hal tersebut karena pada hakikatnya, seorang anak memiliki sifat dasar sebagai berikut:
  • Tidak bisa diam dan banyak bergerak
  • Selalu ingin meniru
  • Suka membangkang
  • Tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah
  • Banyak bertanya
  • Daya ingatnya kuat
  • Senang dimotivasi
  • Gemar bermain dan suka ria
  • Senang berkhayal
  • Kecenderungan memiliki keterampilan
  • Cepat menguasai bahasa
  • Sensitif
Sehingga Ali bin Abi Thalib r.a memperkenalkan 3 tahapan memperlakukan anak
  1. Laa-ibuhum (bermain) bagi anak usia 0-7 tahun
  2. Addibuhum (penanaman disiplin) saat anak usia 7-14 tahun
  3. Roofiquhun (kemitraan) ketika anak menginjak usia diatas 14 tahun
Selain hal di atas, perlu juga kiranya memperbaiki hubungan antara suami istri. Jaga keharmonisan rumah tangga dengan meminimalisir misscommunication dan manajemen emosi, agar anak tidak menjadi korbannya. Jangan terlalu idealis juga dalam mendidik anak. Jangan sampai anak menjadi sarana orang tua untuk merealisasikan keinginannya yang belum tercapai.

Jadi, persiapkan segala sesuatunya dengan baik yaaa sebelum menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak ^^v

"Anak merupakan titipan dari Yang Mahakuasa, sehingga orang tua mempunyai kewajiban untuk merawat dan menjaganya dengan baik"