Minggu, 29 September 2013

Merajut Sebuah Ukhuwah Lewat Jauhnya Perjalanan Bogor-Banten



Bismillahirrahmanirrahim..
Siang itu, setelah mengalami lelahnya pencarian kawan yang dapat menemani perjalanan aku memutuskan untuk mengarungi perjalanan silaturahim ini seorang diri. Dengan sangat menyesal karena tak banyak yang dapat turut dalam agenda luar biasa ini dan suasana hati yang penuh was-was karena harus menempuh perjalanan jauh seorang diri (padahal seorang akhwat), akhirnya perjalanan itu dimulai dari pukul 14.15-17.20 WIB.

Perjalanan yang semula lancar-lancar saja, begitu memasuki kawasan Jakarta rupanya agak sulit untuk menghindari yang namanya KEMACETAN. Yup.. hampir 1 jam sepertinya mobil bis yang saya naiki hanya berjalan maju sedikit demi sedikit. Nampak sekali bahwa Jakarta telah overload capacity untuk di bidang kependudukan. Bahkan seketika saya jadi teringat mata kuliah yang baru saja disampaikan sesaat sebelum keberangkatan ini. Yakni tentang luas tanah terbangun di Jakarta yang dulu hanya sekitar 30% dari luasan, kini sudah hampir seluas Jakarta itu yaaa lahan terbangun. Maka tak heran jika Jakarta semakin padat, semakin panas, semakin tak karuan. Karena mungkin ada ketimpangan sosial dengan daerah-daerah lainnya.

Dalam perjalanan ini, aku hanya ditemani oleh sebuah buku yang bisa dibilang KUNCI JITU tiap mau ngasih materi di acara-acara Keakhwatan, juga sebuah mushaf yang selalu aku bawa kemana-mana karena ukurannya yang kecil dan ringan.

Aku memang belum tahu lokasi pasti tujuan ku siang hari itu, aku hanya berbekal petunjuk arah yang diberikan oleh saudara-saudara seiman dan perjuanganku di seberang sana (yang kelak akan kutemui). Ya,, katanya aku diminta bilang ke kondektur bis nya untuk diturunkan di sebuah Kampus, yang bernama UNTIRTA.

Subhanallah.. Setelah menempuh perjalanan jauh, sekitar pukul 17.20 WIB aku mendarat di depan kampus peradaban ini. Masih terlihat banyak mahasiswa dengan aktivitasnya masing-masing. Aku pun segera mengabari saudara-saudara disini terkait kedatanganku. Seketika seorang akhwat mengendari sepeda motornya dari kejauhan memberikan sebuah senyuman hangat dalam menyambut kedatanganku. Dialah yang bernama Resti. Lalu membawaku langsung ke mesjid kampus untuk beristirahat sejenak, yakni Mesjid Baabussalam. Di sanalah terbangun sebuah percakapan hangat, sambutan, dan momen ta'aruf yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dari sini aku mengenal saudara-saudara yang lain yakni Kifah, Siti, Churir, dll (lupa satu-satunya, efek usia).

Adzan maghrib pun berkumandang, kami segera bergegas memenuhi panggilan Allah SWT. Dengan penuh ketawadhuan, kami rukuk dan sujud bersama. Tak pandang kaya miskin, tua muda, kalau namanya sudah shalat berjamaah semuanya sama. Jadi teringat suatu kalimat bahwa "kedudukan manusia di hadapan Tuhan sama, yang membedakan adalah keimanannya".

Ba'da isya barulah aku diantar ke rumah salah seorang akhwat untuk beristirahat ditemani oleh Kifah dan teman 1 kamarnya tuan rumah, yakni Titik. Malam itu, aku hanya berharap agar apa yang disampaikan oleh aku di acara tersebut adalah kebenaran yang datang dari-Nya.
Dinginnya pagi membangunkan aku dari lelapnya tidur malam ini. Seperti biasa, setelah berdoa, ku lihat jam. Ternyata sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Meski dingin, ku paksakan diri menuju kamar mandi untuk mengambil wudlu lalu tahajud. Aktivitas pagi ku lalui seperti biasanya hingga waktu menunjukkan pukul 8.15 barulah aku dinatar ke tempat acara berlangsung.

Subhanallah aku disandingkan dengan pemateri yang luar biasa.. Seorang juara World Muslimah (Teh Dika Restiani) dan seorang ibu kreatif; desainer baju muslimah "Qirani" yaitu ibu Devi. Mereka tentunya jauh lebih segalanya dari aku. Dari segi penampilan dan pengalaman, juga tentunya usia. Sempet minder sih, tapi bismillah... aku akan sampaikan apa yang menjadi kewajibanku dan sesuai dengan kapasitasku. Selama kurang lebih 1,5 jam disandingkan bersama mereka. Membahas tentang berjilbab syar'i namun tetap diterima di masyarakat, kami mendapat pertanyaan-pertanyaan luar biasa. Sayang, yang dapat menikmati itu semua hanya diriku dan orang-orang yang ada di situ. Padahal banyak pengalaman yang dapat diambil ketika teman-teman yang lain mengikutinya.

Betapa terkejut ketika di peghujung acara, mendapat banyak bingkisan dan buah tangan dari paniti. Sesungguhnya aku masih ingin berlama-lama disini. Karena ukhuwah seyogianya tidak dapat ditukar dengan materi atau bahkan dikalkulasi dengan angka-angka. Namun sayang, aku harus segera kembali ke kampus untu menunaikan amanah yang lain.

"Terima kasih atas ukhuwah yang terajut meski hanya dalam waktu 1 hari. Semoga Allah mencatatnya sebagai bekal perjuampaan di jannah-Nya kelak..."