Selasa, 15 September 2015

Kelana Hati yang Gersang

Menjadi seorang pengelana bagi beberapa orang mungkin hal yang menyenangkan. Apalagi bagi seorang yang dirinya enggan terikat atau mengikatkan diri kepada sesuatu. Ia mendeklasrasikan dirinya sebagai seorang yang merdeka, melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak diri untuk mencapai puncak kepuasan.

Namun, sebagai makhluk sosial tentu saja manusia tak dapat 100% menjadi orang yang 'merdeka'. Tetap saja kita membutuhkan orang lain sebagai teman, partner, bahkan sebagai lawan sekalipun. Atau untuk saling melengkapi atas kekurangan yang ada pada diri masing-masing.

Akan datang masanya, kita merasakan kekosongan hati karena kesendirian. Saat melihat orang-orang di sekitar kita aktif bercengkerama, tertawa, dan bertukar cerita satu sama lain. Itu fitrah. Belum lagi, saat kita akhirnya tak mampu menyelesaikan suatu perkara atau tantangan dengan seorang diri. Apakah kita akan menikmati "kemerdekaan" yang kita maksud? Jawabannya, belum tentu. Karena kita membutuhkan mereka semua, orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Tapi, jangan khawatir kualitas "me time" akan berkurang. Hal tersebut masih bisa kita jaga asalkan dikomunikasikan dengan baik dengan mereka. Ada kalanya kita butuh waktu sendiri untuk bermuhasabah dan menyusun strategi-strategi kebaikan berikutnya. Di waktu-waktu itu juga, kita dapat merasakan keindahan berdialog dengan Sang Khaliq, mengutarakan apa yang dimaksud dalam hati dan mencari kunci jalan menggapainya.

Jadi, sejauh dan sekuat apapun kita mengelana seorang diri suatu saat akan menemukan lembah keterasingan dalam kesendirian dan titik dimana kita benar-benar merasakan keindahan kehadiran orang-orang di sekitar. Janganlah menutup diri, karena kita tak tahu jalan Allah memberikan kebaikan dari mana..