Minggu, 27 Desember 2015

Bogor: Kota Sejuta Cerita, Beribu Impian (Bagian 2)

Setelah kurang lebih 1 tahun, saya ingin melanjutkan tulisan puzzle ini ke bagian ke-2. Sekarang mungkin bisa dikatakan sudah banyak episode terlewati. Dari segi usia pun bisa jadi aku sudah lebih dewasa, sehingga dituntut bijak menghadapi berbagai fenomena kehidupan.

Bogor, benar-benar menjadi kota penuh misteri yang aku singgahi. Selepas lulus kuliah, aku merencanakan segala hal dengan begitu ideal. Aku lupa, karena pasti ada faktor alfa yang mungkin akan mengubah rumus kehidupan yang telah aku susun. Ada juga tingkat kepercayaan Allah sebesar 1% diluar 99% usaha kita.

Kalian tahu, 3 September 2014 lalu merupakan momen berharga sepanjang hidupku. Karena aku berhasil mendatangkan orang tuaku untuk menjadi saksi perjuanganku selama kurang lebih 49 bulan di Kampus Pertanian yang pro rakyat ini. Pagi itu, air mata sengaja aku bendung. Aku tak ingin rasa lelah yang orang tuaku dapati setelah menempuh perjalanan seharian pada 2 September 2014 untuk membelah Cirebon-Bogor semakin terasa. Aku sangat memahaminya, karena gurat-gurat lelah itu masih nampak di wajah mereka. Dalam hati terjadi 'pertarungan bathin' luar biasa.. Karena tak semuanya mengalami apa yang terjadi pada saya dan keluarga saya. (Semoga semua dapat mengikhlaskan yang terjadi).
Begitu nama saya disebut diiringi nama besar keluarga, sambil disebutkan predikat kelulusan sungguh saya tak bisa bayangkan apa yang terjadi pada orang tua saya yang menyaksikan prosesi wisuda S1 saya di podium belakang sana. Yang saya rasakan saat itu, gemetar tubuh dan beban semakin berat dengan adanya pemberkatan dua huruf di belakang nama saya "SP" (Sarjana Pertanian). Karena disana ada banyak tumpuan rakyat Indonesia terutama dari kalangan menengah ke bawah yang butuh dimerdekakan suaranya oleh seorang Sarjana (Pertanian).
Setelah semua prosesi selesai, keluargaku memeluk erat tubuh ini sambil menitikkan air mata. Mungkin itu puncak kebahagiaan dan kebanggaan atas gelar Sarjana pertama yang tercetak dalam keluarga saya. Tapi, jauh di dalam hati saya ingin menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa memberikan prestasi yang terbaik. Bahkan, ini belum apa-apa. Saat di dalam gedung GWW (Grha Widya Wisuda) tadi saya menerima SMS untuk mengikuti microteaching di salah satu SMP IT yang ada di Bogor. Saya tak tahu lokasi sekolahnya dimana, namun saya yakin jika Allah menyimpan rezeki saya disana, Allah pula lah yang akan membimbing saya kesana.
Untuk itu, meskipun barang-barang telah saya kemasi, saya memilih untuk tidak ikut pulang ke rumah meskipun saya telah berhasil menuntaskan studi Strata 1. Keesokan harinya saya mengikuti interview dan langsung dinyatakan lolos untuk membersamai siswa SMP IT tersebut dalam belajar IPA.

HAMDALAH, mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa saya harus mengorbankan keilmuan saya dan memutuskan menjadi seorang guru? Bagi saya, cita-cita menjadi seorang guru tak pernah bisa terhapus dari memori kehidupanku. Guru segala-galanya dalam kehidupan. Dan ketika mengajar, disanalah saya bisa berintrospeksi karena (sering) berbuat tak wajar pada guru-guru saya. Saya merasakan betapa sulit dan beratnya mengubah paradigma, moral, dan kebiasaan siswa. Padahal orang tua sudah menyerahkan sepenuhnya ke pihak sekolah.
Disini, kuantitas ibadah saya tetap bisa terjaga. Bahkan bisa dikatakan meningkat secara kualitas. Waktu shalat dhuha terjadwalkan dengan baik, shalat dzuhur dan ashar (diwajibkan) berjamaah, bahkan saya sempat malu karena kuantitas dan kualitas hafalan saya tak seberapa dibanding siswa-siswa disini. Sayangnya hari-hari seperti ini tak berlangsung lama. Karena saya memutuskan untuk belajar di tempat lain dan memperdalam hal lain pula.

