Jumat, 10 Februari 2012

My Metamorphose "from a Tomboi be a Jilbaber"

Jilbab.. kapankah saya pertama kali mengenakannya??
Jika ditanya akan hal ini, saya jadi teringat masa lalu yang ketika saya mengingatnya selalu saja membuat saya tersenyum sendiri. Kenapa?? Karena inilah metamorfosis hidup saya, yang hingga akhirnya menghantarkan saya menjadi seperti sekarang ini.
Kita semua tentulah mempunyai masa lalu masing-masing, ada yang memang masa lalu itu terasa sangat indah bahkan ada juga yang menyebutnya masa lalu kelam. Bagaimanapun kondisinya, itu merupakan sebuah perjalanan yang telah kita lalui dan baiknya kita ambil hikmah dari setiap masa-masa yang terlewati.
Saya mengenal jilbab sudah sedari kecil, sebelum masuk SD. Karena saat itu saya masuk TPA lebih dulu sebelum masuk SD. Mulai dari saat itu saya kemana-mana selalu mengenakan jilbab. Namanya juga masih anak-anak, jadi dalam berpakaian dan sebagainya masih ada keikutsertaan orang tua dalam mengaturnya. Tapi, setidaknya hal ini sudah saya biasakan dari kecil. Sayangnya, SD saya bukanlah SD islam, jadi muridnya tidak ada yang mengenakan jilbab. Alhasil saya pun tidak mengenakan jlbab di sekolah. Hal ini berlangsung hingga saya SMP.
Lagi-lagi, karena SMP yang saya masuki adalah SMP Negeri dan siswanya hanya diwajibkan berjilbab pada hari Jumat, saya pun melaksanakan sesuai peraturan. Dengan diizinkannya tidak berjilbab pada hari lain, apalagi di hari Senin karena kebetulan saya pun mengikuti ekstrakulikuler Paskibra, maka saya tidak mengenakan jilbab. Namun, suatu ketika saya dipanggil oleh seorang guru yang notabene paham terhadap agama. Kemudian saya diingatkan untuk segera menutup aurat saya, karena wanita itu adalah aurat dari ujung rambut hingga ujung jari kakinya. Setelah ditegur oleh guru itu, barulah saya mulai berjilbab di sekolah.
Entah, apa yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk terus-menerus mengenakan jilbab. Meskipun memang saat itu jilbab yang saya kenakan belum memenuhi kriteria jilbab syar’i yakni yang menjulur hingga ke bagian dada. Tapi, saya mulai merasa nyaman mengenakan jilbab. Hingga diakhir masa SMP saya memohon izin pada orang tua saya untuk mengenakan jilbab, meskipun itu di lingkungan rumah.
Memasuki masa SMA, rupanya pergaulan pun semakin beragam. Disini mulai aku melihat banyak kakak-kakak yang perempuan berkerudung panjang, yup apalagi kalau bukan pasukan Rohani Islamnya.. Bahkan saya melihat mereka mempunyai banyak teman, ramah, cantik, dan menebar rona kedamaian bagi lingkungan sekitarnya. Awalnya, saya tidak berniat mengikuti ekstrakulikuler apa pun di SMA ini, namun karena tuntutan sekolah bahwa siswanya wajib mengikuti satu ekstrakulikuler, saya pun akhirnya bergabung di dalamnya.
Eits.. tapi tidak langsung masuk gitu aja. Di awal, saya masih merasa tergiur untuk melanjutkan jejak ke-Paskibra-an saya. Apalagi tawaran menjadi Paskibraka Kabupaten bukanlah tawaran yang tidak menggiurkan. Sempat satu kali mengikuti latihan, namun karena saya sudah tidak minat mengikuti ekstrakulikuler saya pun memutuskan untuk ganti ekskul yang lebih ringan –yang penting masuk syarat kalau saya ikut ekstrakulikuler-
Terpilihlah ekstrakulikuler Rohani Islam.  Dari sinilah saya menemukan secercah sinar yang menghantarkan saya pada pemahaman Islam yang sebenarnya. Tergabunglah saya dalam kelompok mentoring yang rutin diadakan setiap hari Jumat. Teman-teman di sekitarnya yang memberikan inspirasi terkuat pada saya untuk memperbaiki cara berjilbab. Mereka ada yang berasal dari Islamic boarding school yang terkenal, ada yang istiqomah mengaji dari kecil bahkan menjadi guru MD setelah sekolahnya, dan banyak yang lain. Ditambah para pengisi mentoringnya adalah bukan orang yang sembarangan. Mereka berprestasi, ramah, sukses, mandiri dan sangat menginspiratif.
