Jumat, 22 April 2016

24 Bersemi (BERharap SEgala iMpian Indah *pada waktunya*)

Membuka mata pertama kalinya di hari ini, ternyata sudah ada yang menyisipkan doa nya tepat di pukul 00:00 WIB. Terima kasih atas nikmat ukhuwah yang telah Engkau berikan kepada saya hingga detik ini. Inikah berkah robithoh yang selalu terpanjatkan antara saya dan adik-adik binaan saya? Selepas membaca dan membalas ucapan tersebut, saya kembali melanjutkan tidur saya karena jam masih menunjukkan sekitar pukul 02:30 WIB.
Menjelang Subuh, saya kembali terjaga. Bersyukur saya masih diberi kesempatan menikmati indahnya alunan adzan Subuh. Sayang, hari ini saya tak bisa bermunajat padamu dalam sujud panjangku. Bagiku, hari ini bukanlah hari yang istimewa apabila syukurku terhenti dan tanpa adanya do'a-do'a dari orang terkasih (keluarga). Bapak dan Ibu tak pernah lupa akan hari ini, ucapan itu selayaknya lebih layak disandingkan untuk perjuangan kalian. Perjuangan penuh makna dan keikhlasan, tak pernah memperhitungkan tenaga, waktu, dan pikiran. Yang telah sabar menjaga dan mendidik saya sampai usia 24 tahun. Tak banyak yang saya dedikasikan kepada mereka, bahkan di detik-detik seperti ini pun saya masih merepotkan mereka. Dibilangnya saja saya sudah berpenghasilan, namun nyatanya sejauh ini semua itu (mungkin) hanya saya nikmati seorang diri. Tapi, sedikitpun tak pernah saya lihat mereka mengeluhkan itu di hadapan saya. Semoga keberkahan dan rahmat Allah mengiringi langkah Ibu dan Bapak.
Selanjutnya, satu per satu rekan-rekan terdekat mengirimkan ucapan selamat, doa, dan nasihat. Saya bahagia dan haru, menemukan kalian semua di dunia perantauan. Kalian bukan cuma sekadar teman, tapi juga keluarga bagi saya di kota perjuangan ini. Memasuki usia saya saat ini, banyak sekali kejutan kehangatan yang Engkau hadirkan di tengah-tengah saya. Mereka, mungkin belum terlalu mengenal jauh pribadi saya yang seperti apa tapi mau menerima kehadiran saya dalam hidupnya. Terima kasih, terima kasih atas kehangatan dan kelembutan yang kalian berikan.
Tak ada yang patut saya keluhkan, karena Tuhan telah menjamin segalanya sampai detik ini. Tinggal bagaimana saya mampu menghadirkan rasa qana'ah, mengelola setiap jengkal langkah yang saya lewati agar menjadi sebuah nilai pengetahuan, pengalaman, dan hikmah yang kemudian harus saya teruskan kepada orang-orang di sekitar saya, agar mereka pun merasakan keberkahan dari keberadaan saya.

Mengenai resolusi?
Saya tak mau menyebutnya ini sebuah resolusi, saya lebih memilih menyebutkan sebagai proyeksi kebaikan yang akan saya ukir di usia saat ini.
Secara sadar, perlahan namun pasti saya harus dewasa dan bijak dalam meninggalkan zona kenyamanan. Ya, kampus bagi saya merupakan zona nyaman untuk berakselerasi. Tapi, sudah saatnya kita untuk tumbuh dan mewarnai dunia luar sana. Dalam hitungan hari ke depan, saya harus siap dengan suasana dan kawan-kawan baru. Menemui dan membentuk lingkaran-lingkaran baru di luar sana. Karena dakwah merupakan sebuah keniscayaan yang mengubah dari sesuatu yang belum baik menjadi kebaikan.
Untuk mencapai tahapan selanjutnya, saya pun harus memberanikan diri mengambil resiko dari keputusan yang telah saya ambil dan jalani sejauh ini. Saya harus siap memasuki gerbang kehidupan yang selanjutnya. Semoga Allah ridho dan membukakan kemudahan-kemudahan jalan menuju kesana. Semoga itu tercapai di tahun ini.
Melanjutkan dakwah dengan diperkuat oleh organ-organ lainnya, memperdalam ilmu agama lebih serius lagi, agar kelak mampu mencetak generasi-generasi cerdas yang berakhlaq islami berwawasan luar negeri. (Aamiin)