Jumat, 16 Mei 2014

From Akhwat to Ummahat


Bismillahirrahmanirrahim..
Selama Nafas masih berhembus, maka kewajiban menuntut ilmu harus tertunaikan. Sengaja saya tak merubah judul materi yang saya dapatkan sore hari itu, karena ini bukan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Melainkan suatu kewajiban untuk diketahui, "katanya pada pengen buru-buru ^^ ?"

Ok let's start our topic..
Menikah, bukan merupakan ajang pelarian dari masalah apalagi jalan akhir dari penyelesaian seabrek masalah. Bisa jadi menikah merupakan pangkal masalah, awal bermulanya masalah baru.
But don't be scare ladies, because we will prepare it well.. Check this out :)
Pada hakikatnya, seorang muslimah memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam menyeru kebaikan. Hal inilah yang disebut peran da'i dalam diri muslimah. Peran ini tak akan pudar hanya dengan perubahan status seorang muslimah. Jika sebelum 'bersenyawa' ia merupakan sosok yang aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan atau organisasi kemahasiswaan dsb, maka setelah bersenyawa pun seorang muslimah harus dapat mengalokasikan waktunya untuk dapat berkontribusi dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan, dan bidang keahlian lainnya. Membangun rumah tangga pun merupakan salah satu bentuk dakwah muslimah. Supaya tidak melalaikan kewajiban dakwah tersebut, maka konsep masa depan rumah tangga harus sudah dipersiapkan sejak saat ini.

Rasulullah SAW bersabda:
"Wanita adalah tiang negara"
"Dunia dan seisinya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah"
"Salah seorang sahabat bertanya, siapakah yang harus saya hormati ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab"IBUMU", lalu siapa lagi? Rasulullah menjawab "IBUMU", lalu siapa lagi? Rasulullah menjawab "IBUMU", lalu siapa lagi "AYAHMU"

Subhanallah!
Betapa mulianya menjadi perempuan. Mempunyai tugas membangun peradaban, kalau ia termasuk wanita shalihah merupakan sebaik-baik perhiasan dunia, dan merupakan sosok yang dimuliakan sebelum memuliakan ayah Untuk dapat memperoleh predikat ini, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu adanya persiapan-persiapan, meliputi persiapan ilmu, persiapan mental, persiapan finansial, dan persiapan fisik.

1. PERSIAPAN ILMU
Kafa'ah (pemahaman) minimal yang harus dikuasai seorang muslimah sebelum akhirnya ia menggenapkan dien-nya adalah
a) Lancar membaca Al Qur'an dengan tajwidnya
b) Hafal minimal 2 juz Al Qur'an
c) Menguasai aqidah, fiqh, hadist, dan tafsir dasar
d) Menguasai bahasa Arab dasar
e) Memiliki Tsaqafah Islamiyah
Selain itu juga perlu didukung oleh kafa'ah keprofesian:
a) Guru
b) Dokter
c) Psikolog
d) Akuntan
e) Pengusaha, dll

Hal tersebut merupakan bekal bagi para muslimah agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar, minimalnya bagi keluarga kecilnya nanti. INGAT... Jodoh kita adalah cerminan diri kita (iman kita), so... kalau mau dapat yang ok, maka kita harus menjadi pribadi yang ok punya :)
Penting juga kiranya seorang muslimah untuk menguasai ilmu manajemen keluarga
a) kemampuan konsepsional: membuat visi dan misis keluarga
b) kemampuan ke-rumah tangga-an: memasak, menjahit, manata rumah
c) kemampuan komunikasi suami-isteri, ibu-anak
d) parenting skills: mengetahui tahapan perkembangan anak, dll

Softskill yang perlu dikuasai muslimah untuk dapat survive dalam kondisi terjepit atau kesulitan antara alain:
a) membuat kue
b) membuat pakaian
c) public speaking yang excellent
d) kemampuan bahasa asing yang baik
Semua itu merupakan softskill yang dapat mendatangkan income tambahan dalam berumah tangga.

2. PERSIAPAN MENTAL
Fase penentuan "kapan kita menikah" merupakan fase yang sangat crowded. Akan muncul berbagai pertanyaan seperti "sudah seberapa siap diri kita menjadi sosok yang dipimpin, bagaimana jika orang tua tidak menyukai calon pasangan kita, bagaiaman jika akhirnya ia datang lebih dulu sebelum saya mempersiapkan segala sesuatunya, bagaimana jika kita masih kuliah, bagaimana jika calon pasangan berusia lebih muda?" dan banyak pertanyaan lainnya yang akan muncul. Maka yang perlu dilakuan muslimah adalah
a) Luruskan niat, menikah merupakan sunnah Rasul bukan merupakan bentuk pelarian dari masalah atau sekadar mencari zona nyaman.
b) Memiliki mental siap untuk memimpin dan dipimpin
c) Memiliki mental untuk mengelola hati, toleransi terhadap berbagai perbedaan, dan saling menghormati
d) Siap menanggung beban dan memiliki mental BERJUANG
e) Mengelola konflik: suami, anak, mertua, dan tetangga

3. PERSIAPAN FINANSIAL
Kalau sebelumnya kita hanya berupaya untuk mencukupi kebutuhan pribadi, kelak setelah menikah kita harus bisa meringankan beban suami dalam mencari nafkah, memperhatikan dua kubu keluarga, dan saudara-saudara bahkan tetangga kita. Untuk itu, penting kiranya seorang muslimah mengembangkan softskill nya terutama yang dapat mendatangakan income. Jangan terlalu bergantung pada pemberian suami dan muslimah juga harus benar-benar bisa dan memiliki strategi khusus dalam mengelola keuangan rumah tangga.

4. PERSIAPAN FISIK
Pasca menikah, tentunya aktivitas seorang muslimah akan bertambah. Ia harus bisa membagi tenaganya untuk memasak, mengurus suami, menata rumah, beraktivitas sesuai profesinya dan bergaul dengan tetangga. Hal ini tentu menguras banyak tenaga, apalagi jika sudah hadir sosok buah hati di tengah keluarga. Mengawasi, mendidik, dan mendampingi anak merupakan aktivitas yang memerlukan tenaga ekstra.

Misalnya, saat pagi hari harus menyiapkan sarapan pagi untuk suami. Saat itu juga kita dikejar waktu agar bisa sampai di tempat kerja tepat waktu, tiba-tiba anak nangis...

Nah lho, harus bagaimana?
Jangan panik, kalau dari muda kita membiasakan diri untuk berolah raga ringan (tapi rutin) seperti lari pagi, push up, sit up, back up, dan kawan-kawannya maka kita tak akan mudah ellah dalam beraktivitas sehari-hari. Selain itu, olah raga sudah jelas melancarkan peredaran darah ke otak.
Sebelum menikah juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, melakukan perawatan seperlunya, dan menjaga asupan makanan.

Demikian beberapa persiapan yang harus muslimah lakukan sebelum akhirnya menentukan untuk 'bersenyawa'. Kalau kata salah seorang dosen, "Ketika masih berupa atom/unsur, ia akan lebih aktif dan menciptakan momentum besar ketika ada sebuah gaya yang diberikan. Namun apabila sudah bersenyawa, geraknya lebih terbatas"

Wallahu a'lam bishowab