Dari sini, saya mulai mempunyai hobi baru yaitu mengoleksi berbagai model jilbab. Bahkan saya memang sengaja menabung untuk membeli jilbab-jilbab yang memang saya inginkan. Lambat laun saya semakin merasa nyaman mengenakannya. Namun, masih saja ada kekurangan dari saya, saya masih saja berpenampilan tomboi, karena masih saja mengenakan celana panjang jika berjilbab. Rasa malu adalah yang pertama kali malandasi hati saya untuk memulai mengenakan rok panjang. Kesan feminisme itu tak dapat saya hapuskan dari fikiran saya. Sangat berbeda dengan karakter saya yang ketika kerja membutuhkan gerak yang cepat, mengerjakan segala sesuatunya sendiri, termasuk mengangkat barang yang berat. Waahh pokoknya enggak banget deh kalau pakai rok. Tapi, rasa malu ketika berkumpul dengan teman-teman Rohis itulah yang menjadi awal bagi saya mengenakan rok. Sangatlah tidak nyaman..
Dan suasana paling amazing, ya ini... Ketika memasuki Institut Pertanian Bogor. Bukan satu atau dua orang yang mengenakan rok panjang ketika kuliah bahkan jilbabnya subhanallah terjuntai sangat panjang. Itu adalah cita-cita saya.. Saya ingin istiqomah dan berjilbab secara syar’i. Mereka cantik meskipun berjilbab, pandai bergaul dan pintar pula..
Akhirnya saya putuskan untuk benar-benar mengubah penampilan saya sekitar akhir semester pertama. Disaat teman saya mengingatkan bahwa seorang wanita yang baik adalah yang menutup auratnya dengan pakaian yang baik, pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Yakni menutupi seluruh bagian tubuhnya, tidak menampakkan lekuk tubuhnya, dan pokoknya seluruh tubuh tertutupi. Hmm.. Bismillah saya mengawali semua ini. Meskipun kekhawatiran akan tidak direstui orang tua tentulah ada. Namun, semangat untuk memperbaiki diri itu sangatlah menggebu-gebu.
Apalagi begitu mendapat motivasi bahwa “wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (QS. An Nur:26). Belum lagi mendengar bahwa wanita yang menutup aurat itu ibarat barang antik dan mahal harganya. Pasti ia akan dijual di tempat tertutup dan hanya dapat disentuh oleh kalangan tertentu yang sudah membelinya. Berbeda dengan wanita yang tidak tertutup auratnya, ia ibarat barang yang sudah terbuka dan dijual di tempat umum hingga setiap orang dapat memegang dan menawarnya semurah mungkin.
Banyak juga figur-figur berprestasi di kampus ini yang notabene mereka mereka adalah jilbabers. Tak ada hambatan sedikit pun dalam melaksanakan aktivitas ketika kita berjilbab. Bahkan menurut saya, orang yang baru akan berjilbab setelah dia mendapat hidayah dari Allah adalah orang-orang yang terlambat. Karena orang-orang tersebut tak akan dapat merasakan hidayah ketika tidak memulainya lebih dulu. Hidayah Allah tidak akan datang dengan sendirinya, hal itu harus dicari salah satunya adalah dengan bergabung bersama orang-orang shaleh.
Sungguh, tak ada sedikitpun penyesalan setelah memutuskan untuk berjilbab. Bahkan jilbab pula yang akhirnya membuka pintu rezeki bagi saya. Rezeki banyak memiliki teman, saudara, dan mengenal banyak orang...
Jilbab is my choice, because with jilbab I can do everything.. This is my Identity
:)