Kamis, 02 Februari 2012

Akan Selalu Ada Senyum Dibalik Setiap Ujian

    Diawali dengan mentadaburi ayat berikut...
    “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)
Bahwasanya setiap manusia itu akan Allah beri ujian untuk meningkatkan derajatnya di hadapan-Nya. Barangsiapa yang ikhlas dan bersabar dalam menjalankan ujian tersebut, maka akan selalu ada banyak hikmah yang dapat diambil dibalik setiap ujian itu.
    Ini adalah suatu kisah yang dialami oleh seorang mahasiswi, yang dirinya divonis menderita suatu penyakit yang lumayan mencemaskan bagi kaum wanita, karena cukup berbahaya, KISTA. Ya.. itulah yang dikatakan seorang dokter yang memeriksanya setelah ia memeriksakan dan mengadukan keluhannya kepada sang dokter. Semua serasa suram, karena ini merupakan penyakit yang amat serius. Mungkin bagi sebagian wanita tak begitu mempedulikan siklus datang bulan di setiap bulannya. Tapi ini dapat menjadi suatu warning tersendiri jika terus menerus dibiarkan. Rasa nyeri setiap haidh, linu di bagian bawah perut seakan-akan ingin selalu buang air besar, dan keputihan yang tiada henti merupakan beberapa gejala penyakit ini.
    Yang terbayang olehnya saat itu ialah bagaiamana jika kelak ia tak dapat melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia?? Yang dapat memperbaiki kondisi bangsa ini kemudian. Karena penyakit inipun menyebebkan terjadinya kemandulan.
Berbahagialah wahai kaum "wanita", karena kepadamulah telah dipercayakan tugas mulia oleh Sang Maha Pencipta, bahwa dari rahimmu yang subur akan lahir putra-putri generasi penerus. Karenanya menjadi kewajiban, tidak hanya mendidiknya sekedar dengan limpahan materi dan benda-benda kebutuhan hidup semata. Namun yang terpenting adalah berkatilah mereka, putra-putrimu dengan akhlak baik, budi pekerti, iman dan ketakwaan.Sejak vonis itu, ia hanya bisa berdoa pada Allah agar dirinya senantiasa diberi kesabaran dan keikhlasan menjalani hari-harinya. Tetap bisa beraktivitas dan menyebarkan kebaikan seperti biasanya, tetap ceria dan daat menegarkan orang tuanya.
    Hari-harinya kini ia habiskan waktunya untuk menuntut ilmu, mengajar madrasah dan bimbel, aktif di organisasi dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Yang terlintas dalam fikirannya, jika kelak nanti ia tiada, setidaknya ia telah memberikan kesan tersendiri bagi orang-orang di sekitarnya. Ia berusaha membahagiakan orang-orang di sekitarnya agar hati ia pun merasa bahagia.
Hingga suatu saat, sang ibu menelepon anaknya. Karena sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya, mengajak anaknya untuk memeriksakan ke ahli kandungan. Dari peristiwa ini, ia begitu menyadari bahwa ibunya sangat mengkhawatirkan kondisi dirinya. Bagaimanapun juga perhatian dan kasih sayang seorang ibu itu tak akan pernah dapat tergantikan.
    Ketika libur tiba, mahasiswi ini memenuhi permintaan ibunya untuk pulang. Ketika sedang berdua saja, terjadilah suatu percakapan antara keduanya. “Nak, tahukah kau sebenarnya kista itu apa? Bagaimana cara pengobatannya?”, tanya sang ibu. Ya Rabb.. sungguh tak sanggup melihat wajahnya, guratan kecemasan sangat jelas terlihat di wajahnya. Mahasiswi itu hanya menjawab, “Untuk lebih pastinya nanti akan saya lihat di internet”.
Seketika itu pula ia buka web browser. Langsung mencari artikel atau keterangan terkait penyakit ini. Dan ternyata... “Ya Rabb, semua gejala yang saya rasakan adalah merupakan gejala kista”. Tak dapat dipungkiri kekhawatiran itu mulai merasuk pada benaknya. Hingga akhirnya ia menceritakan hasil browsingnya itu pada sang ibunda. Tak sampai hati sebenarnya. Dan ibu langsung mengajaknya untuk ke dokter kandungan.
Sore itu, mereka pun pergi ke dokter kandungan. Wajah cemas dan keringat dingin terus mengalir di tubuh mahasiswi itu. Namun ia harus tetap terlihat tegar, agar tidak menambah beban bagi ibunya. Saat itu sudah lumayan banyak pasien yang datang. Satu per satu dipanggil, hingga sampailah pada gilirannya untuk masuk ke ruangan dokter. Ia langsung di USG.
Dokter ahli kandungan itu menyatakan kondisi anaknya baik-baik saja, seketika ketegangan di wajah ibu hilang. Namun Beliau masih menanyakan kondisi anaknya pada sang dokter untuk lebih meyakinkan. Dokter tetap menyatakan bahwa tak ada sedikitpun penyakit di rahim anaknya. Ia dalam keadaan baik-baik saja.
    Senyum pun mulai mewarnai senja itu, tatkala mahasiswi itu mengetahui dirinya baik-baik saja dan sangat bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat perhatian dan sayang kepadanya. Ia tak ingin usianya sia-sia, ia juga akan berusaha menjadi seorang ibu yang terbaik bagi anak-anaknya kelak..
    Maka benarlah bahwa surga, sesungguhnya berada di bawah telapak kaki "ibu". Adakah gerangan, penghargaan dan kemuliaan yang diberikan kepada "ibu", melebihi dari pada ini semua?    Dan ketika Allah memberi hamba-Nya suatu ujian, itu merupakan bukti sayang-Nya pada kita. Allah telah mempersiapkan diri kita untuk naik level di hadapan-Nya. Jadi bersabarlah dan senantiasa ikhlas menjalaninya. Akan selalu ada episode-episode indah dalam hidup kita yang merupakan bagian dari skenario-Nya. Tetaplah tersenyum dalam setiap keadaan.