Sabtu, 10 Mei 2014

Bekal Dakwah Muslimah

Bismillahirrahmanirrahim..
Berikut saya coba bagikan sedikit catatan dari buku Bekal Dakwah Muslimah karya Haidar Quffah, tapi coba saya awali dulu catatan ini dengan sedikit note dari saya pribadi, sebagai pengantar biar lebih mengena di hati saat dinikmati.

~Wanita memiliki kewajiban yang sama dalam rangka menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran~
Ironisnya, yang saat ini terjadi di kalangan para aktivis dakwah mereka gencar menyerukan kebaikan (karena saking seringnya ikut berbagai taklim, kajian, diskusi, dll), ketika dihadapkan dengan kebathilan yang mungkin dapat dikatakan itu hal yang kecil (ex: melihat teman membuang sampah sembarangan di ruang kelas, mengetahui ada teman yang melakukan aksi titip absen, pacaran, dll) kita cenderung untuk DIAM.
Apakah tak ada lagi rasa tanggung jawab dalam diri kita?

Mengutip salah satu nasihat yang ada dalam buku yang ditulis Haidar Quffah ini, setidaknya bisa menjadi sebuah renungan dan pembangkit semangat bagi para penggiat dakwah. Karena hakikatnya jalan dakwah ini panjang, berliku, terjal, berduri, dan banyak rintangan lainnya. Hanya mampu diemban oleh orang-orang terpilih, yang yakin bahwa pertolongan Allah SWT itu dekat ketika seorang hamba menolong agama-Nya. Yang begitu merindukan harumnya firdaus.

"Bekali diri dengan kesabaran dan jiwa lapang, sebab menghadapi siasat jiwa manusia itu bukan perkara mudah. Ada hati yang enggan dan lari. Ada jiwa yang berpaling dari jalan lurus ketika menemui kehidupan dari segala penyimpangan kepalsuan, dan glamournya. Mengembalikan mereka kepada kebenaran perlu penderitaan, keletihan, dan kesabaran ekstra."

Maka dari itu Haidar Quffah mencoba menjelaskan hal-hal yang perlu dipersiapkan bagi seorang akhwat sebelum terjun ke medan dakwah antara lain:
1. Jujur
Kejujuran merupakan pondasi ketika kita berdakwah, sebagaimana Rasulullah SAW teladan agung kita telah mencontohkan. Sekali saja kita berbuat curang dalam rangka menyampaikan kebaikan, maka kebaikan itu tidak akan sampai diterima oleh objek dakwah kita.
2. Menepati Janji
Ciri-ciri orang munafik adalah ketika berbicara ia berbohong, ketika berjanji ia ingkari, dan ketika diberi amanat ia berkhianat. Semoga kita tak termasuk didalamnya (Aamiin). Begitu pentingnya para aktivis dakwah untuk dapat menepati janji. Dalam menghadiri rapat, mengerjakan tugas kelompok, atau hal-hal lain yang berkenaan dengan janji meskipun terkesan sepele wajib ditepati. Kedisiplinan kader dakwah dalam menepati janjinya menjadi tolok ukur kesiapan dan komitmennya terhadap dakwah itu sendiri.
3. Berwajah Ceria
Sedekah yang paling mudah dan murah adalah dengan berwajah ceria di hadapan saudaranya. Raut wajah yang kurang bersahabat kerap kali membuat orang-orang terdekat kita malas untuk bertemu bahkan menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik.
4. Dermawan
Sebagai seorang aktivis dakwah, hendaklah ia mampu menjadi orang pertama yang diingat ketika orang lain membutuhkan bantuan. Dalam pertemuan-pertemuan kecil (rapat, kajian, diskusi, ataupun dalam lingkaran-lingkaran cahaya), hendaklah kita menghadirkan kesempatan untuk beramal. Mengantarkan teman yang sakit, menjadi informan beasiswa, dll merupakan bentuk kedermawanan yang dapat mahasiswa dan pelajar pupuk sejak dini. Ketika nanti sudah berpenghasilan, sisihkanlah sedikit harta yang kita miliki untuk kemakmuran mesjid atau ladang pahala lainnya.
5. Tawadhu
Hilangkan sifat takabur dalam setiap kali beraktivitas, terutama dalam menyeru kepada kebaikan. Ke-tawadhu-an Rasulullah SAW pada setiap episode perjuangan dakwahnya, dapat membuat kita menitikkan air mata. Saat itu ujian yang beliau hadapi begitu besar, namun yang diharapkan oleh Rasululllah SAW adalah balasan Allah SWT yang berupa kenikmatan hakiki, bukan sekedar pujian dan belas kasihan dari objek dakwah dan orang-orang sekitarnya.

Dalam buku tersebut juga disebutkan langkah-langkah dakwah ke jalan Allah SWT, di antaranya:
1. Selektif memilih calon objek dakwah
2. Menentukan sasaran dakwah
3. Menentukan metode efektif untuk menggaet hati objek dakwah (memberi hadiah, mengunjungi objek dakwah secara rutin, memberi bantuan kepada objek dakwah, dll)
4. Memberi keteladanan
5. Menjauhi hal-hal yang tidak simpatik
*) Al-Ustadziyah (menggurui)
*) Al-Kibr (sombong)
*) Al-Hadits 'anin Nafsi (membicarakan diri sendiri)
*) Ghibah (menggunjing)
*) Al-Atsarah (egoisme)
*) Al-Isfaf (mengibul)
*) Sur'atul Infi'al (emosional)
*) As-Syuh (kikir)
6. Tasamuh (toleransi)
7. Iltizam (Kemitraan)

Dalam menapaki perjalanan dakwah tak jarang akan dijumpai kerikil-kerikil yang kelak menjadi teman dalam perjalanan (kesedihan, kekecewaan, rasa lelah, dll). Namun, sebagai seorang da'i/ah tak sepantasnya kita berlarut-larut dalam kondisi tersebut. Kalau Rasulullah SAW saja yang dalam perjalanan dakwahnya sempat merasakan dilempari kotoran, dikatakan orang gila, dan diasingkan, Beliau SAW masih tetap istiqomah di jalan-Nya, bagaimana dengan kita yang tantangannya dapat dikatakan belum seberat itu?
Maka, Haidar Quffah juga berbagi tips tentang menyikapi pahitnya kegagalan dalam berdakwah:
1. Evaluasi diri pribadi
2. Menghibur diri
3. Meninggalkan objek dakwah (ada kalanya objek dakwah yang akan tersadar ketika kita tinggalkan, ex: tidak perhatian kepadanya. Dalam kondisi ditinggalkan tersebut biasanya objek dakwah pun akan melakukan sebuah perenungan atas apa yang kita lakukan kepadanya)
4. Tidak menyerah

Demikian bekal-bekal penting yang sempat saya abadikan dalam mini note pribadi. Semoga, dengan adanya bekal ini menguatkan pundakmu wahai Muslimah dalam menapaki jalan dakwah ini..

Wallahu a'lam..