Senin, 18 Juli 2016

Jodoh dari Allah (part 1)

Siapa yang tahu?
Kita hanya diperintahkan oleh-Nya untuk berikhtiar sebaik mungkin, agar mendapatkan seperti yang dituliskan pada QS An-Nur ayat 26:
“… wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”
***************************************************************************************
Dalam suatu perjalanan yang ditempuh kurang lebih selama 3 jam, aku tak menemui seorang kawan yang duduk bersama. Dalam hatiku saat memasuki stasiun kereta, kemungkinan akan ramai karena sudah mendekati waktu ‘mudik’. Maklumlah, mereka bernasib sama seperti diriku yang mencoba menggantungkan kehidupan lahiriah-ku di perantauan. Sehingga momentum Hari Raya menjadi suatu yang dinantikan untuk dapat berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara.
Setelah melakukan proses check-in, saya mampir ke mushala untuk mengambil air wudhu. Maklumlah karena keberangkatan pada waktu sholat, jadi agar tak khawatir dan ribet harus mengambil wudhu di toilet kereta, pikirku. Tak berlama-lama, aku bergegas menuju peron kereta karena saat kulihat jam tangan sudah mendekati waktu keberangkatan.
Begitu memasuki kereta, amazing! Barang bawaan mereka sangat banyak, sedangkan aku hanya membawa ransel dan plastik titipan barang-barang lebaran untuk orang tua di rumah dari kakakku yang sempat dititipkan tadi sebelum keberangkatan. Karena belum terlihat tanda-tanda ada yang menduduki bangku di sebelahku, dengan santai ku tata barang bawaanku agar tak mendzolimi orang lain. Tak terasa, kereta pun perlahan meninggalkan peron pemberhentian. “Hmm.. nampaknya tak ada yang duduk di sebelahku”, gumamku dalam hati.
Sebelum akhirnya kereta menaikkan penumpang dari stasiun selanjutnya, aku bergegas melaksanakan shalat dzuhur. Sampai di stasiun selanjutnya, ternyata tak juga ada yang menduduki bangku sebelahku, akhirnya aku bergeser ke dekat jendela lalu membaca beberapa lembar ayat Al- Qur’an.
Perjalanan mengantarkanku melintasi beberapa kota dari Jakarta menuju Cirebon. Sungguh luar biasa dengan adanya transportasi memudahkan orang untuk berpindah dari suatu daerah ke daerah lain hanya dalam hitungan jam. Ketika sampai di Stasiun Haurgeulis (Indramayu), barulah aku terkaget karena ada seorang petugas pengamanan kereta api yang mengantarkan seorang Bapak-Bapak tua dan duduk di sampingku. Karena aku mulai lelah dan mengantuk (karena 2 malam terakhir istirahat yang kurang baik), akhirnya aku memilih untuk tidur.
Ketika terbangun, aku masih canggung untuk memulai pembicaraan. “Apa juga yang harus kubicarakan dengan Bapak Tua yang berpakaian ala ulama di sampingku ini. Salah-salah bisa-bisa aku diberi ceramah panjang lebar :-D”
Nampaknya, Bapak Tua di sampingku membaca gelagat ku dan Beliau memulai pembicaraan dengan menanyakan identitasku dan melontarkan ayat Al-Qur’an tentang perintah untuk saling mengenal sesama umat muslim (QS. Al-Hujurat: 13).
Percakapan antara kami berdua mulai meluas, hingga di satu titik menanyakan tentang tujuan perjalananku siang hari ini. Lalu aku katakan, “dalam rangka mudik lebaran”. Kemudian Pak MA (inisial aja yak), mengingatkan saya akan aturan bepergian bagi seorang muslimah yang di antaranya harus disertai dengan mahromnya. Sungguh, aku tak bisa bicara apa-apa. Dalam hatiku langsung “duk”, berasa ada yang nyangkut gitu. Apalagi dengan diberondong pertanyaan berikutnya seputar ‘jodoh’.
Bagiku, perkara jodoh bukanlah dia yang hanya sesuai dengan ekspektasi ku. Itu sudah aku kubur dalam-dalam begitu aku sadar bahwa jodoh juga berkenaan dengan ridho orang tua (karena di dalamnya pasti ada ridho-Nya). Maka ketika ditanya, “kenapa belum menikah sampai usia saat ini?”, ya dengan kesadaran hati aku jawab, “Aku bukan hanya mencari pasangan buat diriku, tapi juga seorang imam yang bertanggung jawab sepenuh hati atas diriku, anak bagi orang tuaku, ayah bagi anak-anakku kelak, adik bagi kakakku, dan kakak bagi adik-adikku. Dan aku masih berharap, dengan kehadirannya mampu membawa perubahan keluargaku yang lebih baik. Aamiin..”.
Seketika, Bapak tersebut mengucap hamdalah, karena saat ini masih menemukan sosok sepertiku. Di tengah maraknya beragam kenakalan remaja dan ke-egois-an anak-anak yang minta berjodoh dengan seorang yang dicintainya tanpa mengingat restu orang tua. Kemudian, diluar dugaan aku Beliau mendoakan agar kelak aku mendapatkan jodoh yang memang benar-benar Allah swt gariskan untukku (AAMIIN….)

to be continued

#train #mudik #IdulFitri1437H