Senin, 27 Februari 2012

Sebuah Pesan dari Sahabat

Wah.. bermimpi punya sahabat pena???
Itu dulu..
Tapi sekarang... sudah beda zamannya..
Mempunyai seorang sahabat yang senantiasa selalu memberi semangat dan support, sangat luar biasa.. Ia selalu datang memberi semangat saat kita mengalami kefuturan dan memberi semangat disaat kita terjatuh, padahal di sisi lain saya tidak pernah bertemu dengannya, kenal wajah pun tidak. Tapi inilah kedahsyatan sebuah ukhuwah. Berawal dari jejaring sosial, hingga akhirnya terjalin ukhuwah yang tak berbatas ruang dan waktu.
Keindahan itu semakin terasa ketika kami sering bertukar salam dan saling memberi bingkisan kecil, meski itu hanya sebatas pesan singkat atau yang lebih populer dengan sebutan SMS. Hingga suatu pesan yang amat indah mampir ke dalam telepon genggam saya di suatu pagi. Sangat menyentuh sekaligus menjadi bahan renungan bagi diri saya, semoga bagi yang membaca tulisan ini dapat juga mengambil makna atau pelajaran bersama...

"Disaat hati kita tergoda untuk mengatakan tidak bisa, sesungguhnya faktanya selalu ada alasan untuk bisa. Kita selalu masih punya sesuatu. Dari apa yang kita punya, kita diminta untuk memberi. Dengan apa yang kita dapat, kita diminta berbuat. Lewat apa yang kita terima, kita diminta berkarya. Atas apa yang dikaruniakan, kita diperintahkan untuk mengabdi. Maka ada dimensi kalkulatif dalam hidup. Seberapa banyak modal yang Allah berikan dan seberapa banyak yang bisa kita lakukan..."

Hal ini sesuai juga dengan firman Allah pada surat Al Mulk ayat 2:
"...Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dia Maha Perkasa, Maha Bijksana"

Subhanallah.. Tak ada yang dapat saya sampaikan untuk membalas kata-kata indah itu.. Mungkin ucapan terima kasih atas pengingat dan motivasi untuk selalu berbuat baik yang kau kirimkan itu tak cukup mengimbanginya. Keikhlasanmu untuk senantiasa menyapa diri ini, meski kita tak pernah bertemu membuat saya semakin bercita-cita kita dapat dipertemukan kelak di surga-Nya.
Untukmu saudariku:
"Andai saja rindu harus diwujudkan dengan seringnya kita berinteraksi, mungkin sudah bisa ditebak bahwa ternyata aku tak merindukanmu. Andai saja kecintaan itu pembuktiannya harus dengan disampaikannya setiap hari sebelum mata terpejam dengan kata 'uhibbuki' maka mungkin sudah bisa ditebak bahwa ku tak mencintaimu. Namun, hal itu tidak demikian. Ukhuwah Islamiyah menjadikan kita orang yang saling mengerti. Mengerti keadaan masing-masing, mengerti disaat tak ada kabar, tak ada jawaban. Sekali lagi, karena ukhuwah ku harus mencintaimu sampai kapanpun semampuku, meski tak setiap hari pembuktian itu datang, tapi yakinlah... UHIBBUKIFILLAH..."

Teruntuk sahabatku nan jauh di sana, yang hingga saat ini belum pernah ku jumpai, juga untuk semua saudara-saudara dan sahabat-sahabatku yang senantiasa menjadi inspirasi dan motivasi bagiku..
Semoga kita bersua di surga...