Jumat, 04 Maret 2016

Sudut Penantian

“Kita tak kuasa memilih, akan dengan siapa kelak mengakhiri penantian ini. Tapi kita bisa mengupayakan untuk mengakhiri penantian ini dengan cara yang baik”
Aku masih setia menantimu di sudut ruangan khayalku. Membayangkanmu lewat celah jendela imajiku. Melempar senyum padamu, saat engkau menari di tengah derasnya hujan di luar sana. Aahh.. sayangnya itu hanya ada dalam imajiku. Tapi aku yakin, bukan hanya aku yang mulai resah dengan kondisi seperti saat ini. Aku bukan tak mampu untuk mengambil keputusan, atau bahkan tak yakin dengan apa yang kumiliki saat ini.
Kadang memang keinginan tak selalu harus terwujud sesuai dengan harapan. Adakalanya kita harus bersabar, untuk menyempurnakan beberapa keping puzzle yang terserak di bumi Allah ini. Kadang kita harus berpikir untuk menelisik misteri teka-teki Sang Illahi. Tapi satu hal yang aku yakini sampai detik ini, bahwa skenario-Nya selalu lebih indah dari apa yang kita rencanakan.
Aku sepakat dengan sebagian orang, bahwa menunggu adalah hal yang paling tidak mengenakkan. Tak ada yang suka, apalagi dalam sebuah ketidakpastian. Tapi aku memilih untuk mengurai ketidakpastian itu menjadi sebuah keniscayaan, dengan cara menikmati setiap detik yang Allah berikan padaku untuk terus memperbaiki diri.
Berpetualang ke belahan bumi Allah yang belum sempat dikunjungi, mendalami ilmu Allah yang maha luas, memprioritaskan keluarga di atas segalanya, serta menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, itulah jalan yang aku pilih untuk mengisi masa-masa penantian itu. Karena aku yakin, ketika aku berusaha untuk memperbaiki diri dalam penantian ini, kamu pun di sana sedang melakukan hal yang sama.

Seketika, aku tersadar dari lamunan. Masih ditemani rintik hujan, suara adzan maghrib, dan kesendirian..