Keputusan ini saya ambil setelah mendengar pertimbangan dari beberapa pihak terutama orang tua. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar pemberdayaan zakat di bidang pendidikan. Salah satu keinginan untuk memperdalam bidan pendidikan dan sosial saya rasa dapat saya raih disini, di tempat dimana saya sekarang beramal sambil belajar.. Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa.

Masuk ke lingkungan yang asing bagiku, cukup sulit. Tapi itu semua sedikit terbantu karena sebagian besar orang-orang disini adalah senior saya di kampus. Semoga ini bukan Nepotisme, tapi saya meyakini telah mengikuti serangkaian tes semuanya dengan fair. Hingga saya berhasil menduduki posisi staf HR dan admin Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa. Posisi ini menurut orang-orang sudah lama kosong dan berkali-kali merekrut orang namun belum ada yang berhasil.
Saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya berusaha belajar cepat dan tanggap. Karena saya disini menjalankan amanah dari para muzakki. Inilah yang membuat saya senang, karena selalu otomatis diingatkan menjadi orang yang amanah dengan bekerja disini.
Tiga bulan pertama, berjalan mulus. Ujian mulai terasa ketika saya harus dipindah tugaskan karena perubahan yang terjadi di lembaga. Saya diminta untuk menguatkan tupoksi rekan-rekan di bagian Marketing Komunikasi. Satu bidang yang selalu ku hindari selama ini. Tapi disinilah saya harus menjawab tantangan skenario terbaik dari-Nya. Setelah saya bersikeras mempertahankan agar saya tetap di HRD dan menolak ditempatkan di QMS (Quality Management System).

Pelajaran demi pelajaran saya cerna. Namanya bekerja dengan jemaah manusia, tak pernah luput dari kesalahan dan kekurangan. Mendapat komplain sana-sini, mendengar kabar dan isu yang tak mengenakkan hati,bahkan bekerja di bawah tekanan sekalipun harus saya lewati sebagai bentuk pendewasaan. Melihat rekan-rekan 1 tim yang stress, bahkan tak jarang kita bersinggungan karena sama-sama stress nya, menitikkan air mata sampai ketawa bareng-bareng itulah suasana dalam tim. Karena di posisi ini pula, saya bisa merasakan tingginya aktivitas di akhir pekan meskipun itu seharusnya libur, bolak-balik luar kota, keluar masuk tempat penting, hingga bertemu orang-orang penting. Allah tentu lebih tahu atas segala sesuatunya, sehingga mengirim saya ke posisi ini. Disini pula, saya bisa lebih jauh mengenal program dan penerima manfaat yang luar biasa potensinya. Saya turut menjadi bagian dari mereka dalam mewujudkan impiannya. Mengenal lebih dekat satu per satu dari mereka, terutama anak-anak marjinal yang di sekolahkan di sekolah luar biasa yang kami sebut SMART Ekselensia Indonesia. Benar-benar mencetak generasi SMART dan tangguh. Banyak prestasi-prestasi luar biasa dari mereka, meskipun kata mereka itu adalah bakat alami. Saya tergugah untuk dapat membantu bakat-bakat alami itu menjadi sebuah karya luar biasa dengan mengarahkan atau mungkin mewadahinya kalau bisa. Ada yang jago secara akademik, ada yang jago desain, nulis, berpuisi, hafidz, futsal, hingga bermusik dan seni tari. Unik, ini sekolah seperti bukan sekolah. Melainkan tempat untuk mereka mengembangkan potensi-potensi tersebut.

Kini, Allah rasa cukup bagi saya mengemban amanah dan belajar di posisi itu. Sekarang Allah sedang mengarahkan saya untuk menapaki jenjang karir yang lain. Tentunya dengan tantangan yang tak biasa. Sehingga, setahun yang lalu saya pernah menolaknya, tapi lain menurut Allah. Allah mengantarkan saya untuk menapaki posisi ini. Semoga saya semakin amanah..

Masih banyak misteri, cerita, dan impian kehidupan lainnya yang mungkin akan terjadi pada saya di kota ini. Bagi sebagian orang mungkin beranggapan saya ini beruntung, tapi sejujurnya banyak hal yang kadang saya rasakan tak seberuntung orang lain. Tinggal bagaimana kita coba untuk mensyukurinya.

Terima kasih atas tarbiyah 1 tahun terakhir ini yaa Rabb. Dengan membersamai saya bersama orang-orang tangguh dan terkasih, yang sama-sama mempunyai semangat juang yang tinggi. Semoga Engkau menjaga mereka untuk ku.