Selasa, 03 Juni 2014

Bogor: Kota Sejuta Cerita, Beribu Impian (Bagian 1)

Tak terasa, hampir 4 tahun sudah diri ini menitipkan dan mengarungi kehidupan dalam euphoria dan hiruk-pikuk kota Bogor. Ya, mungkin ini adalah skenario terbaik yang Allah berikan. Berkat do'a dan dukungan dari orang-orang tersayang, akhirnya melalui jalan beasiswa ini saya mulai menapaki jalan panjang kehidupan di kota Bogor, tepatnya di Institut Pertanian Bogor dan sekitarnya.

Mimpi,
Semua orang boleh bermimpi. Dan ini salah satu mimpi liar yang waktu itu terus menggelayuti kelopak mata saya di akhir-akhir masa SMA. Rasanya begitu dekat, tepat di depan mata saya. Maka, sekuat tenaga pun saya coba untuk mewujudkannya. Sikap keras kepala dan melankolisku saat itu datang silih berganti. Ditentang orang tua, hanya bisa menitikkan air mata, kembali mencari dukungan kesan-kemari dan... ya, tak ada yang dapat menandingi kuasa-Mu ya Rabb.. Engkau mengirimku ke negeri dimana tak ada sanak saudara disini, tempat dimana semua nampak asing dan menyedihkan di awal-awal waktu. Tapi saya harus kuat, karena kini mimpi itu harus saya uraikan satu per satu menjadi sebuah kenyataan.

Bogor: Kota Sejuta Cerita
Bermula dari kehidupan asrama TPB IPB, disana saya dapat merasakan atmosfer nusantara dan persaingan sesungguhnya. Mereka adalah kawan senasib dengan saya, yang sedang mencoba keberuntungan di tengah kerasnya kehidupan IPB. Ada gurat rindu, nampak jelas pada wajah-wajah kami. Tapi, semua itu berubah kala akhir pekan tiba, ada gurat-gurat senyum bahkan canda terdengar dari sisi dinding atau bilah jendela. Ah.. begitu penuh perjuangan.
Di antara kami pun ada yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi organisatoris, ada juga yang murni jadi students, tak jarang pula yang hanya jadi cheersleader #lho?
Begitu masuk ke jurusan, ini berasa jungle yang sesungguhnya. Persaingan hebat terjadi disini. Menyaksikan berbagai rupa-rupa usaha yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk dapat bertahan di kampus pertanian ini mulai bermunculan. Mata lebam (efek kurang tidur), pergaulan yang berkotak-kotak, konflik antar geng, walk out of the class karena mengantuk atau bosan mendengarkan dosen *tapi jangan dicontoh yaa! Itu rupa-rupa kelakuan teman-teman dan saya (mungkin). Namanya bergulat dengan laporan, sudah menjadi hal yang lumrah, berebutan waktu tidur dengan deadline laporan, wajar begitu adanya. Tak jarang akhirnya hanya tidur dua jam karena harus googling dan menuliskan lembar demi lembar laporan praktikum, namun besok paginya harus sudah duduk manis di kelas dari pukul 7 pagi sampai pukul 5 sore (paling cepat).
Masa-masa jadi mahasiswa sesungguhnya adalah saat menjalani fase Kuliah Kerja Profesi (KKP). Disanalah kami belajar yang sesungguhnya, hidup bersama masyarakat, berinteraksi langsung dengan petani, koordinasi dan advokasi, mentransformasi materi-materi yang selama ini diperoleh di kelas dengan kondisi sebenarnya yang terjadi di masyarakat. Dan itu ternyata sulit! Posisi sebagai MAHAsiswa itu berasa berat banget pertanggungjawabannya. Seolah kami ada solusi dari semua permasalahan pertanian disana, ada juga yang memilih untuk tidak percaya pada kami karena kami hanya anak kemarin sore
yang gak paham kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Kurun waktu 2 bulan itu bagi saya merupakan masa yang panjang, namun tidak produktif  >.<
Memasuki masa-masa tugas akhir, mulai tampak geliat bingung, pusing, dan rupa-rupa ekspresi wajah lainnya lantaran gak berani ketemu dosen, semangat ketemu dosen cuma suka malas kalau ujung-ujungnya masih terus disuruh baca dan cari referensi tambahan, bingung menentukan topik penelitian dan metode yang dipakai, ada juga yang biasa-biasa aja menikmati masa-masa semester akhir bahkan ada juga yang melenggang kangkung karena semua hal yang berkenaan dengan penelitiannya sudah jelas terarah.
Kalau masa penelitian sudah selesai, tantangan terberat adalah menuliskan apa yang kita dapatkan dan mengaitkan dengan teori-teori 'canggih' hasil temuan atau studi sebelumnya. Kalau kata dosen, "S1 itu gak masalah kalau bukan merupakan temuan baru penelitiannya, yang penting ada nilai tambah dari skripsi yang ditulis dibanding skripsi sebelumnya". Tapi yang harus kita sadari disini adalah terdapat berbagai tipe dosen, dari yang perfectionist sampai yang cuek abis ^^v
#NgejarDeadline #NgejarTarget #NgejarDosen adalah kegiatan hari-hari..
Ke komdik departemen lagi, ngurus administrasi lagi, daaann.. itu semua hanyalah awalan sebelum kamu memasuki dunia yang sesungguhnya. Ada beban moral tersendiri rasanya, ketika kelak menyandang gelar Sarjana Pertanian (karena kalau kata dosen kan "Kamu lulus sebagai sarjana pertanian, dan orang gak mau tahu meski kamu sebenarnya cuma mendalami salah satu atau salah dua dari komponen pertanian tersebut)". Saat menulis ini, saya jadi teringat kata-kata mujarab berikut.
"Bicara pertanian, berarti bicara hidup matinya seseorang" (Beuh.. berat bro..)

Selain itu juga pasti ada tuntutan lebih dari keluarga, khususnya orang tua saat kita sudah menyandang gelar sarjana. Itu mutlak kayaknya.
Kini, fase yang ada di zona nyaman itu akan segera berakhir (Aamiin). Menyandang status sebagai mahasiswa memang status paling mujarab, paling menyenangkan, dimana kami dapat melewati hari-hari dengan penuh diskon buku-buku khusus, dapat bereksperimen, berargumen, atau ngamen sekalipun *LOL, bisa kumpul-kumpul sama temen, nonton dan hangout, berorganisasi, dapat beasiswa plus uang saku dari orang tua (meski udah 20 tahun usianya rata-rata), dan banyak deh kenikmatan jadi mahasiswa.

Tapi.. semua itu harus diakhiri karena ada tantangan zaman yang harus segera dijawab.