Minggu, 30 November 2014

INGIN DIKENAL DAN DIKENANG SEPERTI APA DIRI KITA?


Tulisan ini sepertinya akan sedikit menggelitik jika dilihat dari judulnya. Berawal dari aktivitas selingan di kantor kala waktu senggang datang, tapi bukan berarti saya ‘gabut’ di tempat kerja. Waktu itu saya coba mengikuti beberapa rekan saya yang suka iseng-iseng googling dengan keyword nama lengkap beberapa rekan di kantor. Saya pun meng-input nama saya saya di mesin pencari tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan diri saya sendiri.

Hampir muncul beberapa halaman dari hasil pencarian tersebut, dari mulai media sosial yang saya miliki, tulisan-tulisan yang pernah saya buat dan terpublikasi di beberapa media, serta beberapa tulisan orang lain yang menggambarkan tentang diri saya. Subhanallah.. saya haru dan sangat tidak menyangka kalau ternyata beberapa kali agenda silaturrahim yang saya coba jalankan memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang dikunjungi. Bersama mereka lah aku mencoba menjadi lebih bijaksana dan dewasa. Menjadi sosok yang lebih banyak mendengar, berbagi, dan peduli. Ya, dari merekalah saya belajar tentang dinamisasi kehidupan, khususnya dakwah kemuslimahan di kampus maupun di tataran nasional.

Kemudian, muncul dalam fikiranku statement yang cukup menggelitik “Ingin dikenal dan dikenang seperti apa diri kita?” Pertanyaan sekaligus statement tersebut hanya kita yang bisa menjawab. Ya, kita menjawabnya melalui amal dan ibadah kita sehari-hari. Keseimbangan antara hubungan kita dengan Sang Khaliq serta hubungan kita dengan manusia harus kita desain. Kadang, kita lupa membina hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar padahal disana banyak terdapat ladang yang harus kita garap dan kembangkan. “Sibuk memperbaiki diri dan hubungan dengan Allah SWT”, “takut dibilang sombong atau sok tahu” itulah beberapa judging yang kita coba ciptakan sendiri tanpa mencoba memberi kontribusi secara nyata. Sehingga berdampak pada keterbatasan aktualisasi diri dan realisasi amal. Padahal, lakukan saja yang terbaik yang kita bisa, terkait kebermanfaatan kita serahkan kepada mereka yang kita ajak berinteraksi.

Memang tak jarang kita jumpai kegagalan dalam membina hubungan masyarakat, Rasulullah SAW pun demikian. Jika Rasulullah SAW yang ujiannya lebih berat dari yang kita jumpai saja bisa melalui rintangan tersebut, mengapa kita tidak? Sebaik-baik cara mengajak kepada kebaikan adalah dengan teladan (TQS An-Nahl:125).
            
Tak lama beberapa hari setelah itu, saya mendapat kabar duka yang terjadi pada salah seorang pejuang Sekolah Guru Indonesia. Beliau mengakhiri masa baktinya di daerah penempatan dengan (insya Allah) husnul khatimah. Beliau adalah Jamila Sampara. Sosok sarjana pendidikan yang rela mengabdikan dirinya di daerah Pandeglang yang notabene sangat jauh dari kampung halamannya demi meningkatkan kualitas pendidikan disana. Hari itu bisa dikatakan hari-hari terakhir masa pengabdian almarhumah. Tak banyak memang yang saya ketahui tentang almarhumah selain dari beberapa narasumber yang menceritakan hal tersebut kepada saya. Namun, saya dapat menebak bahwa beliau adalah sosok yang sangat baik dan dirindukan kehadirannya di tengah-tengah warga daerah pengabdiannya dan juga di lingkungan kami bekerja.

Mungkin demikian cara Allah SWT memberikan pelajaran kepada hamba-Nya untuk dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Dari kejadian itu saya teringat aktivitas selingan saya waktu beberapa hari sebelumnya. Bahwa ternyata benar, dalam kehidupan di dunia ini kita sedang memainkan peran dan mengukir kisah untuk membuat sejarah seperti apa diri kita dikenal dan dikenang orang lain.

Mengapa sosok baik seperti Alm. Jamila begitu cepat meninggalkan dunia ini, mungkin jika ia diberikan kesempatan yang lebih berada di dunia ini, akan semakin banyak prestasi yang beliau torehkan, manfaat yang ia tebarkan, serta kenyaman bagi orang-orang id sekitarnya. Tapi begitulah cara Allah SWT menyayanginya, di akhir masa bakti tersebut beliau sudah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik dari mulai membuat tulisan (jurnal yang merupakan penugasan bagi para pejuang SGI), administrasi, bahkan beliau sempat merencanakan acara perpisahan dengan murid-muridnya. Namun, Engkau berkehendak lain dengan menyuguhkan agenda perpisahan yang jauh dari bayangan kami sebelumnya. Perpisahan selama-lamanya dengan sosok mulia tersebut. Tak terasa air mata inipun menetes saat melihat foto yang menunjukkan beberapa kado yang ditujukan pada beliau namun belum sempat dibuka. Itulah bukti cinta dari orang-orang di sekitarnya terhadap beliau, mungkin kehadirannya bak air mineral yang menghilangkan rasa dahaga. Kepergiannya begitu mengejutkan bagi kami, namun setidaknya beliau telah dikenal dan dikenang sebagai sosok yang baik di dunia ini.

Teringat saya pada suatu statement yang menyatakan bahwa: “seorang syuhada hanya boleh menorehkan 2 hal, warna merah karena darah dan hitam karena tinta”. Saya tak pernah tahu akan seperti apa saya dikenal dan dikenang kelak oleh orang-orang di sekitar saya, tapi semoga tulisan ini memudahkan orang-orang di sekitar saya mengenali saya. Kebermanfaatan tulisan ini saya serahkan kepada pembaca seutuhnya.

Selamat jalan saudaraku, senang bisa mengenalmu meski hanya dari kisah orang-orang yang menyayangimu...