Rabu, 17 September 2014

Touch Me With Your Heart

Bismillahirrahmanirrahim.
Setelah sekian lama vakum guna mengurus beberapa aktivitas saya, kini saya ingin coba sedikit menyentil soal fenomena yang mungkin dapat dikatakan setiap hari saya hadapi. Tanpa bermaksud menjadikan ini sebagai kritikan, hanya saja jika ada hal yang bermanfaat silakan untuk diambil hikmahnya.

Perubahan suatu sistem kerap kali mendapat pro dan kontra dari berbagai kalangan. Terutama yang mungkin muncul beberapa bulan yang lalu adalah perihal kurikulum pendidikan di Indonesia, ada juga yang sedang "in" banget yaitu perubahan tata cara pilkada yang katanya sampai membuat salah satu tokoh politik membelot dari "payung"yang selaama ini membesarkan namanya. Oke, tapi disini kita coba untuk fokus ke sistem kurikulum di Indonesia..

Rasanya tak kurang dari 10 tahun sistem pendidikan di aindonesia mengalami beberapa kali pergantian sistem. Saya merasakan menjadi "kelinci percobaan", dimana sempat dalam masa sekolah saya mengalami 2 kali ganti kurikulum (semoga tidak salah). Dulu, saya mulai sekolah dengan mengenal kurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), tak lama setelah itu ganti lagi menjadi KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), terus katanya berganti lagi jadu kurikulum 2010 dan sampailah paa periode ini yang namanya sistem KURTILAS (Kurikulum 2013).

Pada dasarnya, sistem kurikulum yang digunakan dalam bentuk apapun, tugas seorang guru tetap sama, bukan sekadar mengajar tapi juga mendidik. Tugas mendidik inilah yang sebenarnya jauh lebih berat dibanding mengajar. Karena di bangku sekolah lah, satu-satunya anak-anak bisa menerima pendidikan secara formal. Disanalah terjadi proses pembentukan karakter diri, selain di lingkungan tempat tinggalnya.

Namun sayangnya, ada beberapa orang tua yang mempercayakan 100% tugas pembentukan karakter anak-anaknya hanya di bangku sekolah. Padahal jika dihitung, waktu yang dihabiskan di sekolah pun tak lebih banyak dengan aktivitas mereka di luar sekolah, terutama di luar.

Katanya, di sistem kurikukum 2013 ini, pendidikan lebih dititikberatkan pada pendidikan berbasis karakter. Siswa dituntut untuk dapat mencari lebih banyak dan belajar dari kehidupan sehari-hari (apapun sumbernya), siswa harus dapat menemukan permasalahan dan menjawab tantangan persoalan tersebut dengan cara diskusi dan menampilkan gagasannya di depan khalayak, berkomunikasi dengan baik (dengan teman ataupun tim pengajar dan khususnya orang tua), serta mampu menggunakan fasilitas internet dengan bijak. Peran guru disini hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Ya.. sayangnya belum semua pihak siap untuk merealisasikannya.

Ketimpangan sosial tak jarang dijumpai di berbagai sekolah, ada dari sisi guru nya yang memang sudah cukup "alot" untuk menerima sistem baru, atau membutuhkan berbagai pelatihan guna memantapkan aplikasi di sekolah, ada juga yang muridnya belum siap dikarenakan latar belakang mereka tidak semuanya sama. Ada juga faktor kondisi sosial-geografis sekolah sehingga realisasi dari sistem kurikulum tidak merata.

Anak-anak merupakan aset bangsa, sehingga sudah seharusnya pendidikan menjadi satu poin penting untuk dapat mendukung anak-anak tersebut menjadi aset bangsa yang berharga. Usia-usia sekolah (khususnya usia SMP-SMA), tergolong usia cukup rawan. Karena di usia itu anak-anak mulai tumbuh, mencari jati diri dan juga sangat mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitar. Kenakalan-kenakalan yang mereka lakukan mungkin itu tergolong wajar (selagi tidak sampai membahayakan/melecehkan/menghilangkan nyawa seseorang). Namun, kenakalan remaja tersebut perlu mendapat penanganan yang tepat agar tidak berkelanjutan. Penanaman nilai-nilai yang baik, pendekatan dari hati ke hati, perhatian orang-orang di sekitar, bekal agama yang cukup, rasanya itulah treatment yang lebih tepat dibanding hukuman fisik yang kadang tak juga menimbulkan efek jera. Kesuksesan pembentukan karakter pun tak sepenuhnya dapat dilakukan oleh salah satu pihak (misal oleh guru saja). Karena tak jarang juga, anak-anak bertingkah laku kurang ajar dilandasi oleh minimnya perhatian keluarga (orang tua khususnya menyerahkan sepenuhnya mendidik anak pada guru di sekolah), sikap dan perilaku teman dekatnya (karena beberapa kasus ditemukan indikasi bahwa siswa memiliki kepribadian ganda, maksudnya kalau di sekolah nakalnya luar biasa namun di rumah ia bak anak baik yang menjadi idaman kedua orang tuanya), bisa juga memang karena kondisi internal diri anaknya sendiri yang mulai merasa jenuh dengan kehidupan yang "normal-normal" saja.

Kenakalan tersebut apabila tidak segera ditangani akan berdampak luas. Terutama berdampak buruk bagi pelakunya sendiri. Rendahnya kepekaan terhadap sesama, minimnya sopan santun, rendahnya semangat belajar, rendahya mental juara, dan masih banyak efek negatif lainnya yang akan terjadi bagi diri siswa. Maka untuk meminimalisir hal ini terjadi, dekatilah mereka dengan hati, sentuhlah sisi paling sensitif dari mereka, jangan lupa untuk terus mendoakan mereka di setiap shalat kita. Mudah-mudahan ilmu, tenaga, waktu yang telah guru-guru korbankan menjadi pemberat amal di yaumil akhir nanti..
Aamiin..